Hampir 4 Jam Diinterogasi Polisi Gara Gara Sepeda Ontel Buntut

Hahaha….Kalau ingat cerita ini saya jadi geli ketawa sendiri. Cerita ini perpaduan antara apes bin sial dengan tolol bin globlol, jadinya lengkap banget. Kejadiannya sudah sangat lama, saat saya masih research student jadi sekitar tahun 2005, tapi meskipun sudah lama banget masih saja terngiang dalam memori saya. Bagaimana tidak, gara gara pinjem sepeda buntut dari seorang teman, saya diinterogasi habis habisan oleh polisi selama hampir 4 jam. Haduuuuuh…..Jepang oh Jepang ^_^

Pos Polisi atau Koban di Jepang

Ceritanya begini, suatu hari kalau gak salah pas hari minggu, tiba tiba saya dapat telepon dari teman saya. Dulunya dia satu apartement dengan saya. Saya pikir tumben nih orang, telepon segala. Ternyata dia ngajak saya buat makan di restoran India di pusat kota. Kalau tempat tinggal saya memang rada jauh dari pusat kota, naik sepeda perlu sekitar 20 menit. Saya balik tanya ke dia, perginya naik apa? Aku gak ada sepeda. Kebetulan memang saya gak punya sepeda. Sudah 1 tahunan naik gentsuki atau motor kecil 50 cc. Sepeda saya yang setia menemani saya sudah masuk masa pensiun karena rusak. Kalau mau benerin perlu duit lagi, jadinya males saya biarin gitu saja di parkiran apartemen.

Karena gak punya sepeda, saya jawab mau nyari pinjeman sepeda dulu. Kalau misalnya dapat sepeda pinjeman saya mau pergi makan bareng, kalau gak ya gak jadi pergi. Setelah nyari sana sini akhirnya dapat pinjeman ke teman. Sebelum pindah ke apartemen yang saya huni saat itu, saya pernah numpang di apartemen yang punya sepeda ini sekitar 3-4 bulan.  Segera saya bergegas pergi buat pinjem sepeda.

Sampai apartemen temen, saya sempatin ngobrol dulu karena cukup lama gak ketemu. Saya juga nanya tentang kepemilikan sepeda ontel ini karena takut nantinya ditangkap polisi jika sepeda itu bermasalah. Temen saya ini jawab, kalau dia dapat sepeda ini dari pihak kantor asrama mahasiswa. Ceritanya ada inventaris sepeda yan gak dipakai di asrama, terus diasihkan ke teman saya ini. Jadi intinya bukan beli sendiri tapi juga bukan nyuri dari orang lain tapi didapat dari pihak pengelola asrama mahasiswa. Sip kalau gitu….saya pikir gak akan ada masalah karena yang ngasih pihak pengelola asrama mahasiswa. Masak sih pihak pengelola asrama mahasiswa ngasih sepeda curian. Gak mungkin itu….begitu pikiran saya saat itu.

Patroli Polisi Pakai Sepeda di Jepang

Dengan semangat 45 segera saya genjot sepeda buntut warisan leluhur sambil ngobrol ngalor ngidul dengan teman saya ini. Wah asyik juga kalau minggu minggu  naik sepeda menikmati suasana Jepang, bisa ngilangin stres juga, begitu pikiran saya saat itu. Sampai tempat yang dituju ternyata tutup. Gak tau kenapa pokoknya tutup gak ada aktivitas sama sekali. Karena tutup, kami sepakat jalan jalan keliling kota saja, siapa tahu nanti ketemu restoran yang lain. Ya sudah…kami naik sepeda masuk melewati jalan jalan kecil di tengah kota. Sampai dipusat kota, tepatnya didepan shiyakusho atau kantor walikota tiba tiba saja ada sepeda yang berada di samping kiri saya. Setelah saya lihat ternyata dia polisi. Saya berfikir, wah gak bisa berkutik nih. Dengan bahasa yang sopan dia minta ijin untuk mengecek sepeda saya. Saya jawab silahkan saja karena saya yakin dan percaya diri gak akan ada masalah. Saat itu jam menunjuk sekitar 16.30 waktu Jepang.

Setelah dicek, dia nanya ini sepeda siapa? Saya jawab sepeda teman saya. Tanpa nanya apa apa lagi, polisi tadi langsung ngajak saya ke kantor polisi terdekat. Sepeda saya saya naiki dengan kawalan polisi disamping saya. Teman saya juga ikut ke kantor polisi meskipun dia tidak boleh masuk, dia duduk diluar kantor polisi menunggu saya. Sampai dikantor polisi drama interogasi dimulai, dari identitas diri atau KTP Jepang, kartu pelajar sampai tentang kepemilikan sepeda. Polisi mengulang ulang pertanyaan yang sama yaitu sepeda itu milik siapa?  Saya tetap bersikukuh bahwa sepeda itu saya pinjam dari teman saya. Polisi tetap gak percaya, pertanyaan diputar putar meskipun isinya sama yaitu sepeda itu milik siapa.

Mobil Patroli Polisi di Jepang

Dengan maksud agar cepat selesai urusannya, saya berinisiatif memberi nomer telepon teman pemilik sepeda tersebut. Saya bilang ke polisi tersebut, ini nomer telepon pemilik sepeda ini, silahkan ditelepon. Tapi polisi tidak mau menelepon dengan tetap mengarahkan semua pertanyaan kepada saya. Saat itu ada 4 polisi yang sedang standbye di kantor tersebut. Mereka gantian satu per satu menginterogasi saya, tapi satu hal yang bikin saya pusing. Pertanyaannya sama jadi saya harus berulang ulang menjelaskan tentang kepemilikan sepeda tersebut. Haduh….saya pikir apes sekali hari ini. Mau makan masakan India kok malah berujung interogasi berbelit belit di kantor polisi gara gara sepeda buntut pinjaman.

Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 20.00, saya sudah nyerah pusing mau ngomong apalagi. Pertanyaan para polisi itu semuanya sama, muter muter bikin bingung mau jawab apa. Kepala saya senut senut, merah dan terasa panas sekali. Sial banget hari ini hehehe pikir saya saat itu. Mungkin karena sudah capek dan jawaban yang diperoleh juga sama, mereka mulai bertanya soal kuliah saya sampai saya ditanya tahu tidak nomer telepon sensei atau profesor pembimbing saya? Wah mati saya, kok sampai pingin tahu nomer telepon sensei saya segala nih. Pikiran saya kalau sampai sensei tahu habislah saya. Jadinya saya berinisiatif bohong menjawab tidak tahu. Saya bilang kalau nama sensei tahu tapi nomer teleponnya tidak tahu.

Karena saya jawab tidak tahu, akhirnya pertanyaan diarahkan ke sekolah bahasa tempat saya belajar bahasa dulu. Saya jawab nama sekolahnya A gitu. Rupanya polisi ini sudah tahu nomer telepon sekolah bahasa dulu. Saya pikir, matilah saya bakal diomelin habis habisan sama sensei sekolah bahasa. Tapi saya kira masih mending, soalnya saya sudah lulus dari sekolah bahasa tersebut, jadi boleh dikatakan resikonya lebih kecil daripada ketahuan dan diomelin sama sensei di tempat research student.

Kantor Polisi di Jepang

Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya utusan dari pihak sekolah bahasa datang. Ternyata bukan sensei yang ngajar di kelas tapi sensei pemilik sekolah bahasa yang datang sendiri. Sensei nanya ke saya itu sepeda milik siapa? Saya jawab milik teman sensei, bukan milik saya. Saya cuman pinjam saja. Biasanya saya pakai sepeda motor. Setelah itu sensei ngobrol sama polisi sekitar 15 menit. Selesai ngobrol sensei itu datang lagi dan ngomelin saya pakai bahasa Jepang begini ‘omae jibun de kae yo’ artinya ‘lu beli sendiri sanalah’. Haduh….kepala makin senut senut. saya jawab iya sensei, maaf besok saya beli sendiri. Setelah itu saya disuruh pulang hehehe. Yah meskipun diomelin sama sensei tapi saya tetap berterimakasih karena dia yang menjamin saya sehingga bisa keluar dari kantor polisi. Jam saat itu menunjuk hampir 21.00 artinya saya hampir 4 jam diinterogasi polisi gara gara sepeda buntut warisan nenek moyang hehehe….haduuuuuh.

Keluar kantor polisi langsung saya telepon yang punya sepeda tentang kejadian ini, dia sendiri juga kaget kok bisa ya. Padahal dia minta sepeda itu dari pihak asrama mahasiswa. Saya minta maaf sepedanya disita polisi. Saya juga bilang kalau tadi ngasih tahu nomer telepon yang punya sepeda, jadi mungkin lain hari akan ada telepon dari polisi. Teman saya jawab, oke biar nanti dia sendiri yang menjelaskan. Tapi ditunggu tunggu sampai beberapa hari tidak ada telepon dari polisi.

Sejak saat itu saya benar benar kapok dengan yang namanya pinjam sepeda di Jepang. Lebih baik jalan kaki atau naik bis dari pada pinjam sepeda. Saya takut pengalaman buruk pinjam sepeda dari teman itu terulang lagi. Pesen saya hati hati soal sepeda ontel di Jepang. Jangan sembarangan pinjam sepeda karena bisa bisa berakhir di kantor polisi seperti saya.

Salam hangat dari Aichi, Jepang