Main Ke Aichi Dan Pingin Makan Masakan Indonesia? Datang Saja Ke Bali Paradise

Kerinduan akan cita rasa makanan tanah air pasti dialami oleh orang orang yang merantau ke negeri orang. Apalagi jika rasa makanan di negara yang kita tinggali sangat berbeda atau kita cenderung merasa tidak cocok dengan makanan tersebut. Selain soal rasa, sebagai muslim yang tinggal di Jepang, persoalan makanan kadang kadang juga cukup membuat  pusing.  Masakan Jepang sebagian besar (prosentase jelasnya saya tidak tahu) mengandung sake juga babi. Dengan adanya unsur atau ekstra dari dua benda ini, dari segi hukum Islam tentu sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Kembali ke soal kangen pada masakan Indonesia, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengobati kerinduan akan masakan Indonesia.  Misalnya saja ketika kita akan mudik ke Indonesia, kita siapkan list makanan yang akan kita makan. List ini akan mengurangi kemungkinan kita lupa karena kesibukan ditengah sempitnya waktu.  Bisa juga kita membawa bumbu bumbu instan asli cita rasa masakan Indonesia yang banyak dijual di supermarket. Ketika sudah balik ke perantauan setiap saat kita bisa masak dengan bumbu tersebut. Pengalaman saya, ya lumayan buat mengobati rindu hehehe. Yang lainnya bisa juga kita mencari restoran yang menyediakan masakan Indonesia di sekitar daerah tempat kita tinggal. Cara ini menurut saya paling praktis, cepat, cita rasanya juga lumayan dibandingkan masak sendiri. Memang sedikit mahal, tapi biaya yang kita keluarkan saya rasa tidak sia sia dan sangat sebanding karena kita bisa merasakan masakan Indonesia….dan yang terpenting rasa kangen itu bisa  terobati hehehe.

Kali ini saya mau memperkenalkan sebuah restoran yang cukup terkenal di daerah aichi. Tapi tolong diingat bahwa ini bukan iklan lho, saya tidak disuruh dan tidak dibayar. Ini murni bagi bagi cerita dan informasi saja. Siapa tahu bisa jadi referensi bagi yang rindu masakan Indonesia hehehe….Restoran ini mempunyai pelanggan setia yang rela datang jauh jauh misalnya dari nagoya, komaki, toyokawa bahkan toyohashi yang rela datang untuk merasakan aneka menu yang ada. Ya….namanya Bali Restoran. Terletak di daerah anjo, aichi. Jika ingin datang naik kereta, bisa naik kereta meitetsu arah nishio dari stasiun chiryu atau shin anjo dan turun di stasiun sakurai. Dari stasiun sakurai bisa jalan kaki sekitar 5 menit. Lokasi Bali Paradise ini berdampingan dengan toko produk brazil dan asia bernama KOKO, karena memang satu pemilik. Koki di Bali Paradise ini pria asli Jawa Timur dan mempunyai jam terbang yang lumayan panjang, lebih dari 10 tahun berkarir sebagai koki masakan Indonesia di Jepang.

Soal menu tersedia sekitar 20an menu aneka masakan Indonesia. Misalnya saja bakso, ayam rica rica, ikan rica rica, nasi goreng, sop buntut, tempe goreng, bebek sambel hijau dll…maaf saya gak ingat detailnya. Soal rasa, ini pendapat pribadi saja ya….saya pernah mencoba masakan di beberapa restoran Indonesia yang lain tapi cita rasa di Bali Paradise ini memang berbeda. Terasa punya nilai tersendiri. Soal harga berfariasi tergantung menunya, tapi pengamatan saya maksimal harganya 1000 yen. Ini juga harga rata rata di restoran Indonesia di Jepang. Setelah anda puas dengan menu Bali Restoran, jangan lupa mampir ke KOKO….deket kok, jalan 5 detik juga nyampai wong cuman sebelahan. Disini aneka daging dengan label halal, bumbu bumbu indonesia, indomie dan lain lain juga tersedia. Saya yakin, ini juga akan membuat kangen anda pada indonesia akan terobati hehehe….

Oke….sekali lagi ini bukan iklan tapi sekedar bagi bagi informasi. Siapa tahu anda lagi main ke daerah Aichi terus pingin makan masakan Indonesia, silahkan mampir. Siapa tahu juga nanti tanpa sengaja kita bisa ketemu di Bali Restoran hehehe…

Salam hangat

Advertisements

Cerita Numpang 1,5 Bulan Di Rumah Over Stay

Sebelumnya mohon maaf. Ini hanya sharing pengalaman tinggal dengan orang yang tidak punya visa atau dikalangan imigran terkenal dengan sebutan Over Stay (OS), aku tidak mengomentari atau memvonis Over Stay itu baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, halal atau haram. Itu semua aku serahkan ke penilaian pribadi masing masing karena aku tidak ada kompetensi sama sekali untuk itu.

Over Stay (OS) adalah masalah global. Jangankan negara maju atau negara industri seperti Jepang dengan image surganya para imigran karena banyaknya lapangan kerja dengan gaji yang menggiurkan, negara kita yang notabene lapangan kerja saja rebutan, sama sekali tidak imbang antara angkatan kerja dengan permintaan lowongan kerjaan saja OS juga banyak. Rata rata alasan menjadi OS di Jepang, terutama bagi orang Indonesia adalah alasan lapangan kerja. Yang mempunyai alasan non lapangan kerja seperti korban HAM, korban kerusuhan atau perang sangatlah sedikit, boleh dibilang kurang dari 5%.

Rata rata OS di Jepang dulunya adalah orang yang punya visa. Jadi masuk Jepang secara legal, misalnya dengan visa keluarga, wisata, pelajar dan yang paling banyak adalah visa training (Kenshusei). Tapi setelah visa mereka habis, karena alasan tertentu misalnya target keuangan belum tercapai atau di Indonesia nggak ada kerjaan mereka kabur, tidak pulang ke Indonesia. Soal jumlah…tidak ada data yang valid, tapi perkiraan untuk WNI yang OS, jumlahnya mungkin ada kalo sepertitiga dari WNI resmi di Jepang. Jadi kalo jumlah WNI resmi di Jepang 30 ribu orang, berarti jumlah OS mungkin sekitar 10 ribu orang.

Mungkin ada pertanyaan kok bisa mereka OS di Jepang, siapa yang nampung? Gimana memperoleh pekerjaan wong dia nggak punya visa? Jawabnya gampang, kebanyakan mereka memang sudah berniat untuk OS, jadi selama masih punya visa mereka mencari link atau kenalan OS, bisa melalui chating, kenal dari temen atau sekedar ketemu di jalan. Nah, biasanya setelah visa habis mereka lari ke temennya tadi. Tentu mereka sudah ada pembicaraan sebelumnya.

Terus gimana cara nyari kerjanya? Jawabnya juga tidak susah. Ada orang Jepang yang menjadi broker khusus buat OS. Ini fakta, memang ada broker seperti ini di Jepang. Mereka bekerja bawah tanah, punya jaringan tersendiri dari mulut ke mulut sehingga susah dilacak. Disamping itu, perusahaan perusahaan Jepang juga membutuhkan tenaga kerja. Kadang pihak perusahaan kepepet untuk mengejar target pekerjaan mereka terpaksa menggunakan tenaga OS. Mereka pikir daripada pekerjaan nggak selesai mereka pakai jalan pintas…ya sudah pakai tenaga OS saja. Jadi ada demand and supply.

Disamping itu juga ada jaringan yang membuat paspor dan KTP Jepang palsu. Ini bener bener fakta, cerita ini bukan isapan jempol semata. Aku sendiri pernah dilihatin KTP Jepang palsu…ketika aku bandingkan dengan punyaku, hampir tidak ada bedanya. Orang awam seperti masyarakat sipil, pegawai perusahaan termasuk bos perusahaan saja mungkin tidak tahu kalo KTP itu palsu. Mirip banget….mungkin hanya polisi atau orang imigrasi yang tahu kalo KTP itu palsu.

Itu introductionnya…hehehehe. Sekarang aku mau cerita, kok bisa bisanya aku tinggal dengan OS. Sebagai pelajar asing dengan biaya sendiri, sudah pasti hidupku pas pasan, bahkan kadang kadang minus. Singkat cerita, Mei 2008 aku lulus S2. Segera nyari kerja kesana kemari. Alhamdulillah dapat tapi aku harus pindah kota. Pada waktu wawancara, pihak perusahaan bilang kalo nanti disediakan apartment. Tentu saja aku seneng banget, paling tidak soal tempat tinggal tidak ada masalah. Tak tahunya, setelah visa kerjaku turun, datang email dari perusahaan menjelaskan kalo apartmentnya penuh, tidak ada kamar yang kosong. Duhhhhh….aku langsung pusing. Padahal aku disuruh masuk kerja bulan Juni awal. Aku terima email dari perusahaan sekitar minggu pertama bulan 5. Aku mikir mana mungkin nyari apartemen 3 minggu, lagian aku juga nggak punya duit, mau dibayar pakai apa? Kepalaku bener bener pusing mikirin solusinya. Akhirnya aku putusin numpang temen yang deket dengan perusahaanku.

Segera aku hubungi beberapa temanku. Akhirnya ada yang ngasih jawaban, tapi dia balik nanya ke aku, pertanyaannyapun sedikit bikin aku pusing. Dia nanya, aku pingin yang legal apa OS? Aku jawab, kalo ada ya yang legal tapi kalo nggak ada OS juga gak apa apa, soalnya aku kepepet banget, mau gimana lagi. Dia jawab, ya nanti dihubungi lagi.

Hari berikutnya ada balesan dari dia. Kalo yang legal nggak bisa, soalnya punya keluarga, repot katanya. Kalo yang ilegal bisa, dia bilang aku bisa tinggal sementara sama dia. Duhhh….bener bener kepalaku pusing, tapi mau gimana lagi, waktu nggak ada duit apalagi. Akhirnya aku putusin, aku numpang ditempat temannya teman yang ilegal tadi.

Yos! Segera aku naik motor kesayanganku, aku cari tempat tinggal temen tadi. Diperlukan waktu 4 jam naik motor, kemudian harus muter muter nyari alamatnya. Total sekitar 6 jam baru aku bisa menemukan rumahnya. Segera aku pencel bel, yang punya rumah segera bukain pintu. Aku kenalan sama dia, ternyata dia tinggal sama temennya juga, jadi nantinya bertiga denganku. Jujur aku akui, apartmentnya bagus, baru kali ini aku tinggal di apartement bagus kayak gini. Semuanya ada, lengkap termasuk internet dan AC.

Wah..tapi ternyata tempatnya lumayan jauh dari perusahaanku. Naik motor perlu 45 menit. Tapi no problem pikirku, khan aku gak lama. Rencanaku aku numpang sekitar 1 bulan, maksimal 2 bulan. Sambil kerja aku mau nyari rumah baru, setelah gajian aku bayar terus aku pingin pindah.

Sampai detik ini, aku legal, punya ijin tinggal. Jadi kehidupanku baik dirumah maupun diluar rumah berjalan biasa saja seperti layaknya orang Jepang. Aku nggak pernah takut keluyuran kemana saja dan kapan saja. Aku bebas keluar masuk rumah kapan saja. Aku juga gak was was saat jalan jalan keluar rumah, belanja disupermarket, main ditaman, nongkrong di stasiun, aku juga sama sekali gak takut ketika bertemu dengan polisi. Intinya, aku bebas dan tidak ada beban mental.

Nah semua jadi terbatas atau harus dibatasi ketika aku harus tinggal serumah dengan OS. Kalo pas dirumah jangan terlalu ramai, kalo melangkah pelan pelan jangan sampai bunyi dug dug dug soalnya tetangga bawah bisa protes. Kalo ngomong jangan keras keras, temen temenku juga gak bisa main. Pokoknya semua dibatasi, tujuannya jangan sampai mengganggu tetangga karena kalo sampai mengganggu mereka pasti protes. Dan kebiasaan di Jepang, kalo protes tidak datang ke kamar tapi telpon polisi. Jadi polisi yang datang. Nah itu yang paling ditakuti, kalo sampai polisi datang ya sudah bye bye saja. Mereka pasti langsung dideportasi. Aku juga pasti dapat masalah, pasti polisi nelpon perusahaan tempatku bekerja. Semua bisa jadi runyam. Bisa bisa aku dipecat atau bisa juga aku ikut dideportasi.

Kadang waktu tidur malam, aku takut banget. Takut kenapa? Takut digerebek polisi. Karena kayak gini biasa di Jepang. Polisi main gerebek kayak gini bukan hanya di Indonesia, di Jepang juga sering dan berlaku. Aku takut kalo tiba tiba polisi datang menggerebek, kalo sampai terjadi gak ada jalan buat lari. Apa mau loncat dari lantai 4? Bisa bisa pulang tinggal nama hehehe…

Untung saja, waktu itu kerjaan sibuk banget. Aku berangkat jam 7.30 pulang nyampe rumah jam 9-10 malam. Jadi aku dirumah cuman malam hari aja. Otomatis tinggal mandi, makan dan tidur saja. Kalo pas liburan sabtu minggu, aku memilih kabur ke rumahku yang lama (rumahku yang lama masih aku bayar, jadi belum keluar, barang barangku juga masih ada di rumah lama). Aku takut banget lama lama berada dirumah, jadi kalo pas liburan aku cabut, balik ke rumah lama. Capek sih…wong naik motor sampai 4 jam. Tadi daripada ketakutan mendingan capek badan.

Waktu berjalan, alhamdulillah setelah melalui proses yang melelahkan aku dapat rumah baru. Setelah semua proses administrasi selesai segera aku pindah ke rumah yang baru. Yah lumayan…walaupun kelas ekonomi, gak ada AC-nya tapi hatiku nyaman, nggak ada rasa takut lagi. Ributpun juga nggak masalah, kalo ada polisi yang datang tinggal bilang maaf saja sudah cukup hehehehe…Tapi aku berterimakasih sekali sama temen yang sudah berbaik hati ngasih tempat buat tidur. Jasanya tidak akan aku lupakan. Terimakasih sekali!

Sekilas Tentang Universitas Di Jepang

Saya coba menulis artikel tentang ini agar pemahaman kita tentang universitas di Jepang menjadi lebih luas dan terbuka karena selama ini orang asing termasuk kita orang Indonesia hanya mengenal beberapa universitas di Jepang yang memang notabene merupakan universitas papan atas di Jepang, misalnya kita ambil contoh Universitas Tokyo, Universitas Kyoto atau Universitas Nagoya. Ini memang tidak salah karena memang kiprah universitas diatas diakui dunia internasional. Tapi disamping universitas papan atas, di seluruh Jepang bertebaran universitas universitas yang membuka pintu lebar  lebar bagi masuknya mahasiswa dari luar Jepang. Menurut saya, apabila kita mengerti dan memahami ini maka peluang untuk masuk ke universitas di Jepang menjadi lebih terbuka karena kita punya banyak alternatif pilihan, bukan hanya universitas papan atas yang tentu saja tingkat persaingannya luar biasa ketat. Soal kualitas, menurut pemahaman saya selain universitas papan atas yang saya sebutkan diatas, masih banyak universitas lain yang kredibel dan kualitasnya bagus. Jadi jangan kwawatir, banyak jalan untuk masuk ke universitas di Jepang hehehe…..

Berdasarkan lembaga atau badan yang mengelola universitas, universitas di Jepang dibagi menjadi 3. Saya akan coba jelaskan satu persatu berdasarkan data dari beberapa sumber.

  1. Kokuritsu Daigaku (国立大学)

Menurut pengetahuan saya, kokuritsu daigaku adalah universitas yang dikelola oleh pemerintah pusat. Tiga universitas papan atas yang saya sebutkan tadi masuk dalam kategori ini. Kalau tidak salah hampir setiap propinsi di Jepang terdapat kokuritsu daigaku, bahkan ada satu propinsi yang memiliki sampai delapan kokuritsu daigaku. Misalnya daerah Tokyo ada Tokyo University, Tokyo Institute of Technology, Tokyo Medical and Dental University, Tokyo University of Foreign Studies, Tokyo Gakugei University, Tokyo University of the Arts, Tokyo University of Marine Science and  Technology dan Tokyo University of Agricultural and Technology. Didaerah lain misalnya daerah Aichi, ada Nagoya University, Nagoya Institute of Technology, Toyohashi University of Technology dan Aichi University of Education.

Jumlah kokuritsu daigaku sampai tahun 2012 ada 86 universitas tersebar di seluruh Jepang dengan kualitas yang menurut pendapat bagus dan merata karena memang diawasi, dikelola dan dikontrol secara langsung oleh pemerintah pusat. Data tahun 2009, jumlah mahasiswa di kokuritsu daigaku seluruh jepang mencapai sekitar 620.000 mahasiswa. Dari segi biaya kuliah, kokuritsu daigaku paling murah dibandingkan dengan kategori yang lain dan biayanya sama di seluruh Jepang.

2.  Kouritsu Daigaku (公立大学)

Kategori yang kedua adalah kouritsu daigaku. Masuk dalam kategori ini adalah universitas yang didirikan dan dikelola oleh pemerintah daerah, setingkat provinsi atau kota. Jumlahnya juga merata di seluruh Jepang. Berdasarkan penelusuran saya, ada 77 universitas. Soal kualitas, kouritsu daigaku juga bersaing ketat dengan kokuritsu daigaku. Bahkan dalam bidang penelitian tertentu banyak kouritsu daigaku yang levelnya menyalip kokuritsu daigaku. Saya ambil beberapa contoh misalnya Tokyo Metropolitan University di Tokyo, Yokohama City University di Yokohama, Aichi Prefectural University di Aichi, Nagoya City University di Nagoya, Hiroshima Prefecture University di Hiroshima, The University of Kitakyushu di daerah Fukuoka dan masih banyak lagi.

Soal biaya kouritsu daigaku memang sedikit lebih mahal dari kokuritsu daigaku. Tapi masih jauh lebih murah dibandingkan dengan shiritsu daigaku karena kouritsu daigaku dibantu atau disubsidi oleh pemerintah daerah. Data tahun 2009, jumlah mahasiswa di kouritsu daigaku di seluruh Jepang mencapai angka 136.000 mahasiswa.

3.  Shiritsu Daigaku (私立大学)

Kategori terakhir adalah shiritsu daigaku, kalau bahasa kita bisa diartikan menjadi universitas swasta. Meskipun statusnya universitas swasta, banyak universitas yang mampu bersaing dengan kokuritsu daigaku maupun kouritsu daigaku bahkan menjadi universitas yang disegani di Jepang, misalnya saja Waseda University atau Keio University. Dilihat dari biaya sekolah, memang shiritsu daigaku memerlukan biaya yang paling tinggi dibandingkan dengan dua kategori yang lain karena memang murni universitas yang dirikan oleh pihak swasta. Dari data yang saya peroleh, ada 595 shiritsu daigaku di seluruh Jepang tersebar mulai dari Fukuoka sampai Hokaido dengan jumlah mahasiswa tahun 2009 mencapai 2.080.000 mahasiswa.

Ini sedikit informasi tentang universitas di Jepang. Intinya ada banyak sekali alternatif sekaligus celah yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan impian sekolah ke Jepang. Kalau misalnya universitas papan atas di Jepang susah untuk dimasuki, masih banyak alternatif lain untuk menimba ilmu di universitas di Jepang. Yang paling penting adalah kemauan untuk berjuang !

Tetap semangat!