Salam Dalam Bahasa Jepang

Belajar bahasa orang lain itu jelas memerlukan strategi agar hasilnya optimal. Dalam konteks belajar bahasa Jepang, menurut pengamatan saya, minimal ada 3 strategi yang bisa diterapkan agar lebih efektif., yaitu bertahap, praktek dan kontinuitas. Bertahap karena bahasa Jepang itu ada tingkat kesulitannya. Secara umum ada basic, intermediet sampai advance. Praktek, saya kira ini jelas karena dengan dipraktekkan, bunyi maupun kecepatan memahami materi percakapan menjadi lebih lancar. Kontinuitas, dalam semua proses belajar kontinuitas baik pengulangan maupun pengembangan mutlak diperlukan. Pengalaman pribadi saya, poin yang terakhir ini adalah poin yang paling susah. Saat mulai bener bener semangat, tapi setelah 2-3 minggu semangat luntur sampai akhirnya berhenti total hehehe…

Oke, sekarang kita mulai belajar bahasa Jepan saja. Kita mulai dari yang paling mudah, yaitu mengucapkan salam dalam bahasa Jepang. Huruf hiragana juga saya tuliskan sekalian sebagai perkenalan huruf hiragana.

  1. Ohayou Gozaimasu (おはよう ございます) : Selamat pagi
  2. Konnichiwa (こんにちは) : Selamat siang
  3. Konbanwa (こんばんは) : Selamat malam
  4. Sumimasen (すみません) : Maaf
  5. Gomennasai (ごめんなさい) : Maaf
  6. Douzo (どうぞ) : Silahkan
  7. Odaijini (おだいじに) : Semoga cepat sembuh
  8. Itadakimasu (いただきます) : Selamat makan
  9. Irasshaimase (いらっしゃいませ): Selamat datang
  10. Itte kimasu (いってきます) : Saya pergi, Saya berangkat
  11. Tadaima (ただいま) : Saya pulang
  12. Sayonara (さよなら) : Sampai jumpa
  13. Ja (じゃ) / Ja, mata (じゃ、また): Sampai jumpa
  14. Oyasuminasai (おやすみなさい): Selamat beristirahat
  15. Arigatou Gozaimasu (ありがとう ございます) : Terima kasih
  16. Omedetou Gozaimasu (おめでとう ございます) : Selamat
  17. Wakarimashita (わかりました) : Saya mengerti
  18. Hai (はい) : Ya
  19. Iie (いいえ) : Tidak
  20. Ganbarimasu (がんばります) : Saya akan berusaha / semangat
  21. Yoroshiku Onegai Shimasu (よろしく おねがい します) : Mohon bantuannya, mohon perhatiannya, mohon pertolongannya

Diatas adalah berbagai macam salam yang sering digunakan dalam keseharian orang Jepang. Mari kita pelajari, hafalkan dan kita praktekkan satu per satu.

Salam semangat !

Advertisements

Halo, Saya Polisi Bagian Orang Asing

Huahhhh….ini adalah pengalaman nyata yang bikin deg degan, keringetan plus hampir bikin jantungku copot. Bagaimana tidak? Berurusan dengan polisi di Indonesia saja sudah pasti bikin kita deg degan apalagi berurusan dengan polisi di negeri orang, tentu saja dengan statusku sebagai imigran. Aku yakin…banyak orang yang tidak mau berurusan atau setidaknya menghindari yang namanya urusan dengan polisi. Pasti ribet, makan waktu, bikin pusing karena persoalannya muter muter dan sudah ditemui mana pangkal ujungnya.

Berawal pada suatu pagi….ada telpon masuk sekitar jam 8 pagi. Saat itu aku masih tidur karena aku kerja part time sampai jam 4 pagi, tidurnya habis subuh sekitar jam 5 pagi sehingga tidak aku angkat. Aku bangun sekitar jam 10 pagi, aku lihat HP, eh ada telpon masuk. Aku hitung telponnya masuk sekitar 3 sampai 4 kali. Aku kaget siapa ini? Kok nomernya nggak aku kenal. Nomernya sih nomer rumah atau kantor bukan nomer HP. Awalnya aku cuek aja…males nanggapai. Biasanya memang gitu, kalo nomernya nggak aku kenal jarang aku angkat. Sekitar jam 10.30 telpon masuk lagi, tapi nggak aku angkat lagi. Selang 10 menitan telponnya masuk lagi, nggak aku angkat lagi.

Lama lama aku penasaran juga…siapa ini kok nelpon terus. Akhirnya aku putusin nelpon balik. Segera aku telpon balik….jawaban dari ujung sana bikin jantungku mau copot, keringatku tiba tiba keluar. Aku dengar kata….moshi moshi, ABC DEF keisatsusho desu (halo…ini kepolisian ABC DEF (maaf saya samarkan namanya)). Waduhhhhhh……dalam hatiku, ada ini. Kenapa sampai ada telepon dari kantor polisi. Perlu diketahui….ABC DEF Keisatsusho itu kantor polisi yang besar. Bukan cuman kecil setingkat polsek. Kalo di Indonesia bisa disetarakan dengan polres atau polresta. Jadi saat itu aku mikir ini urusan pasti penting. Pikiranku jadi macam macam tak terarah. Aku pikir ada apa ini? aku kesandung kasus apa ini?….ribuan pertanyaan tiba tiba muncul dikepalaku. Tidak ada satupun yang bisa aku jawab sendiri selain mengira ngira.

Segera aku bilang ke resepsionisnya tadi ada telpon masuk dari nomer ini makanya aku telpon balik. Dia nanya ke aku siapa namanya. Aku sebutkan namaku dan bilang ke dia kalo aku orang Indonesia dan statusku sebagai mahasiswa. Resepsionisnya bilang tunggu sebentar…kayaknya dia nyari siapa yang nelpon aku. Sekitar 1 menitan ada suara di ujung sana, kali ini suara laki laki. Dia memperkenalkan diri, aku singkat saja namanya S…..dia bilang kalo dia adalah detektif (Keiji) khusus untuk orang asing…..huhhhhh detak jantungku makin kenceng!!!!!!

Singkat cerita, S bilang ada perlu dan pingin ketemu denganku, dia nanya apakah ada waktu? Kepalang tanggung….akhirnya aku bilang ke dia, sekarang jam 11 nanti kita ketemu jam 1 siang, tempatnya di depan supermarket A pintu utara, dekat dengan rumahku. Aku bilang sama dia jangan sampai molor karena aku ada urusan ke kampus…hehehe padahal aku bohong.

10 menit sebelum jam 1 aku sudah datang. Aku berdiri didepan pintu masuk supermarket, sekitar 5 menit aku nunggu orangnya datang. Semula aku nggak ngira kalo dia polisi…karena bener bener nggak kelihatan kalo polisi. Tinggi badan sekitar 180 cm, memakai lengan panjang putih tanpa dasi. Penampilannya biasa tapi rapi, orang awan nggak akan ngira kalo dia polisi. Aku baru sadar kalo dia S yang polisi tadi setelah dia nyapa aku. Akhirnya aku berkenalan dengan dia. Ngobrol sebentar disitu…dia bilang nggak enak ngobrol disini, kita ke restoran aja makan atau minum kopi. Aku sanggupi…akhirnya aku pergi dengan dia.

Sampai di restoran aku dan dia pesen kopi hangat. Dia nanya tentang kuliahku, aku bilang biasa saja sekarang lagi sibuk kuliah. Pertemuan hari itu tidak menyinggung masalah yang macam macam, kayaknya memang strategi dia pas pertemuan kali ini hanya perkenalan saja. Saat itu justru aku yang penasaran. Aku nanya ke dia, dari mana kenal aku? Dari mana tahu nomer teleponku? Dia bilang kalo dia barusan nangkap orang over stay (OS) asal Indonesia. Nah OS ini tinggal serumah dengan orang lulusan sekolah bahasa. Namanya sebut saja B, memang aku kenal si B walaupun beda sekolah bahasa, maklum sama sama orang Indonesia. Nah waktu nangkap ketangkep, si B itu masih punya visa tapi tinggal 1 minggu. Jadi kayaknya si B memang punya rencana jadi OS tapi sebelum jadi OS sudah keburu ketangkap polisi. Nah ketika visa habis…si B harus angkat kaki dari Jepang, nah katanya polisinya tadi nanya ke B apakah punya temen orang Indonesia di daerah Hamamatsu. Nggak tahu kenapa…kok si B nyebut namaku dan ngasih nomer teleponku. Dalam perjalanan pulang, S bilang ke aku nanti mau menghubungi lagi. Aku bilang silahkan…kalo ada waktu aku siap ketemu.

Singkat cerita mulai hari itu interaksi antara aku dan S terjalin. Minimal sebulan sekali aku pasti ketemu sama dia, itu berlangsung hampir 2 tahun sampai aku lulus kuliah dan pindah ke lain kota. Biasanya dia telpon ngajak makan atau kadang kadang ngajak main golf atau main bowling. Pada awalnya dia mendekati aku dan mencari informasi mengenai keberadaan OS di daerah Hamamatsu Aku jawab tegas ke dia…aku sedikit banyak tahu keberadaan OS di hamamatsu tapi aku nggak mau ngasih informasi sekecil apapun walaupun aku dikasih uang. Aku bilang ke S, kami sama sama orang Indonesia, hal itu tidak akan aku lakukan. Aku bilang ke dia…silahkan dicari di segenap penjuru Hamamatsu, itu adalah tugas anda.

Pertanyaan tentang OS masih gampang aku counter karena nggak berhubungan dengan aku, aku punya visa jadi nggak berpengaruh sama sekali denganku. Pertanyaan pertanyaannya masih gampang di jawab…cara menghindarnya pun juga tidak terlalu susah. Yang jadi masalah adalah saat dia menyinggung soal Islam terutama tentang aktivitas orang Islam di Hamamatsu. Saat itu di Jepang masih hangat hangatnya peristiwa WTC. Sedikit banyak pemikiran polisi polisi Jepang dipengaruhi oleh peristiwa tersebut termasuk mungkin doktrin dari AS.

Awalnya S bertanya soal kewajiban muslim, apa itu syahadat, apa itu Al Quran, apa itu hadits, beda hadits sama Al Quran itu apa, tentang sholat intinya dia bertanya tentang rukun Islam. Dia nanya kenapa muslim nggak makan babi, kenapa nggak minum dll. Pertanyaan yang sebenarnya gampang dijawab menjadi susah ketika dia terus bertanya dan bertanya. Kepalaku pusing jelasinnya…Maklum hal kayak gitu itu hal yang nggak lumrah di Jepang. Orang Jepang banyak yang nggak minat soal religion…Kalo interestnya saja nggak ada…gimana mau jelasinnya. Ditambah lagi dengan keterbatasan kemampuan bahasa Jepangku…uhhhh kalo habis ketemu dia pasti kepalaku pusing. Aku takut salah ngomong atau dia salah penafsiran.

Suatu hari dia telpon pingin ngajak ketemu. Aku iyain…akhirnya aku ketemu sama dia. Aku kaget ketika dia nyodorin kertas berisi organisasi keislaman di Jepang. Mulai dari Islamic Center, KMII Jepang sampai organisasi Islam  yang lain. Waduhhhh…..walaupun aku yakin organisasi tersebut tidak berbuat negatif, gampangnya nggak bakal nge-bom Tokyo, tapi ini hal yang sangat sensitif. Aku jelaskan sebaik mungkin dan sebisaku. Aku jelaskan ini hanya sekedar organisasi ngumpulnya orang Islam. Kalo mereka ngumpul paling belajar soal Islam, sholat bareng sama makan makan. Kadang mereka party kalo ada yang nikahan atau ada yang melahirkan. Nggak lebih dari itu…Aku berusaha meyakinkan dia.

Pernah suatu saat dia datang bawa kertas berisi nama orang orang yang aktif dalam pengajian. Dia nanya apakah aku kenal mereka? Ya aku jawab…ada yang kenal ada yang tidak. Kebetulan saat itu aku juga ikut pengajian di daerah Hamamatsu, jadi kenal cukup banyak orang. Aku jelasin…aku kenal dengan mereka, kadang kadang ketemu dengan mereka. Aku tekankan mereka bukan orang yang aneh aneh.

Pada saat pendirian masjid di Hamamatsu, dimana aku juga masuk panitia didalamnya dia juga bertanya banyak. Kebetulan masjid Hamamatsu berada di wilayahnya dia. Jadi saat itu dia bilang repot banget denger di wilayahnya mau didirikan masjid. Aku bilang ke dia…itu gereja banyak di Jepang, ada dimana mana, kenapa kok gak pusing? Tapi baru 1 masjid di Hamamatsu anda sudah bingung. Dia juga nanya soal biaya pendirian masjid Hamamatsu. Aku jelaskan ke dia, uangnya dari seluruh orang Islam di Jepang. Bukan hanya dari muslim di Hamamatsu saja, dari seluruh Jepang.

Pernah ada hal yang lucu…saat pelaksanaan sholat idul adha, karena nggak dapat tempat akhirnya menyewa hotel. Nah hotelnya ini di wilayah hamamatsu timur, masuk wilayah dia. Habis sholat dia nelpon aku…dia bilang tolong bilang ke pimpinan kamu, kalo ngadain acara acara jangan di hamamatsu timur. Sambil ketawa dia ngomong….wah kami jadi repot. Lain kali di tengah atau barat sana….biar orang barat sama tengah sana yang pusing…aku juga ketawa, aku bilang maaf, kemarin sudah nyari di tengah sama barat tapi tidak ada gedung yang kosong…jadi terpaksa disini.

Masih banyak lagi hal hal yang bikin pusing, tapi bener bener membekas dalam benakku. Singkat kata, setelah aku lulus sekolah dan pindah ke kota lain aku jadi jarang berhubungan dengan dia. Aku juga telpon dia, kalo ada apa apa silahkan telpon. Dia bilang kalo main ke hamamatsu telpon saja, kita main bowling bareng lagi…Aku jawab iya, tapi dalam hatiku berkata lain…

Tapi ada sisi positif yang bisa diambil. Mereka itu butuh informasi, butuh penjelasan jadi membiarkan mereka tanpa informasi, berarti membiarkan opini mereka berdasarkan pendapat pribadi atau pengaruh orang lain. Prinsipku, aku yakin Islam itu baik…rahmatan lil alamin. Jadi terangkanlah kepada mereka biar mereka ngerti.

Salam hangat!

Proses Perpanjangan SIM di Jepang

Beda sawah beda padinya, beda rumah beda penghuninya hahaha….belum tentu sih tapi kebanyakan seperti itu. Yang jelas beda Negara pasti beda aturan dan tata caranya. Kali ini aku mau nulis cerita soal memperpanjang SIM di jepang. Kalo di Indonesia memperpanjang SIM tinggal datang ke polres bagian satlantas, daftar habis itu ambil photo, selesai. Prosesnya cepet nggak nyampe 1 hari. Tapi di Jepang tidak demikian, memerlukan waktu paling cepet 1 minggu karena ada proses yang harus yang menurutku sangat penting dalam memperpanjang SIM dan proses ini tidak ada di Indonesia.

SIM yang punyaku habis akhir Mei ini. Pas liburan musim semi kemarin (awal mei) aku berniat memperpanjang SIM. Karena di kota tempatku ini aku baru satu tahun, aku nggak tahu gimana cara dan lokasinya, akhirnya aku putusin pergi ke kantor polisi. Niat awalku sekedar bertanya gimana proses, waktu, syarat dan biayanya. Sampai di kantor polisi aku lihat plakat bagian SIM, akhirnya aku datangi tempat itu. Ada banyak orang Jepang disitu, jadi suasana ramai meskipun baru jam 10 pagi. Aku bilang sama petugasnya mau memperpanjang SIM. Petugasnya minta aku nunjukin SIM lama sama KTP Jepang-ku. Setelah dilihat sama dia, dia ngasih formulir pendaftaran. Segera aku isi dan aku serahin kembali. Formulir tadi dicek sama dia. Habis itu dia minta aku nunggu, proses selanjutnya adalah pengambilan foto. Setelah nunggu 10 menit, aku dipanggil buat foto. Setelah selesai petugasnya bilang, kalo masih ada proses satu lagi yang harus dilewati. Kalo nggak ikut tahap ini, SIM yang sebenarnya sudah jadi tadi tidak akan dikasihkan ke aku.

Petugas tadi menjelaskan proses selanjutnya adalah mengikuti semacam seminar tentang mengemudi (lalu lintas). Dia bilang, aku harus memilih hari apa mau ikut seminarnya. Karena jadwal tahap seminar tersebut dalam 2 minggu kedepan sudah penuh, aku harus memilih jadwal yang buat bulan depan. Jadi aku harus nunggu lebih dari 2 minggu. Yah mau gimana lagi pikirku…..

Singkat cerita, pas jadwalnya aku izin setengah hari ke perusahaan buat nyelesaiin urusan perpanjangan SIM ini. Aku datangi tempatnya, daftar dan segera mencari tempat duduk yang pas, sengaja aku milih dipojok paling belakang biar bisa nyatai sekaligus mengamati perilaku orang Jepang. 3 buku panduan tentang mengemudi yang aman (bahasa jepangnya anzen unten) diserahkan ke petugas ke aku.

Acara segera di mulai, seperti seminar biasanya seorang pembicara menerangkan mengenai cara mengemudi yang benar dan aman, keadaan lalu lintas terutama di propinsi tempat aku tinggal (Aichi), data kecelakaan sampai jumlahnya korbannya. Setelah sekitar 30 menit menerangkan, petugas mengajak peserta untuk menonton video cara mengemudi yang baik dan bener, mengemudi di waktu malam dan macet, video kecelakaan dan penyebabnya, ada juga semacam studi kasus tentang orang yang terlambat bangun pagi sehingga dia terburu buru mengemudi mobil ke kantor dll.

Intinya, peserta diingatkan tentang poin poin mengemudi yang aman dan resiko kecelakaan jika tidak mematuhi poin poin tersebut. Meskipun peserta sudah mempunyai SIM dan mengendarai kendaraan dalam rentang waktu yang lama, peserta perlu disadarkan kembali betapa tingginya resiko saat mengemudi kendaraan. Memori kita dibuka kembali, ternyata di jalan ratusan bahkan ribuan orang meregang nyawa tiap hari. Kerugian harta dan benda yang sangat besar, sampai nyawa yang tak ternilai harganya membayangi pengguna jalan setiap hari. Diharapkan setelah ikut seminar dan melihat video tadi peserta menjadi lebih tergerak hatinya untuk mematuhi aturan, dan menghargai orang lain di jalan. Jangka panjangnya diharapkan terbentuk lalu lintas dengan standar keamanan yang tinggi.

Ketika mengikuti seminar ini aku termenung dan ingat proses perpanjangan SIM yang secepat kilat di Indonesia. Aku mikir ada baiknya kita mengadopsi hal hal yang positif seperti yang dilakukan Jepang ini. Kita harus ingat, negara kita adalah salah satu negara di dunia dengan angka kecelakaan lalu lintas yang tinggi. Ribuan nyawa melayang sia sia karena amburadulnya lalu lintas dan tingkat kesadaran yang rendah pemakai jalan. Keluarga bahkan Negara harus kehilangan ribuan orang yang merupakan aset yang sangat berharga. Mungkin juga, proses perpanjangan SIM dengan mewajibkan pesertanya mengikuti seminar seperti ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Mari kita tunggu perkembangan sistem lalu lintas secara umum dan pembuatan SIM secara khusus di Indonesia tercinta. Semuanya demi kenyamanan dan keamanan di jalan bagi kita semua.

Salam hangat dari Aichi, Jepang.

Susahnya Ujian SIM Di Jepang

Jono : Jo, nyari SIM susah ya?

Paijo : Susah apanya! Gampang banget. Tinggal pake calo, datang, foto langsung jadi. Nggak perlu ada tes tes segala. Tinggal makan soto nanti dipanggil buat foto, nggak nyampe 1 hari pasti jadi.

Itu gambaran real didepan mata, biasa kita temui saat kita ngobrol tentang proses pembuatan SIM di Indonesia. Ada jalur tembus, jalur tikus untuk bisa mendapatkan SIM. Bukan mau ngomongin soal setuju apa gak, baik atau buruk, pantas atau tidak pantas tapi cuman mau cerita, mau membandingkan betapa susahnya, berliku likunya dan memakan proses yang panjang apabila ingin membuat SIM terutama SIM kendaraan roda 4 keatas di Jepang.

Soal SIM, Jepang adalah Negara yang sangat ketat dalam mengeluarkan SIM. Penegak hukum sadar, SIM menyangkut urusan nyawa jadi tidak bisa asal mengeluarkan. Tidak ada jalur tikus, jalur belakang atau kongkalingkong untuk bisa mendapatkan SIM. Jadi murni harus ujian, dari ujian tulis, tes kesehatan sampai ujian yang paling susah, paling mendebarkan yaitu ujian praktek. Tingkat kegagalan di ujian praktek sangat besar, diatas 50%.

Aku sendiri mengalami sendiri susahnya mencari SIM. Ceritanya sudah 6 bulan di Jepang ngonthel sepeda terus, capek banget jadi pingin naik motor. Khan kalo motor praktis murah meriah. Bagi orang asing, proses pembuatan SIM ada dua jenis. Satu, bagi orang yang mempunyai SIM di negaranya sendiri. Kalo sudah punya SIM di negaranya sendiri, proses sedikit lebih mudah. Alhamdulillah aku punya SIM A di Indonesia, jadi melewati prosedur ini. Prosedurnya cukup makan waktu, pertama SIM harus diterjemahkan dan dilegalisasi di JAF (Japan Automotive federation). Disini sih gampang, tinggal datang, ngisi formulir, bayar kalo tidak salah 3000 yen, nunggu 30 menitan sudah beres. Setelah itu pergi ke kantor polisi. Disini juga gampang, ngisi formulir terus menetapkan hari ujiannya. Jadi tidak langsung hari itu bisa ujian, harus antri dulu, paling cepet 2 minggu lagi baru bisa ikut ujian. Setelah nyampe hari H, datang ke pusat pelayanan SIM. Nyampe tempatnya langsung ngisi formulir untuk ikut ujian dan bayar (kalo gak salah 2500 yen setiap kali ujian, lulus atau tidak lulus). Habis itu tes kesehatan, sampe disini gampang. Habis tes kesehatan ujian tulis. Ini juga tidak terlalu susah, soalnya 10 biji. Maksimal salah 3. Jadi kalo salah 3 masih bisa lulus tapi kalo sudah salah 4 atau lebih ya ngulang lagi, ngantri lagi 2 mingguan. Soalnya hampir sama dengan soal di Indonesia. Diatas ada gambar, kemudian dibawahnya pertanyaan. Kalo gak salah dalam 3 bahasa, Jepang, Inggris dan Portugis. Saat itu aku cukup beruntung, salah 3. Jadi nilainya mepet banget, tapi masih dalam kategori lulus seleksi tulis hehehe….

Nah yang paling susah itu ujian praktek. Aku nggak bohong bener bener susah. Point-nya bukan hanya pinter nyopir, zig zag kanan kiri, atau mbalap kayak rossi. Tapi point utamanya itu bagaimana kita menghargai nyawa kita dan nyawa orang lain sesama pengguna jalan saat kita di jalan. Itu pointnya. Sederhana dan singkat tapi aplikasinya sangat susah.

Saat itu, jumlah orang yang satu grup (peserta ujian dibagi beberapa grup) denganku sekitar 8 orang. Penilaiannya ujian praktek sangat detil, hal hal yang sangat kecil dinilai. Misalnya cara naik mobil,gimana cara duduk, cara menghidupkan mesin, soal spion, lampu sensor didasboard, sabuk pengaman, alas kaki yang kita pake, cara belok, cara berhenti, cara matiin mesin, cara turun dari mobil, bagaimana kalo di pertigaan, kalo ada rel kereta api, kalo ada mobil dibelakang atau depan kita dll masih banyak lagi.

Giliranku maju. Sebelumnya aku sudah ditraining sama kakakku. Dilatih sama dia, diajari gimana cara caranya, apa yang harus diperhatikan. Aku praktekkan juga dengan mobil kakakku. Tujuannya hanya satu, biar sekali ujian langsung bisa lulus. Singkat cerita aku jalankan mobilnya petugas penilai ada disamping kiriku. Memang hari itu aku ngrasa masih kurang persiapan, aku masih ngrasa kikuk saat nyetir mobil. Menurutku mobilnya terlalu bagus buatku hehehe….jadi malah terasa aneh nyopirnya, khan biasa ngonthel sepeda 6 bulan jadi tiba tiba nyetir mobil jadi gagap, apalagi petugas disampingku serius banget, rada serem tambah nggak konsentrasi pikiranku. Akhirnya aku gagal, kesalahannya terjadi saat berada di pertigaan. Aturannya dipertigaan itu harus berhenti. Sebenarnya aku berhenti, tapi moncong mobilnya itu melebihi garis putih sekitar 30 senti meter. Pas di Indonesia aku terbiasa dengan mobil yang nggak ada moncongnya, nah pas ujian ini pake mobil sedan jadi perkiraanku meleset, aku pikir moncong belum nyampe garis putih, eh ternyata lebih dikit…cuman 30 senti meter tapi tetep dinyatakan gagal. Aku disuruh turun sama petugasnya, dimarahin habis habisan disitu. Dengan nada tinggi dia bilang ini bukan latihan, ini itu ujian, anggapannya kamu bener bener nyopir di jalan. Kamu berhenti tapi melebihi batas. Bagaimana kalo ditabrak dari samping?….duh aku cuman maaf dan maaf…hari itu habis aku diomelin. Masih dengan nada tinggi, petugasnya bilang sekarang balik. Kamu gagal!

Akhirnya aku ngantri lagi, menjadwal ulang ujian SIM ku. Kalo gak salah dapat waktu 2 minggu lagi. Saat itu, dari 8 orang grup ku yang ikut ujian SIM, hanya satu orang yang lulus. Cewek, orang brazil. Tapi dia sudah masuk driving school dulu sebelum ikut ujian. Jadi ya wajarlah kalo dia lolos.

Singkat cerita aku datang lagi ikut ujian. Kali ini jauh lebih siap, baik mental maupun praktek, karena aku latihan lagi, ditraining lagi sama kakakku. Alhamdulillah, aku bisa nyelesain ujian praktek dengan baik dan dinyatakan lulus. Rasanya seneng banget. Mulai hari itu aku bisa naik motor maksimal 50 CC dan mobil transmisi otomatis. Yang lebih menyenangkan lagi, dari 9 orang di grupku yang ikut ujian SIM, hanya aku yang lolos…hehehehe

Sebelumnya sempat aku singgung soal kegagalan diatas 50%, itu memang fakta bukan hal yang dibuat buat. Aku ngalami sendiri, di ujian pertama dari 8 orang cuman 1 orang yang lulus. Di ujian yang kedua, dari 9 orang hanya 1 orang yang lulus. Ketika aku nunggu giliran ujian, aku ngobrol dengan orang brazil, dia bilang di brazil biasa nyopir truk tapi dia gagal ujian sampai 7 kali. Aku pernah denger cerita ada orang Indonesia yang gagal ujian SIM sampai 14 kali. Itu cerita susahnya nyari SIM di Jepang. Oh iya…SIM internasional Indonesia tidak diakui di Jepang. Jadi punya SIM internasional Indonesiapun gak ada artinya, gak bisa nyopir di Jepang. Kalo memaksakan diri kalo ketangkep urusannya panjang. Bisa bisa didenda 100 ribu yen (sekitar 10 juta rupiah). Tapi sisi positif dari ketatnya pembuatan SIM jelas terlihat. Angka kecelakaan lalulintas termasuk kecil dibandingkan negara lain apalagi Indonesia. Jalan juga teratur enak terasa aman dan nyaman.

Nah itu kalo punya SIM di negaranya sendiri. Yang kedua, kalo tidak punya SIM di negaranya sendiri. Dalam kasus ini, ujiannya disamakan dengan orang Jepang. Prosesnya gimana, yang pertama harus masuk driving school dulu. Jadi tidak boleh kok tiba tiba buat SIM. Tidak bisa, harus masuk driving school dulu. Biaya jelas mahal, sekitar 250 ribu sampe 300 ribu yen (25 juta – 30 juta rupiah). Biasanya training dulu sekitar 1-2 bulan baru bisa ikut ujian SIM.

Itu seklumit cerita proses buat SIM di Jepang. Kalo punya SIM di Indonesia dan sekali ujian bisa langsung lulus, perlu waktu sekitar 2 minggu, biaya sekitar 8 ribu yen (800 ribu rupiah). Tapi kalo nggak punya SIM, harus masuk driving shool dulu, perlu waktu 1-2 bulan, biayanya sekitar 250 ribu-300 ribu yen (25 juta-30 juta rupiah). Maka itu, kalo kamu mau ke Jepang trus tinggal rada lama, buat aja SIM di Indonesia….hehehe good luck!

14 Februari 2012, Aichi, Jepang

Kena Badai Di Puncak Gunung Fuji

Yang namanya hobi itu emang unik ya….kadang kadang bagi orang lain hobi kita itu dipandang aneh. Tapi itulah manusia, satu kepala ribuan pemikiran. Sepuluh kepala bisa jadi belasan ribu pemikiran. Ya…itu adalah hal yang wajar. Selama pemikiran itu baik dan positif tidak masalah, jadi malah bisa menjadikan hidup kita jadi warna warni. Bagiku hobi orang, tentu saja yang sifatnya positif tanpa melupakan tanggung jawab tetap harus diapresiasi, karena dengan menyalurkan hobi kadang pemikiran menjadi lebih terbuka, punya pengalaman baru sehingga ide ide yang cemerlang dapat keluar tanpa disangka sangka.

Kembali ke hobi, aku itu suka banget sama kegiatan outbond, Yang paling aku senangi itu naik gunung sama caving. Soal ini orang tua sering protes, katanya bahaya…capek, kurang kerjaan dll…hehehe. Tapi no problem, namanya juga orang tua, yang penting nggak dibantah langsung saja. Kalo naik gunung sudah beberapa kali aku lakukan. Sewaktu masih sekolah di Indonesia, aku pernah naik merapi, merbabu sama lawu. Masing masing sekali. Tiba di Jepang, hobiku yang ini tetep aku jaga. Meskipun waktunya terbatas banget, alhamdulillah aku tetep bisa aku lakukan. Yah…titik tertinggi di Jepang, manalagi kalo bukan gunung fuji, 3776 meter sudah pernah aku capai sampai 3 kali.

Bulan pertengahan Juli 2009 aku bingung, liburan musim panas bulan agustus sudah dekat tapi nggak ada rencana sama sekali mau liburan kemana. Iseng aku telpon temen main, namanya kita singkat saja A. Aku tanya liburan musim panas agustus mau kemana? Di jawab belum ada rencana, tapi sabtu ini mau naik Fuji. Wah….aku sudah lama nggak naik Fuji, terakhir tahun 2004, jadi sudah 5 tahun yang lalu. Akhirnya tanpa basa basi, aku bilang ikut naik. Aku inget, aku telpon A hari kamis….naiknya malam minggu. Dengan kata lain, semua serba mendadak tanpa persiapan yang matang terutama fisik. Modal nekat hehehe….Kalo tidak salah 18-19 Juli 2009 kembali menjejakkan kaki di gunung Fuji. Member saat itu 4 orang.

Singkat kata…setelah perjalanan naik kereta sekitar 3 jam disambung naik bis selama 1 jam, kami nyampe pos lima, orang Jepang bilangnya gogome. Ini pos terakhir yang bisa dicapai dengan bis, sampai pos lima sekitar jam 18.15. Wah memang salah kami…semangat yang menggebu gebu mengakibatkan ada hal penting yang seharusnya jadi perhatian kami ternyata terlupakan begitu saja. Ya….perkiraan cuaca! walaupun cuaca didaerah gunung Fuji susah ditebak, tapi aku sendiri sama sekali nggak ngecek perkiraan cuaca saat pendakian kali ini. Alhasil…saat turun dari bis, sudah dihadang dengan cuaca kurang bersahabat, mendung dan angin bertiup cukup kencang. Tapi yang namanya orang nekat…cuaca dibawah jelekpun, kami tetep bertekat naik Fuji. Tanggung sudah nyampe gogome kok balik kanan pulang ke rumah. Apalagi lihat pendaki yang lain terutama orang Jepang pada naik juga. Kita mikir yang lain bisa kita pasti bisa hehehehe….pemikiran sederhana emosional ya.

Setelah istirahat sekitar 1 jam, akhirnya jam 19.30 kami start ninggalin pos lima. Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah…menyusuri jalur pendakian yang sudah dirancang khusus tapi terjalnya minta ampun. Sampai di pos tujuh, ternyata ada member yang tidak kuat, kayaknya masuk angin…dia muntah muntah, akhirnya kesepakatan bersama dia kami tinggal di pos tujuh…tidur di situ. Tinggal kami bertiga melanjutkan perjalanan. Singkat cerita…aku sampai pos 10 (puncak) sekitar jam 3.30. Segera aku cari tempat yang datar, langsung tidur. Baru sekitar 30 menitan tidur….kisah pahit itu datang. Hujan dan angin kencang menyapu puncak Fuji…Padahal saat itu Fuji penuh dengan pendaki. Aku berani ngomong…saat itu kalo cuman 500 orang aja ada disitu. Semua pada basah kuyup, badan capek, ngantuk…plus kedinginan, perkiraan suhu sekitar 5 derajat.

Aku bingung….gimana dengan yang lain, 2 orang temenku yang ikut naik tadi. Dimana mereka…gimana keadaannya. nggak bisa kemana mana saat itu…angin kencang sekali. Orang berjalan tidak bisa tegak, semua membungkuk dan bergandengan tangan agar tidak kabur kena tiupan angin. Sekitar jam 7 pagi…aku bertemu dengan mereka. Ya Alloh…bersyukur sekali lihat temenku tadi, semuanya selamat. Kami segera nyari tempat berteduh yang aman Waktu berjalan…tapi hujan angin tetep tak berhenti juga, Kami bingung semua….kami mikir nggak bisa turun, nggak bisa pulang ini. Akhirnya kami sepakat, kita tunggu sampe jam 9 pagi. Kalo tidak juga berhenti hujan badainya, mau nggak mau kita harus turun….harus nekat, karena ngejar jadwal bis dan kereta. Memang saat itu Tuhan berkehendak lain….ditunggu sampe jam 9 pagi, hujan badainya tidak berhenti juga. Akhirnya dengan hati hati…pelan pelan, pegangan batu sama tambang kami turun dari Fuji. Saat itu bener bener takut…saat itu ngrasain emang manusia itu kecil dan lemah sekali. Angin begitu kencang…kalo kami nggak hati hati atau lagi nasibnya jelek, bisa bisa terbang ketiup angin masuk jurang yang dalamnya setengah mati. Mungkin juga kejatuhan batu yang dari lereng diatas kita. Tapi alhamdulillah…dengan hati hati, pelan pelan kami bisa mencapai pos lima lagi dan berkumpul dengan teman yang kita tinggal di pos tujuh tadi. Kami istirahat disitu…suasana sudah sedikit lebih tenang sehingga semua unek unek dikepala kita ceritain, kisah pahit yang bener bener tidak bisa dilupakan. Saat itu kami bilang, sudah… ini yang terakhir ! …..kapok kami naik Fuji hehehe….

Itu sedikit cerita pendakian gunung Fuji, sekitar bulan Juli 2009. Pendakian yang penuh derita hehehe….

Salam hangat dari Aichi, Jepang

Sekolah Bahasa Jepang : Salah Satu Jalan Belajar ke Jepang

Aku yakin, di tahun 2009 ini Jepang masih merupakan idola buat pelajar yang ingin melanjutkan studi keluar negeri. Ya itu aku kira wajar, di wilayah Asia, Jepang masih merupakan Negara dengan kualitas pendidikan tingkat atas, mungkin bisa di katakan nomer satu. Konsekuensinya, ratusan bahkan mungkin ribuan pelajar dari luar Jepang menyerbu Jepang setiap tahunnya. Jumlah pelajar asing di Jepang semakin hari semakin meningkat. Semakin gampang ditemui wajah wajah non Jepang sewaktu naik kereta, semakin banyak orang asing keluar masuk sekolah atau universitas di Jepang. Tentu dengan konsekuensi yang lain, persaingan untuk bisa masuk ke Jepang dengan visa pelajar (student visa) semakin ketat.

Disisi lain kita ketahui, Jepang adalah Negara yang susah sekali dimasuki. Pintu pintu masuk ke Jepang, mulai dari kedutaan sampai bandara atau pelabuhan di Jepang sangat ketat pengawasannya. Jangan dibandingkan dengan masuk ke Indonesia, beda jauh sekali. Jaringan online dari seluruh kedutaan Jepang diluar negeri, imigrasi sampai pintu masuk dibandara atau pelabuhan menjadikan orang yang ingin masuk ke Jepang secara illegal akan mental, dipaksa untuk gigit jari dan dideportasi. Bahkan mulai awal tahun 2008, dipakai teknologi canggih berupa pengambilan sidik jari dan foto sewaktu akan masuk Jepang. Teknologi ini menafikkan kemungkinan orang yang di black list bisa masuk Jepang lagi.

Bagi tenaga pengajar (dosen) atau peneliti mungkin jalan untuk bisa kuliah di Jepang lebih terbuka karena bisa mendaftar berbagai macam beasiswa ke Jepang. Tapi bagaimana dengan pelajar atau yang sudah lulus tapi belum bekerja sehingga tidak punya institusi yang biasanya menjadi syarat untuk mendaftar beasiswa? Belajar dari pengalaman pribadi, sekolah bahasa Jepang (nihongou gakkou) adalah salah satu solusi masalah tersebut.

Ingat, kata pepatah kalo mau belajar, pelajari dulu bahasanya. Nah ini sesuai dengan dengan pepatah tersebut. Perlu diketahui juga, hampir 95% proses belajar mengajar di Universitas Jepang menggunakan bahasa Jepang. Universitas Tokyo sekalipun menggunakan bahasa Jepang. Memang ada kelas internasional dengan bahasa inggris tapi jumlahnya sangat sedikit dan biasanya ditujukan untuk orang yang memegang beasiswa, misalnya Monkabusho.

Walaupun tidak semudah membalikkan tangan, ratusan pelajar asing datang ke Jepang lewat jalur ini, jalur sekolah bahasa Jepang. Sekitar 50% adalah pelajar dari China, disusul Korea Selatan, kemudian pelajar dari Asia tenggara termasuk Indonesia. Mereka biasanya belajar bahasa Jepang selama 2 tahun, setelah itu meneruskan kuliah sesuai dengan keinginan masing masing, ada yang ambil D2, D3, S1, S2 bahkan program doktor. Jadi dalam rentang 2 tahun tersebut, khusus belajar bahasa Jepang, sebagai persiapan untuk melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya.

Soal visa jangan kwawatir, tidak akan ada masalah. Aku tekankan, ini adalah jalur legal. Jadi resmi diakui oleh pemerintah Jepang. Nantinya, orang yang masuk ke sekolah bahasa Jepang mendapatkan visa pre college student (bahasa Jepangnya shuugaku). Walaupun secara hierarki visa, kedudukan visa ini lemah tapi sekali lagi ini resmi, jadi bisa petentang petenteng, jalan jalan tanpa takut kena tangkep polisi Jepang.

Memang sekolah bahasa Jepang memerlukan biaya yang tidak sedikit, yang biasanya harus dikeluarkan dari dompet kita sendiri. Seperti kata pepatah jawa, Jer Basuku Mowo Beyo, jika seseorang mengharapkan kemuliaan maka harus berani prihatin, termasuk prihatin dalam hal biaya. Akan tetapi, apabila diniati dengan sungguh sungguh, berani banting tulang bekerja part time dan belajar tekun, hasilnya cukup menjanjikan. Apa itu? Salah satunya adalah peluang bekerja di Jepang dengan status karyawan yang standar gaji, tunjangan dan bonus yang sama dengan orang Jepang terbuka luas.

Salam semangat dari Aichi, Jepang.