Bahasa Jepang : Sebuah Keunggulan Kompetitif

Sejak kemarin badan terasa nggak enak, Seharian bersin bersin dan hidung berair, memaksa saya untuk cepat cepat tidur agar besok pagi lebih sehat. Jam menunjukkan angka 8.30 ketika semangat untuk bangun dari tempat tidurku mulai tumbuh. Saya pikir masih ada waktu 1.5 jam sebelum berangkat kerja….akhirnya buka blog. Mau nulis tapi bingung mau nulis apa. Setelah berfikir sejenak….saya ingat istilah manajemen, yaitu competitive advantage, dalam bahasa kita sering diartikan sebagai keunggulan komparatif. Akhirnya saya coba hubungkan kata tersebut dengan bahasa Jepang.

Tidak bisa dipungkiri, kekuatan Jepang secara ekonomi cukup kuat menekan bukan hanya Indonesia tapi juga negara lain dengan ditandai dengan merajainya berbagai macam produk Jepang dipasar Indonesia selama 2 atau 3 dasawarsa terakhir. Berbagai produk sejenis terutama dari China berusaha masuk untuk mengganggu dominasi Jepang. Tapi apa boleh dikata, konsumen adalah raja. Semuanya tergantung pada penilaian kita selaku pemakai dan penikmat produk. Banyak produk China akhirnya hilang ditelan ganasnya persaingan bisnis.

Ditengah hidup dan tekanan persaingan yang makin kuat, kita yang masih muda, yang sebentar lagi lulus atau sedang mencari pekerjaan harus pintar pintar menyusun strategi dan menyiasati kondisi agar kita bisa mendapatkan pekerjaan sehingga tetap survive dengan tetap berpijak pada aturan. Dalam proses mencari pekerjaan tidak perlu kita berbuat negatif yang akhirnya bisa mencemari rezeki yang kita terima nanti. yang Bagaimana caranya? Pemikiran kita sebagai subjek pencari kerja bisa meniru pemikiran perusahaan yang ingin tetap survive ditengah persaingan bisnis. Biasanya perusahaan seperti ini berfikiran bagaimana membuat sesuatu yang beda, yang susah ditiru atau setidaknya sedikit yang memilikinya sehingga jumlah kompetitornya bisa ditekan. Nah yang seperti ini disebut keunggulan komparatif.

Maaf…bukan karena Saya bisa sedikit bahasa Jepang dan tinggal di Jepang terus bilang kalo bahasa Jepang itu termasuk keunggulan komparatif. Tapi berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi, kita belajar bahasa Inggris dari SMP kelas 1 atau 2, sampai SMA atau mungkin perguruan tinggi bagi yang meneruskan. Habis itu acara film, musik sampai surat kabar bahasa Inggris juga sering kita jumpai. Pendek kata banyak orang Indonesia itu yang sudah pinter bahasa Inggris. Jadi menurut Saya, bahasa Inggris memang masih sangat penting karena memang menjadi bahasa dunia, tapi bahasa Inggris bukan lagi menjadi keunggulan komparatif karena point dari pengertian keunggulan komparatif yaitu susah ditiru atau hanya sedikit yang memiliki tidak lagi terpenuhi.

Sekarang kita bandingkan dengan model pendidikan bahasa Jepang di Indonesia. Saya yakin, masih sangat sedikit sekali institusi pendidikan setingkat SMP yang mengajarkan bahasa Jepang. Begitu juga setingkat SMA, jumlah sekolah yang mengajarkan mata pelajaran bahasa Jepang bisa dihitung dengan jari. Ditingkat universitas, sampai detik ini universitas negeri yang membuka program bahasa Jepang juga masih sangat sedikit. Pendek kata, masih sedikit orang kita yang bisa bahasa Jepang. Maka dari itu, pendapat pribadi saya mengatakan bahwa bahasa Jepang saat ini masih bisa menjadi keunggulan komparatif bagi seseorang, yang apabila benar benar ditekuni kesempatan kerja bagi individu tersebut akan terbuka lebar.

Mungkin ada pertanyaan, bahasa Jerman juga sedikit, bahasa Perancis juga paling beberapa orang yang bisa. Itu tidak salah, tapi jangan dilihat itu saja, mari kita lihat pangsa pasarnya. Coba lihat jumlah produk made in Japan di Indonesia. Aku kira jari tangan dan kaki kita nggak bakal cukup dipake menghitung. Merek made in Japan mengakar dari mobil, motor sampai elektronik. Jadi walaupun belum pernah survei dengan mata kepala sendiri, aku yakin jumlah perusahaan Jepang di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan negara lain. Tentu saja ini mempengaruhi permintaan akan tenaga kerja dengan skill bahasa Jepang. Dengan kata lain, pangsa pasar bahasa Jepang lebih luas dari pada bahasa Jerman atau bahasa yang lain sehingga kemungkinan mendapatkan pekerjaan akan lebih besar.

Belajar itu memang susah. Belajar bahasa Inggris itu susah, bahasa Jerman juga pasti  mumet, bahasa Perancis begitu juga. Kalau sama sama mumet kenapa tidak mencoba  belajar bahasa Jepang. Saya yakin dalam 10-20 tahun kedepan migrasi perusahaan Jepang ke Indonesia akan semakin besar, mereka adalah pangsa pasar aktif sehingga kemampuan bahasa Jepang tetap menjadi competitive advantage bagi individu yang menguasainya.

Februari 2012

Mari belajar bahasa Jepang! Salam dari Aichi, Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s