Halo, Saya Polisi Bagian Orang Asing

Huahhhh….ini adalah pengalaman nyata yang bikin deg degan, keringetan plus hampir bikin jantungku copot. Bagaimana tidak? Berurusan dengan polisi di Indonesia saja sudah pasti bikin kita deg degan apalagi berurusan dengan polisi di negeri orang, tentu saja dengan statusku sebagai imigran. Aku yakin…banyak orang yang tidak mau berurusan atau setidaknya menghindari yang namanya urusan dengan polisi. Pasti ribet, makan waktu, bikin pusing karena persoalannya muter muter dan sudah ditemui mana pangkal ujungnya.

Berawal pada suatu pagi….ada telpon masuk sekitar jam 8 pagi. Saat itu aku masih tidur karena aku kerja part time sampai jam 4 pagi, tidurnya habis subuh sekitar jam 5 pagi sehingga tidak aku angkat. Aku bangun sekitar jam 10 pagi, aku lihat HP, eh ada telpon masuk. Aku hitung telponnya masuk sekitar 3 sampai 4 kali. Aku kaget siapa ini? Kok nomernya nggak aku kenal. Nomernya sih nomer rumah atau kantor bukan nomer HP. Awalnya aku cuek aja…males nanggapai. Biasanya memang gitu, kalo nomernya nggak aku kenal jarang aku angkat. Sekitar jam 10.30 telpon masuk lagi, tapi nggak aku angkat lagi. Selang 10 menitan telponnya masuk lagi, nggak aku angkat lagi.

Lama lama aku penasaran juga…siapa ini kok nelpon terus. Akhirnya aku putusin nelpon balik. Segera aku telpon balik….jawaban dari ujung sana bikin jantungku mau copot, keringatku tiba tiba keluar. Aku dengar kata….moshi moshi, ABC DEF keisatsusho desu (halo…ini kepolisian ABC DEF (maaf saya samarkan namanya)). Waduhhhhhh……dalam hatiku, ada ini. Kenapa sampai ada telepon dari kantor polisi. Perlu diketahui….ABC DEF Keisatsusho itu kantor polisi yang besar. Bukan cuman kecil setingkat polsek. Kalo di Indonesia bisa disetarakan dengan polres atau polresta. Jadi saat itu aku mikir ini urusan pasti penting. Pikiranku jadi macam macam tak terarah. Aku pikir ada apa ini? aku kesandung kasus apa ini?….ribuan pertanyaan tiba tiba muncul dikepalaku. Tidak ada satupun yang bisa aku jawab sendiri selain mengira ngira.

Segera aku bilang ke resepsionisnya tadi ada telpon masuk dari nomer ini makanya aku telpon balik. Dia nanya ke aku siapa namanya. Aku sebutkan namaku dan bilang ke dia kalo aku orang Indonesia dan statusku sebagai mahasiswa. Resepsionisnya bilang tunggu sebentar…kayaknya dia nyari siapa yang nelpon aku. Sekitar 1 menitan ada suara di ujung sana, kali ini suara laki laki. Dia memperkenalkan diri, aku singkat saja namanya S…..dia bilang kalo dia adalah detektif (Keiji) khusus untuk orang asing…..huhhhhh detak jantungku makin kenceng!!!!!!

Singkat cerita, S bilang ada perlu dan pingin ketemu denganku, dia nanya apakah ada waktu? Kepalang tanggung….akhirnya aku bilang ke dia, sekarang jam 11 nanti kita ketemu jam 1 siang, tempatnya di depan supermarket A pintu utara, dekat dengan rumahku. Aku bilang sama dia jangan sampai molor karena aku ada urusan ke kampus…hehehe padahal aku bohong.

10 menit sebelum jam 1 aku sudah datang. Aku berdiri didepan pintu masuk supermarket, sekitar 5 menit aku nunggu orangnya datang. Semula aku nggak ngira kalo dia polisi…karena bener bener nggak kelihatan kalo polisi. Tinggi badan sekitar 180 cm, memakai lengan panjang putih tanpa dasi. Penampilannya biasa tapi rapi, orang awan nggak akan ngira kalo dia polisi. Aku baru sadar kalo dia S yang polisi tadi setelah dia nyapa aku. Akhirnya aku berkenalan dengan dia. Ngobrol sebentar disitu…dia bilang nggak enak ngobrol disini, kita ke restoran aja makan atau minum kopi. Aku sanggupi…akhirnya aku pergi dengan dia.

Sampai di restoran aku dan dia pesen kopi hangat. Dia nanya tentang kuliahku, aku bilang biasa saja sekarang lagi sibuk kuliah. Pertemuan hari itu tidak menyinggung masalah yang macam macam, kayaknya memang strategi dia pas pertemuan kali ini hanya perkenalan saja. Saat itu justru aku yang penasaran. Aku nanya ke dia, dari mana kenal aku? Dari mana tahu nomer teleponku? Dia bilang kalo dia barusan nangkap orang over stay (OS) asal Indonesia. Nah OS ini tinggal serumah dengan orang lulusan sekolah bahasa. Namanya sebut saja B, memang aku kenal si B walaupun beda sekolah bahasa, maklum sama sama orang Indonesia. Nah waktu nangkap ketangkep, si B itu masih punya visa tapi tinggal 1 minggu. Jadi kayaknya si B memang punya rencana jadi OS tapi sebelum jadi OS sudah keburu ketangkap polisi. Nah ketika visa habis…si B harus angkat kaki dari Jepang, nah katanya polisinya tadi nanya ke B apakah punya temen orang Indonesia di daerah Hamamatsu. Nggak tahu kenapa…kok si B nyebut namaku dan ngasih nomer teleponku. Dalam perjalanan pulang, S bilang ke aku nanti mau menghubungi lagi. Aku bilang silahkan…kalo ada waktu aku siap ketemu.

Singkat cerita mulai hari itu interaksi antara aku dan S terjalin. Minimal sebulan sekali aku pasti ketemu sama dia, itu berlangsung hampir 2 tahun sampai aku lulus kuliah dan pindah ke lain kota. Biasanya dia telpon ngajak makan atau kadang kadang ngajak main golf atau main bowling. Pada awalnya dia mendekati aku dan mencari informasi mengenai keberadaan OS di daerah Hamamatsu Aku jawab tegas ke dia…aku sedikit banyak tahu keberadaan OS di hamamatsu tapi aku nggak mau ngasih informasi sekecil apapun walaupun aku dikasih uang. Aku bilang ke S, kami sama sama orang Indonesia, hal itu tidak akan aku lakukan. Aku bilang ke dia…silahkan dicari di segenap penjuru Hamamatsu, itu adalah tugas anda.

Pertanyaan tentang OS masih gampang aku counter karena nggak berhubungan dengan aku, aku punya visa jadi nggak berpengaruh sama sekali denganku. Pertanyaan pertanyaannya masih gampang di jawab…cara menghindarnya pun juga tidak terlalu susah. Yang jadi masalah adalah saat dia menyinggung soal Islam terutama tentang aktivitas orang Islam di Hamamatsu. Saat itu di Jepang masih hangat hangatnya peristiwa WTC. Sedikit banyak pemikiran polisi polisi Jepang dipengaruhi oleh peristiwa tersebut termasuk mungkin doktrin dari AS.

Awalnya S bertanya soal kewajiban muslim, apa itu syahadat, apa itu Al Quran, apa itu hadits, beda hadits sama Al Quran itu apa, tentang sholat intinya dia bertanya tentang rukun Islam. Dia nanya kenapa muslim nggak makan babi, kenapa nggak minum dll. Pertanyaan yang sebenarnya gampang dijawab menjadi susah ketika dia terus bertanya dan bertanya. Kepalaku pusing jelasinnya…Maklum hal kayak gitu itu hal yang nggak lumrah di Jepang. Orang Jepang banyak yang nggak minat soal religion…Kalo interestnya saja nggak ada…gimana mau jelasinnya. Ditambah lagi dengan keterbatasan kemampuan bahasa Jepangku…uhhhh kalo habis ketemu dia pasti kepalaku pusing. Aku takut salah ngomong atau dia salah penafsiran.

Suatu hari dia telpon pingin ngajak ketemu. Aku iyain…akhirnya aku ketemu sama dia. Aku kaget ketika dia nyodorin kertas berisi organisasi keislaman di Jepang. Mulai dari Islamic Center, KMII Jepang sampai organisasi Islam  yang lain. Waduhhhh…..walaupun aku yakin organisasi tersebut tidak berbuat negatif, gampangnya nggak bakal nge-bom Tokyo, tapi ini hal yang sangat sensitif. Aku jelaskan sebaik mungkin dan sebisaku. Aku jelaskan ini hanya sekedar organisasi ngumpulnya orang Islam. Kalo mereka ngumpul paling belajar soal Islam, sholat bareng sama makan makan. Kadang mereka party kalo ada yang nikahan atau ada yang melahirkan. Nggak lebih dari itu…Aku berusaha meyakinkan dia.

Pernah suatu saat dia datang bawa kertas berisi nama orang orang yang aktif dalam pengajian. Dia nanya apakah aku kenal mereka? Ya aku jawab…ada yang kenal ada yang tidak. Kebetulan saat itu aku juga ikut pengajian di daerah Hamamatsu, jadi kenal cukup banyak orang. Aku jelasin…aku kenal dengan mereka, kadang kadang ketemu dengan mereka. Aku tekankan mereka bukan orang yang aneh aneh.

Pada saat pendirian masjid di Hamamatsu, dimana aku juga masuk panitia didalamnya dia juga bertanya banyak. Kebetulan masjid Hamamatsu berada di wilayahnya dia. Jadi saat itu dia bilang repot banget denger di wilayahnya mau didirikan masjid. Aku bilang ke dia…itu gereja banyak di Jepang, ada dimana mana, kenapa kok gak pusing? Tapi baru 1 masjid di Hamamatsu anda sudah bingung. Dia juga nanya soal biaya pendirian masjid Hamamatsu. Aku jelaskan ke dia, uangnya dari seluruh orang Islam di Jepang. Bukan hanya dari muslim di Hamamatsu saja, dari seluruh Jepang.

Pernah ada hal yang lucu…saat pelaksanaan sholat idul adha, karena nggak dapat tempat akhirnya menyewa hotel. Nah hotelnya ini di wilayah hamamatsu timur, masuk wilayah dia. Habis sholat dia nelpon aku…dia bilang tolong bilang ke pimpinan kamu, kalo ngadain acara acara jangan di hamamatsu timur. Sambil ketawa dia ngomong….wah kami jadi repot. Lain kali di tengah atau barat sana….biar orang barat sama tengah sana yang pusing…aku juga ketawa, aku bilang maaf, kemarin sudah nyari di tengah sama barat tapi tidak ada gedung yang kosong…jadi terpaksa disini.

Masih banyak lagi hal hal yang bikin pusing, tapi bener bener membekas dalam benakku. Singkat kata, setelah aku lulus sekolah dan pindah ke kota lain aku jadi jarang berhubungan dengan dia. Aku juga telpon dia, kalo ada apa apa silahkan telpon. Dia bilang kalo main ke hamamatsu telpon saja, kita main bowling bareng lagi…Aku jawab iya, tapi dalam hatiku berkata lain…

Tapi ada sisi positif yang bisa diambil. Mereka itu butuh informasi, butuh penjelasan jadi membiarkan mereka tanpa informasi, berarti membiarkan opini mereka berdasarkan pendapat pribadi atau pengaruh orang lain. Prinsipku, aku yakin Islam itu baik…rahmatan lil alamin. Jadi terangkanlah kepada mereka biar mereka ngerti.

Salam hangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s