Strategi Jidouhanbaiki Ala Jepang

Mesin penjual otomatis atau dalam istilah bahasa Jepang dikenal dengan Jidouhanbaiki tersebar merata diseluruh Jepang. Kata jidouhanbaiki, jika diartikan pisah pisah dapat berarti jidou artinya otomatis, hanbai artinya penjualan dan ki diartikan sebagai mesin. Berdasarkan penelusuran saya, sejarah jidouhanbaiki di Jepang ternyata sudah sangat panjang, dimulai dari tahun 1988 atau meiji 21 dalam tahun Jepang. Jidouhanbaiki yang pertama kali dikenalkan ke publik tahun 1988 adalah jidouhanbaiki yang menjual rokok atau disebut tabakojidouhanbaiki. Tahun 1904 dikenalkan jidouhanbaiki untuk menjual perangko, nah jidouhanbaiki untuk perangko ini sampai saat ini masih ada dan tersimpan di museum komunikasi atau teishinsougouhakubutsukan dan dianggap sebagai jidouhanbaiki yang mewakili generasi pertama, museum komunikasi ini terletak di Tokyo.

Sebagai bagian dari cara penjualan, jidouhanbaiki bukanlah sekedar mesin penjual otomatis tetapi juga merupakan sebuah strategi. Karena kedudukannya yang begitu penting sampai ada asosiasi khusus yang mengelola jidouhanbaiki di Jepang, salah satu contohnya adalah Japan Automatic Merchandising Association atau sering disingkat JAMA. Survei tentang jidouhanbaiki misalnya tentang jumlah jidouhanbaiki di Jepang juga secara rutin dilakukan. Sebagai contoh, tahun 2000 jumlah jidouhanbaiki di Jepang ada sekitar 5.600.000 unit. Tahun 2007 turun menjadi 5.450.000 unit. Tahun 2008 jumlahnya semakin menurun yaitu sekitar 5.260.000 unit. Nilai penjualan jidouhanbaiki diseluruh Jepang tahun 2000 mencapai 700.000.000 yen. Pada tahun 2008 turun menjadi 570.000.000 yen. Meskipun secara kuantitas dan nilai penjualan jidouhanbaiki seluruh Jepang jumlahnya terus menurun tapi perannya dalam penjualan produk tidak bisa dipandang sebelah mata. Jidouhanbaiki tetap merupakan salah satu strategi yang efektif.

Secara gampang paling tidak ada 4 keunggulan dari metode jidouhanbaiki ini. Misalnya saja, memenuhi konsep menjual dimana saja. Jidouhanbaiki bisa diletakkan dimana saja sesuka yang mau jual. contohnya saja dipinggir jalan, tempat parkir, perempatan jalan, gang gang kecil, depan toko, dalam terminal – bandara – stasiun dan masih banyak lagi. Selanjutnya mendekati konsumen, saya ambil contoh dilereng jalur pendakian gunung fuji tersedia jidouhanbaiki. Soal ini saya tidak bohong, dilereng atau jalur pendakian gunung fuji terdapat juga jidouhanbaiki meskipun konsekuensinya harganya jauh lebih mahal, sekitar 3-4 kali harga normal. Ini adalah upaya untuk mendekatkan diri pada konsumen, biar gampang diakses atau dibeli. Yang ketiga, konsep cost down dalam penjualan. Contoh kongkritnya saja jidouhanbaiki tidak perlu ditunggui, sudah biarkan saja ditepi jalan. Karena tidak perlu ditunggui tentu saja biaya penjual secara otomatis hilang. Sistem kelistrikan jidouhanbaiki juga sudah sangat efektif, contohnya saja ketika tidak ada pembeli di depan mesin maka lampunya cuman remang remang atau kelap kelip saja. Begitu ada yang datang secara otomatis lampunya nyala terang banget seolah olah bilang wellcome gitu hehehe. Selanjutnya, 24 hours 7 days open. Yah, buka 24 jam tidak pernah libur menjual terus menerus. Kecuali untuk rokok, bir dan osake karena untuk ketiga produk ini jam jidouhanbaiki dibatasi yaitu secara otomatis akan mati dari jam 11 malam sampai jam 5 pagi.

Dilihat dari peruntukannya, ada bermacam macam jenis jidouhanbaiki. Misalnya saja jidouhanbaiki untuk menjual minuman, karcis, permen, koran, rokok, bir, osake dan masih banyak lagi. Untuk produk produk umum yang bisa dikonsumsi oleh segala umur biasanya dipakai uang kertas maupun koin. Untuk produk yang dibatasi oleh aturan khusus misalnya rokok, bir atau osake meskipun saya masih menemui jidouhanbaiki yang cara pembayarannya dengan uang tunai tapi jumlahnya dari ke hari semakin sedikit, diganti oleh jidouhanbaiki yang cara pembayarannya memakai kartu khusus yang untuk mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu. Bahkan saat ini sedang dikembangkan jidouhanbaiki dimana pembeli harus memasukkan SIM. Metode ini dikembangkan untuk menanggulangi penyalahgunaan jidouhanbaiki oleh pembeli dibawah umur.

Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah strategi jidouhanbaiki ini bisa efektif? Ehmmm ^_^ saya tidak tahu pasti jawabannya. Tapi kita semua bisa memprediksi nasib jidouhanbaiki ini jika diterapkan di Indonesia. Pendapat pribadi saya, rasa memiliki dan menghargai orang kita terhadap properti atau aset pribadi, orang lain, sekolah, perusahaan maupun aset negara sama sekali tidak mendukung strategi jidouhanbaiki ini. Akan ada perbedaan yang sangat mencolok jika kita bandingkan, bisa bisa oleng nyemplung sungai. Orang Jepang sangat menghargai semua properti atau fasilitas umum yang ada. Rasa memilikinya sangat tinggi. Mungkin mereka tidak menyapu, mengepel atau membersihkan fasilitas yang ada tetapi paling tidak mereka tidak merusaknya. Jadi sangat jarang sekali saya lihat fasilitas umum kok rusak, pecah, tidak berfungsi, copot bagian tertentu atau hilang entah kemana. Begitupun dengan jidouhanbaiki, saya belum pernah menemukan jidouhanbaiki dalam keadaan rusak oleh tangan tangan jahil. Kalo habis iya, rusak karena memang dirusak tangan jahil saya belum pernah lihat. Dalam berbagai kesempatan saya memang sering membandingkan kondisi di Jepang dengan kondisi di Indonesia, tapi tujuan saya bukan semata mata untuk menjelek jelekkan. Ada banyak pelajaran dan hal positif yang bisa kita peroleh dengan metode perbandingan. Makanya dalam metode pembelajaran maupun penelitian kita mengenal comparative study. Ini yang saya maksud.

Kembali ke soal strategi jidouhanbaiki. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Strategi jidouhanbaiki terbukti efektif untuk mendongkrak penjualan produk di Jepang. Untuk pasar Indonesia saya yakin ada cara lain yang lebih efektif, yang lebih nasionalis dari pada strategi jidouhanbaiki ala Jepang ini.

Salam bermalam minggu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s