Mencoba Menghitung Berapa Biaya Kuliah Di Jepang

Ohayou Gozaimasu! Tak terasa sudah sampai hari sabtu lagi, jadwal dimana saya biasanya mengurus kembali blog ini. Kali ini saya mencoba untuk sedikit membahas mengenai biaya kuliah di Jepang. Mungkin saja postingan saya tentang biaya kuliah di Jepang ini bisa membantu terutama bagi yang mau kuliah di Jepang dengan biaya sendiri karena bagi yang biaya sendiri perkiraan biaya sangat diperlukan dan harus dipersiapkan jauh hari sebelum datang ke Jepang.

Jika dibandingkan dengan kuliah di Indonesia, biaya kuliah di Jepang tentu saja jauh lebih mahal. Ya iyalah….masak lebih murah, khan gak mungkin. Jika kita mengambil perbandingan yang lain, misalnya saja biaya kuliah di Indonesia dibandingkan dengan negara lain misalnya Australia atau Amerika, hasilnya juga gak akan beda, tentu saja biaya kuliah di Australia dan Amerika jauh lebih mahal. Tapi mahalnya biaya pendidikan di Jepang, Australia, Amerika atau negara maju yang lain tentu saja berbanding lurus dengan ilmu yang bisa diperoleh selama studi. Kalau orang jawa bilangnya ‘ono rego ono rupo’ …. ada harga, ada mutunya. Karena bagaimanapun juga faktor latar belakang institusi pendidikan tempat studi seseorang mempunyai sumbang sih yang tidak sedikit bagi mutu lulusannya selain faktor kemauan untuk belajar dari individu yang bersangkutan.

Kembali ke soal biaya kuliah di Jepang. Oh iya, saya garis bawahi ini adalah biaya kuliah di Jepang, saya tidak membahas biaya kuliah di negara lain karena saya tidak tahu dan tidak punya pengalaman studi di luar Jepang. Supaya lebih detail dan mengena saya mencoba mengupas satu persatu, dibagi berdasarkan jenjang pendidikan dan saya sertai contoh  yang saya ambil dari institusi pendidikan di Jepang.

1. Biaya Sekolah Bahasa Jepang

Pengalaman saya pribadi, sekolah bahasa Jepang atau dalam bahasa Jepang disebut dengan nihongo gakkou, adalah pintu saya masuk ke Jepang. Jadi awal mula dan institusi pendidikan yang pertama kali saya masuki di Jepang adalah sekolah bahasa Jepang. Peran sekolah bahasa Jepang ini sangat penting terutama bagi yang ingin meneruskan kuliah di Jepang. Di sekolah bahasa Jepang kita diajari seluk beluk bahasa Jepang mulai dari kosakata, grammar atau bunpou, kanji sampai peribahasa. Karena diajari langsung oleh orang Jepang dan suasana lingkungan yang mendukung, kemampuan bahasa Jepang seseorang yang belajar di Jepang biasanya terdongkrak dengan cepat. Pengamatan saya pribadi, pelajar yang tidak punya background pendidikan bahasa Jepang di Indonesia, kemudian belajar 2 tahun di sekolah bahasa Jepang di Jepang kemampuannya secara umum akan sama, bahkan ada yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan lulusan S1 bahasa Jepang yang belajar 4 tahun di Indonesia. Biasanya lulusan sekolah bahasa Jepang menang di kanji dan listeting. Karena alasan itu tadi, faktor sensei dan lingkungan yang mendukung proses belajar bahasa Jepang.

Terus mungkin ada pertanyaan berapa biaya untuk sekolah bahasa Jepang di Jepang? Kalau bicara biaya sekolah bahasa Jepang, maka akan kita dapatkan data yang berbeda beda. Saya kira ini wajar dan harap maklum karena masing masing sekolah bahasa menetapkan biaya yang berbeda seperti halnya sekolah atau universitas di Indonesia. Sebagai contoh saja, saya sertakan biaya sekolah bahasa Jepang di Jepang untuk 1 tahun dengan merujuk pada biaya sekolah sebuah sekolah bahasa di daerah Nagoya yaitu Nagoya International School Of Japanese Language.

Jangka Waktu

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

April – September

Oktober – Maret

Total

1 Tahun

20.000 Yen

80.000 Yen

270.000 Yen

270.000 Yen

640.000 Yen

Sebagai perbandingan saya sertakan biaya sekolah bahasa untuk 1 tahun di daerah Shinjuku, Tokyo yang bernama Shinjuku Japanese Language School.

Jangka Waktu

Biaya Lain

Biaya Masuk

Biaya SPP

April – September

Oktober – Maret

Total

1 tahun

40.345 Yen

40.000 Yen

330.000 Yen

330.000 Yen

770.345 Yen

Diatas adalah sedikit perbandingan contoh biaya sekolah bahasa di dua sekolah bahasa yaitu Nagoya International School Of Japanese Language di Nagoya dan Shinjuku Japanese Language Shool di Tokyo. Sekali lagi biaya sekolah bahasa tidak sama karena tergantung dari sekolah bahasa masing masing.

2. Program Sarjana

Program bachelor atau setingkat sarjana di Jepang bisa ditempuh dalam waktu 4 tahun seperti halnya di Indonesia. Soal biaya, untuk universitas swasta sangat tergantung pada jurusan dan  universitasnya. Akan saya coba untuk sedikit memberikan gambaran tentang berapa biaya untuk program sarjana di Jepang. Sebagai contoh saya ambil biaya kuliah di jurusan tehnik mesin tahun pertama di Nihon University atau Nihon Daigaku di daerah Tokyo.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya Praktek

Biaya Gedung

Biaya SPP

April – September

Oktober – Maret

Total

30.000 Yen

260.000

Yen

80.000 Yen

220.000 Yen

450.000

Yen

450.000

Yen

1.490.000

 Yen

Selanjutnya marilah kita lihat berapa biaya kuliah jenjang sarjana di universitas negeri di Jepang. Saya ambil contoh biaya kuliah jenjang sarjana di Hiroshima University atau Hiroshima Daigaku. Biaya kuliah berlaku sama untuk semua jurusan.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

30.000 Yen

282.000

Yen

267.900

Yen

267.900

Yen

846.000

Yen

Jika kita bandingkan akan terlihat perbedaan yang cukup besar diantara 2 universitas tersebut, apalagi jika nilainya dikurs-kan ke dalam rupiah.

3. Research Student

Didalam postingan saya yang lain telah saya jelaskan bahwa research student dalam paradigma universitas di Jepang adalah sebuah program untuk mempersiapkan diri memasuki jenjang pendidikan S2 atau S3. Untuk lebih jelasnya apa itu research student akan saya usahakan untuk membahasnya dalam judul yang lain. Sekarang mari kita lihat dulu berapa kira kira biaya yang diperlukan. Seperti halnya sekolah bahasa Jepang, biaya research student juga berbeda beda tergantung pada jurusan dan universitas yang menyelenggarakan.

Sebagai perbandingan saja, akan saya coba jelaskan biaya research student dari 2 universitas yang berbeda. Yang pertama, adalah biaya research student untuk 1 tahun di sebuah universitas negeri di daerah Aichi yaitu Aichi University of Education atau Aichi Kyoiku Daigaku. Biaya ini saya dapatkan langsung dari website Aichi University of Education untuk tahun ajaran 2012/2013 :

Jangka Waktu

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

1 Tahun

9800 Yen

84.600 Yen

178.200 Yen

178.200 Yen

450.800 Yen

Perbandingannya adalah biaya research student untuk 1 tahun di jurusan manajemen di sebuah universitas swasta di daerah Tokyo yaitu Nihon University atau Nihon Daigaku tahun ajaran 2012/2013.  Data ini saya peroleh langsung dari website jurusan manajemen, Nihon University.

Jangka Waktu

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya Bimbingan

Total

1 Tahun

35.000 Yen

50.000 Yen

120.000 Yen

205.000 Yen

Jujur saja, saya juga kaget dan baru tahu setelah saya bandingkan kok biaya research student di Nihon University jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya research student di universitas negeri di Jepang.

4. Biaya Kuliah Master

Selanjutnya adalah biaya kuliah untuk program master di Jepang. Menurut penelusuran saya, dalam satu universitas swasta biaya kuliah master bisa berbeda tergantung dari jurusannya. Tapi di universitas negeri hal itu sepengetahuan saya tidak ada, artinya biaya kuliah master sama tidak tergantung jurusan. Sebagai contoh saja, dibawah ini adalah biaya master tahun pertama di program bisnis di Nanzan University atau Nanzan Daigaku di daerah Nagoya.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya

Lain

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

30.000 Yen

300.000 Yen

105.000

Yen

287.000

Yen

287.000 Yen

1.009.000

Yen

Untuk perbandingan dibawah ini adalah biaya kuliah master di sebuah universitas negeri di daerah Nagoya yaitu Nagoya Institute of Technology atau Nagoya Kogyou Daigaku. Sekali lagi biaya kuliah master sama untuk semua jurusan.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

30.000 Yen

282.000

Yen

267.900

Yen

267.900

Yen

846.000

Yen

Diatas adalah contoh biaya dari 2 universitas. Setelah kita amati memang ada perbedaan yang cukup banyak antara biaya kuliah diantara 2 universitas tersebut.

5. Program Doktor

Selanjutnya adalah program doktor. Kalau kuliah doktor di Indonesia biayanya selangit, di Jepang juga sama, jadi sama sama selangit hehehe. Mahal ya pasti karena memang jenjangnya beda banget. Sama seperti sebelumnya saya mencoba untuk membandingkan biaya program doktor antara 2 universitas. Contoh yang pertama saya ambil dari biaya program doktor bidang manajemen tahun pertama di sebuah universitas swasta di daerah Tokyo yaitu Kokushikan Daigaku.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya Praktek

Biaya Gedung

Biaya SPP

April – September

Oktober – Maret

Total

30.000 Yen

290.000 Yen

20.000 Yen

135.000 Yen

   325.000      Yen

325.000   Yen

1.125.000

 Yen

Bagaimana dengan biaya program doktor di universitas negeri. Ternyata setelah saya perhatikan, biaya program doktor di unversitas negeri sama dengan biaya program master. Sebagai contoh saja, biaya program doktor di Hiroshima University untuk semua jurusan adalah sebagai berikut.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

30.000    Yen

282.000

Yen

267.900

Yen

267.900

Yen

846.000

Yen

Itulah sekilas gambaran biaya kuliah di Jepang dari program bahasa Jepang, jenjang sarjana, research student, master sampai doktor. Sekali lagi, meskipun ini saya ambil langsung dari website masing masing institusi atau universitas tapi tetap saja merupakan sebuah gambaran saja. Yang perlu diingat, biaya di universitas swasta berbeda tergantung jenjang dan jurusan yang diambil. Sedangkan untuk universitas negeri, biaya kuliah berlaku umum artinya sama pada setiap jurusan.

Semoga saja postingan sederhana ini berguna terutama bagi yang ingin melanjutkan kuliah di Jepang. Oh iya, saya tidak bermaksud menakut nakuti dengan angka angka yang apabila dikurs-kan ke rupiah jumlahnya luar biasa besar. Karena kenyataanya memang seperti itu. Tapi jika anda sudah di Jepang, sekolah dan bekerja disini, tahu biaya hidup dan harga harga di jepang, maka anda akan bisa membayangkan dengan kacamata kehidupan Jepang bukan kacamata kehidupan di Indonesia. Jika sudah begitu, hasil imajinasi akan berbeda jauh. Kalau saya pribadi berpendapat, mahal sih mahal….tapi masih bisa terjangkau dengan tangan kita apabila kita sungguh sungguh untuk itu.

Semoga bermanfaat dan tetap semangat untuk menggapai cita cita kita!

Aichi, 26 Mei 2012

Advertisements

Sekilas Golden Week 2012

Jujur ya, jaman masih sekolah saya jarang sekali bisa menikmati liburan baik itu liburan musim dingin, golden week maupun musim panas. Keterbatasan keuangan dan kesibukan sekolah membuat liburan liburan tersebut  terlewati dengan tetap kerja di pabrik untuk mencari tambahan uang, diam bengong di rumah untuk penghematan, mengerjakan tugas tugas sekolah atau pulang ke Indonesia untuk mencari data buat penelitian. Setelah masuk dunia kerja aktivitas utama saya tentu saja bekerja, ikut membantu istri mengurus rumah dan terakhir belajar untuk persiapan sekolah lagi. Jujur lagi, dua hal yang terakhir saya lakukan dengan santai. Kata orang jawa, alon alon waton kelakon…..alias pelan pelan asal kesampaian hehehe.

Setelah masuk dunia kerja yang boleh dikatakan dunia yang monoton, yang namanya liburan adalah sesuatu yang sangat berarti dan saya tunggu tunggu. Kalau sudah dekat liburan, waktu itu terasa cepat sekali. Jalan rasanya enteng, apalagi kalau habis gajian hahaha. Jauh sebelum liburan panjang tiba, saya sudah menyusun rencana apa yang mau saya lakukan. Mau ngapain, mau pergi kemana, sama siapa, dari kapan sampai kapan, naik apa sampai berapa dana yang dibutuhkan. Menurut saya, golden week adalah liburan yang paling enak. Kenapa? Karena kalau libur musim panas udaranya sangat panas sebaliknya liburan musim dingin udaranya sangat dingin, jadi keduanya kurang enak buat jalan jalan diluar ruangan.

Liburan golden week tahun 2012 ini jatuh tanggal 28 April sampai 6 Mei. Lumayan panjang, total ada 9 hari. Setelah berunding dengan istri akhirnya saya berhasil menetapkan jadwal yang cukup asyik buat berpetualang menikmati liburan golden week di Jepang bersama istri dan buah hati saya.  Saya coba menyusun jadwalnya mulai dari yang lokasinya dekat rumah sampai yang jauh jauh.

1. Main Ke Denpark, Aichiken Anjoushi.

Denah Denpark Di Anjoshi

Pertama kali lokasi yang kami tuju adalah Denpark yang ada di Anjoushi. Lokasi Denpark ini dekat dengan rumah saya, paling sekitar 5 kilometer. Sebagai pemanasan sebelum menuju lokasi yang jauh jaun. Perginya hari pertama golden week yaitu hari sabtu 28 April 2012. Sebenarnya saya sudah tahu tentang Denpark ini sudah cukup lama, tapi keinginan perginya baru muncul setelah saya ingin melihat bunga bunga yang mekar. Setelah tanya orang Jepang dan nyari informasi di internet dapat informasi kalau di Denpark ini ada juga kebun bunganya. Alhasil pergilah saya bersama istri dan si kecil.

Nisa Sama Mamanya Lagi Makan Siang

Pendapat saya, Denpark cukup representatif juga untuk sekedar refreshing dengan keluarga. Tamannya luas, parkirnya luas, koleksi bunganya juga beragam, ada kolam untuk bermain, tempat jual oleh oleh juga ada, tempat makan dan sebagainya. Dengan biaya masuk yang tidak begitu mahal yaitu 600 yen plus lokasi yang dekat dari rumah menjadikan Denpark sebagai tempat yang lumayan enak untuk refreshing.

2. Menuju Sakae Dan Meijo Kouen, Nagoya

Salah Satu Perempatan Di Sakae

Tempat kedua adalah Sakae di pusat kota Nagoya. Sakae merupakan tempat buat jalan jalan dan surganya pejalan kaki. Dihari libur jalan jalan di Sakae ditutup untuk semua kendaraan. Praktis saat itu pejalan kaki adalah raja. Sebenarnya saya tidak merencanakan ini, tapi karena teman teman yang biasa ngumpul mengajak main ke Sakae akhirnya saya masukkan ke jadwal jalan jalan golden week. Perginya hari minggu tanggal 29 Mei 2012. Rutenya saya dihampiri oleh teman yang tinggalnya di kota sebelah terus bersama sama menuju ke rumah teman yang tinggal dekat dengan kota Nagoya.

Setelah semua berkumpul dengan jumlah 10 orang kami pergi bersama sama naik kereta. Wah yang namanya liburan ya….dimana mana ramai. Jalan macet, bis penuh, stasiun uyel uyelan….jadi kayak pasar hehehe. Sampai di Sakae kami langsung menuju ke restoran yang menyediakan masakan Indonesia, namanya restoran putri bali. Wah ngantrinya puuanjaang sekali. Jujur saja soal makan saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka ngantri. Tapi karena berangkat bareng dan ngantri rame rame jadinya gak terasa. Ditambah dengan menu nasi goreng isi ikan pepes yang rasanya bikin melayang layang terasa cukup membayar waktu tunggu yang begitu lama hehehe.

Setelah selesai makan kita melanjutkan perjalanan ke Meijou Kouen atau taman Meijo. Ceritanya pingin lihat tulip, tapi ternyata kuncupnya sudah mekar kayak payung. Akhirnya kita sewa sepeda onthel buat jalan jalan keliling Meijou Kouen. Kita pilih sepeda onthel yang sudah dimodifikasi menjadi 2 kursi, yang belakang ikut ngonthel juga. Wah lumayan buat olah raga, ternyata langkah kami menyewa sepeda onthel tidak salah. Soalnya kalau tidak naik sepeda onthel saya jamin bukannya badan kurus tapi justru pegal pegal karena kelamaan jalan kaki. Setelah puas main di Meijou Kouen kami pulang. Tapi sebelum pulang kami diajak mampir ke rumah teman untuk makan malam. Menunya tentu saja menu masakan Indonesia yang pedes pedes hehehe. Tak terasa hari kedua golden telah selesai. Alhamdulillah….bisa ketemu teman sekaligus jalan jalan.

3. Menengok Guarantor Ke Shizuoka

Shin Tomei Mikkabi JCT

Sekitar 3 minggu sebelum masuk liburan golden week, saya dapat email dari guarantor atau penjamin saya sewaktu sekolah bahasa Jepang dulu. Ternyata dia masih ingat saya hehehe. Ceritanya saya mau main ke rumah dia pas liburan musim dingin, yaitu Januari 2012. Tapi setelah saya email dia ternyata ada di Yordania untuk urusan kerjaan selama 6 bulan dari Oktober 2011 sampai April 2012. Dia juga membalas kalau sudah balik Jepang akan kirim kabar lagi. Saya sudah lupa pembicaraan tentang itu ketika tiba tiba ada email dari guarantor saya tersebut kalau dia sudah balik Jepang dan tanya ke saya kalau ada waktu silahkan datang ke rumah.

Nisa Lagi Istirahat

Setelah soal waktu janjian disepakati yaitu Selasa 1 Mei 2012 akhirnya saya, istri dan si kecil pergi ke Shizuoka. Perkiraan jalan macet karena pas libur golden week dan hujan ternyata tidak terbukti. Rute jalan tol Tokyo-Nagoya atau sering disingkat dengan Tomei yang kami ambil alhamdulillah lancar lancar saja. Saat itu di Jepang sedang jadi perbincangan publik soal rute Tomei yang baru atau disebut Shin Tomei. Shin Tomei ini dibuka 14 April 2012, masih baru banget. Jadi ceritanya jalan tol Tomei didaerah Mikkabi (Mikkabi JTC) yang masuk wilayah Shizuoka dibuat jalur baru disebelah utara tembus sampai daerah Gotemba (Gotemba JTC), jalur tol baru ini disebut Shin Tomei. Shin Tomei ini jaraknya lebih pendek 10 kilometer dibandingkan dengan Tomei.

Salah Satu Sudut Kota Shizuoka

Ketika saya dekat dengan persimpangan Mikkabi JTC ini saya sempat bingung ngambil yang mana, tapi setelah istri melihat navi di handphone yang menunjuk jalur tol Tomei yang lama akhirnya saya milih yang jalur yang lama. Maklum ini pertama kali saya pakai tol ke arah Tokyo jadi sempat bingung. Sebelumnya saya pernah ke Shizuoka tapi selalu pakai jalur gratis, yaitu jalur 23 terus nyambung jalur 1. Tapi perbedaan waktu memang terasa sekali. Jarak tempat saya sampai Shizuoka sekitar 150 kilometer. Jika ditempuh lewat jalur gratis paling cepat 4 jam, tapi ketika lewat tol dengan mudah bisa dicapai dalam waktu 2 jam.

Akhirnya sampai juga di Shizuoka. Langsung saya menuju ke rumah guarantor saya. Wah sudah lama sekali saya tidak ketemu dengan beliau. Setelah diingat ingat, sudah 5 tahun tidak ketemu meskipun saya selalu kirim email pas tahun baru. Segera saya perkenalkan istri dan si kecil. Kami ngobrol ngalor ngidul kemana mana sambil makan spagetti made in istri beliau. Saya terkejut karena tiba tiba beliau menunjukkan Al Quran kepada saya. Dia bilang selama 6 bulan di Yordania dia banyak berinteraksi dengan muslim karena memang negara muslim. Sampai akhirnya dia membeli Al Quran tersebut. Kami juga ngobrol tentang Islam baik di Jepang, Indonesia maupun Yordania.

Setelah puas ngobrol kami minta pamit. Suatu saat kami berniat untuk mengunjungi beliau lagi. Sebelum pulang kami mampir ke pusat kota Shizuoka. Wah ternyata Shizuoka jauh berubah. Perkembangannya luar biasa. Saya tinggalkan kota Shizuoka tahun 2006, balik lagi 2012. Satu hal yang saya garis bawahi, pembangunan kota bawah tanah benar benar maju pesat. Beberapa langkah lagi akan mampu menyaingi kota bawah tanahnya Sakae di Nagoya. Jempol dua untuk Shizuoka. Setelah merasa cukup akhirnya kami memutuskan pulang ke Aichi. Sampai ketemu lagi Shizuoka ^_^

4. Kembali Ke Kyoto

Rencana ke Kyoto ini berawal dari acara ngumpul pas ada perpisahan teman yang akan pulang ke Indonesia. Saat itu saya ngobrol tentang pengalaman berkendaraan sendiri ke daerah Kyoto dan Osaka. Terus ada teman yang menyahut yuk kapan kapan lagi main ke sana. Ajakan itu saya sanggupi. Setelah menyusun jadwal akhirnya acara main ke Kyoto dijadwalkan hari Kamis tanggal 3 Mei 2012. Pesertanya berkurang menjadi 2 keluarga dengan 2 kendaraan pribadi dengan total member 6 orang.

Sudut Sudut Gion Di Kyoto

Sebelum berangkat saya tanya ke teman saya, mau lewat tol apa lewat yang gratis? Teman saya ini menjawab lewat yang gratis saja dulu, katanya buat pengalaman pertama. Oke saya setuju. Untuk mengefektifkan waktu saya putuskan berangkat jam 1 dini hari biar sampai Kyoto pagi hari. Kalau bisa sampai pagi banget bisa istirahat 2-3 jam, badan bisa enak tidak ngantuk. Karena sangat berbahaya sekali. Jika lewat jalur biasa jarak Aichi sampai Kyoto sekitar 170 kilometer bisa kami tempuh kurang dari 5 jam.  Sesuai perkiraan kami sampai di pinggiran kota Kyoto sekitar jam 5:30 pagi. Segera kami istirahat untuk memulihkan stamina.

Kyomizu Dera Di Kyoto

Sekitar jam 7:30an kami melanjutkan perjalanan yang masuk menuju kota Kyoto. Tujuan kami yang pertama adalah daerah Gion. Daerah yang sangat terkenal dengan Geisha-nya dimalam hari. Wah masih pagi sekali, belum banyak orang yang lalu lalang. Toko toko juga masih banyak yang tutup. Tapi gak apa apa….kami tetap berkeliling melihat pojok pojok Gion di pagi hari. Setelah merasa puas, kami lanjutkan lagi ke tujuan berikutnya yaitu Kyomizu Dera. Kyomizu Dera adalah kuil yang sangat terkenal di Kyoto. Posisinya yang diatas gunung menjadikan kita bisa melihat keindahan kota Kyoto. Jam baru menunjukkan jam 8:30 tapi Kyomizu Dera sudah penuh dengan pengunjung sampai susah banget untuk sekedar menemukan parkir. Setelah keliling dan foto foto akhirnya kami keluar dari Kyomizu Dera untuk menuju tujuan berikutnya.

Kyoto Tower Dilihat Dari Kyomizu Dera

Keluar Kyomizu Dera kami menuju Ginkakuji atau kuil perak. Kebetulan saya belum pernah ke Ginkakuji. Dalam pikiran saya Ginkakuji itu kuil yang dicat dengan warna perak atau silver. Ternyata salah. Tidak ada yang dicat warna perak. Bangunan kuil utama juga tidak dicat dengan warna perak. Tapi memang saya akui dalamnya sangat rapi dan cantik. Taman, jalur untuk pejalan kaki dan pengaturan pasirnya juga rapi sekali. Bagus dan layak untuk di kunjungi. Diluar Ginkakuji masih bisa ditemui becak yang ditarik oleh manusia. Saya sudah 4 kali ke Kyoto dan berkunjung ke banyak tempat. Tapi becak yang ditarik manusia ini hanya saya temui di depan Ginkakuji.

Kuil Emas Atau Kinkakuji Di Kyoto

Habis Ginkakuji kami menuju ke Kinkakuji atau kuil emas. Kuil ini juga sangat terkenal di Jepang. Di kalangan orang asing apalagi, kuil yang begitu punya tempat tersendiri. Boleh dikatakan belum ke Kyoto kalau belum ke Kinkakuji. Ketika kami ke Kinkakuji jumlah yang pengunjung luar biasa banyaknya. Parkir juga susah banget nyarinya. Setelah puas foto foto dan menikmati suasana Kinkakuji kami melanjutkan ke kuil sebelah yaitu kuil Ryoanji. Saya katakan sebelah karena memang letaknya tidak terlalu jauh dari Kinkakuji, mau jalan kaki juga bisa. Setelah puas keliling ditengah banyaknya pengunjung kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tapi karena perut lapar kami memutuskan untuk mengisi perut sambil menyusun rencana lokasi yang akan dituju berikutnya.

Kota Kyoto DIlihat Dari Kyoto Tower

Setelah istirahat cukup dan perut kenyang kami melanjutkan perjalanan. Sebenarnya ingin ke kuil yang lain tapi ternyata waktunya sudah gak cukup mengingat kuil biasanya tutup jam 5 sore, akhirnya kami menuju ke tujuan terakhir yaitu Kyoto Tower atau menara Kyoto. Sampai Kyoto Tower sekitar jam 6 sore. Waktu yang lumayan bagus untuk melihat suasana kota Kyoto di sore hari. Lagi lagi….pengunjung luar biasa banyaknya. Karena memang merupakan salah satu andalan pariwisata kota Kyoto. Puas menikmati keindahan kota Kyoto dari puncak Kyoto Tower kami sepakat untung pulang ke Aichi. Lagi lagi perlu perjuangan yang panjang menelusuri jalur 1 dan jalur 23 untuk bisa mencapai Aichi. Di tengah jalan karena rasa kantuk yang sudah tidak bisa ditahan kami memutuskan istirahat cukup lama, 3 jam. Setelah fresh kembali kami melanjutkan perjalanan dan alhamdulillah sampai dirumah dengan selamat meskipun molor waktunya menjadi jam 2 pagi. Kyoto kamu tetap tetap terlihat cantik sampai saat ini.

5. Main Ke Bokka No Sato, Gifu Ken

Target Belum Kelihatan

Sejak dulu saya pingin sekali main ke daerah Gifu tapi baru kesampaian pas liburan golden week tahun ini. Info Bokka No Sato ini saya dapat pertama kali dari iklan di televisi. Karena penasaran akhirnya saya coba cari di google dan ternyata tulip di Bokka No Sato baru saja mekar jadi pas banget kalau ingin lihat langsung. Di internet saya juga dapat foto foto tentang bunga bunga di Bokka No Sato yang cantik sekali sekaligus beberapa koleksi hewan misalnnya domba, kuda, sapi dan beberapa hewan lain. Terbersit di pikiran kami untuk mengenalkan hewan hewan ini pada si kecil. Yoshi….tujuan selanjutnya sudah ada, Bokka No Sato di Gifu Ken, Gujo Shi. Waktu berangkatnya hari Sabtu, 5 Mei 2012.

Sisa Sisa Salju Nan Jauh Disana

Segera saya cari akses ke Bokka No Sato, ternyata ada 2 bisa lewat jalan yang gratis dan lewat tol dengan jarak sekitar 150 kilometer. Karena pertimbangan waktu, jarak yang jauh, macet dan jalan yang belum hafal saya putuskan untuk lewat jalan tol. Tapi ternyata lewat jalan tol tidak semudah yang dibayangkan. Begitu banyak percabangan benar benar bikin bingung, ditambah padatnya lalulintas dan kecepatan kendaraan membuat bingung jika salah ambil jalan. Saya sempat beberapa kali salah jalan meskipun istri saya sudah melotot melihat navi di handphone kami. Tapi ruwetnya jalan tol ini hanya didalam kota Nagoya, setelah melewati tol dalam kota Nagoya jalan menuju Bokka No Sato begitu mulus.

Terowongan Di Depan Mata

Tol yang menghubungkan Nagoya dengan Gifu dan Fukui ini dinamakan Tol Tokai Hokuriku. Pemandangan selama perjalanan sepanjang 150 kilometer ini benar benar menakjubkan. Saya pernah melewati tol Osaka sampai Nagoya dan Nagoya sampai Shizuoka, tapi tol Tokai Hokuriku antara Nagoya sampai Gifu ini benar benar menantang dan menyenangkan. Jalur tol yang melewati gunung gunung dibuat singkat dengan cara membuat terowongan menembus gunung gunung tersebut. Tidak tanggung tanggung dengan jarak 150 kilometer yang saya tempuh saja ada 28 terowongan yang menembus gunung dengan terowongan terpanjang sekitar 3000 meter. Jika diteruskan sampai Fukui saya tidak tahu sampai ada berapa terowogan. Disamping terowongan yang begitu banyak juga ada jembatan yang tinggi tinggi yang mengubungkan antar gunung tersebut. Pemandangan sisa sisa salju dipuncak gunung dan rute permainan sky di atas gunung menambah kekaguman saya pribadi.

Barisan Tulip

Tapi resiko liburan tetap ada meskipun sudah mengambil rute jalan tol. Masuk ke daerah Gifu kami terkena macet yang luar biasa panjang. Saya pikir ada kecelakaan atau jalan yang rusak. Ternyata bukan, macet disebabkan oleh penyempitan ruas jalan tol dari 2 ruas ke 1 ruas karena akan masuk terowongan. Gara gara macet ini dan salah jalan tadi perjalanan jadi molor diluar perkiraan yang semula 2-3 jam menjadi sekitar 6 jam lebih. Haduh melelahkan sekali.

I Can See You

Singkat cerita kami sampai di Bokka No Sato, waktu menunjukkan jam 14 lewat 45 menit. Bokka No Sato tutup jam 17 jadi masih ada waktu 2 jam, masih cukup.  Wah memang cantik sekali. Deretan bunga tulip yang warna warni benar benar bisa menghilangkan stress. Capek akibat perjalanan, salah jalan dan macet bisa hilang. Si kecil juga antusias sekali dengan domba, kuda, sapi dan hewan lain yang ada. Saya kira si kecil bakal takut, tapi ternyata tidak justru penasaran memegang hewan hewan tersebut. Setelah puas foto foto, istirahat dan makan makanan kecil kami memutuskan pulang. Lagi lagi perjalanan pulang juga diwarnai oleh macet dan salah jalan. Tapi gak apa apa, tinggal pulang jadi bisa nyantai sedikit. Alhamdulillah sampai rumah selamat sekitar jam 9 malam.

Nah itu sedikit cerita liburan golden week 2012. Meskipun capek, ngantuk, pegel, keluar duit banyak tapi benar benar menyenangkan. Liburan berikutnya saya ingin menyusun jadwal berpetualang lagi menyusuri jalan jalan di Jepang. Sekarang semangat kerja dan belajar dulu!

Ganbarimashou!

Tips Mencari Part Time Job Di Jepang

Di Jepang jumlah pelajar asing baik biaya negara maupun biaya sendiri dari tahun ke tahun semakin banyak. Saat ini jumlah pelajar asing paling banyak tetap di pegang oleh pelajar China baru diikuti kemudian oleh Korea Selatan. Dalam proses belajar bahasa Jepang, pelajar dari China diuntungkan dengan modal huruf kanji. Kanji China dan Jepang memang tidak sama persis tapi paling tidak pelajar China tidak kaget dengan huruf kanji yang aneh dan jumlahnya ribuan dan mereka juga sudah tahu strategi atau tehnik menghafal kanji.  Pelajar dari Korea Selatan diuntungkan dengan pola kalimat yang sama dengan antara bahasa Korea dengan Bahasa Jepang. Pengamatan saya pelajar Korea Selatan rata rata juga pintar dalam pelajaran kanji bahkan mampu menyaingi pelajar China.

Kembali ke poin pelajar dengan biaya sendiri. Pelajar dengan biaya sendiri dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah shihiryuugakusei. Shihi artinya biaya sendiri, sedangkan ryuugakusei artinya pelajar asing. Dalam kamus pelajar asing dengan biaya sendiri, yang namanya part time job boleh dikatakan adalah ‘nyawa kedua’ karena dengan penghasilan dari part time job tersebut bisa makan, bayar apartemen, bayar sekolah, bayar telepon, internet dan aktivitas yang lain. Jadi kalau gak ada part time berarti gak bisa makan, gak bisa bayar sekolah, gak bisa sewa apartemen dan lain sebagainya. Ya beginilah resiko pelajar dengan biaya sendiri. Tapi resiko ini tidak bisa dihindari, jadi mau gak mau harus kita hadapi dengan lapang dada dan semangat membara. Disaat seperti ini kita harus ingat tujuan ke Jepang mau ngapain, orang tua kita yang bangga karena anaknya bisa sekolah di Jepang, cita cita tinggi yang kita gantungkan dilangit dan masa depan yang cerah jika kita mampu lolos dari fase perjuangan ini. Jangan menghindar karena menghindar sama saja dengan menyerah yang berarti tidak ada pemasukan dan jika sudah begitu tidak ada kata lain selain pulang ke Indonesia.

Karena soal part time atau dalam istilah bahasa Jepang disebut arubaito ini begitu penting, maka kali ini saya mencoba untuk mengangkat topik tentang tips bagaimana mencari part time di Jepang. Harapan saya semoga sedikit banyak bisa menjadi memberikan gambaran bagi yang ingin mengadu nasib sekolah sambil kerja di Jepang. Tapi sekali lagi, poin terpenting terdapat pada diri kita sendiri yaitu semangat pantang menyerah demi meraih cita cita yang kita gantungkan dilangit sebelum datang ke Jepang. Dibawah ini sedikit demi sedikit akan saya ulas tips tips mencari arubaito atau part time di Jepang.

1. Menulis Curiculum Vitae Yang Baik Dan Menarik Dalam Bahasa Jepang

Sama seperti di Indonesia, dalam proses mencari arubaito kita diwajibkan untuk menulis curiculum vitae atau dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah rirekisho. Format rirekisho ini sudah tetap dan dijual di convinience store atau konbini misalnya saja Lawson, Family Mart, Seven Eleven, Sunkus dan lain sebagainya. Di rirekisho kita diharuskan mengisi nama, tanggal lahir, alamat, nomer telepon, foto berwarna, riwayat sekolah, riwayat kerja, lisence yang kita miliki, hobi, keahlian yang kita miliki dan lain sebagainya. Yang perlu digaris bawahi adalah tulis rirekisho ini dengan jelas, benar tanpa ada tipex dan tulis dengan bahasa Jepang. Jika anda masih belum mengerti bahasa Jepang bisa minta bantuan sama senior atau sensei di sekolah. Rirekisho ini adalah gambaran tentang diri anda dan akan dibaca oleh pihak perusahaan jadi tulis semenarik mungkin.

2. Meminta Bantuan Pihak Sekolah atau Kampus

Pengalaman saya pribadi waktu di sekolah bahasa, saya pernah meminta informasi arubaito pada pihak sekolah dan pihak sekolah bersedia membantu. Peran sekolah ini sangat penting terutama bagi yang baru masuk Jepang, yang masih belum tau sana sini, belum banyak teman dan bahasa Jepang masih belum lancar. Bantuan dari pihak sekolah bisa menjadi jalan yang mulus untuk mendapatkan arubaito dengan cepat. Jadi bagi yang baru masuk Jepang jangan takut atau ragu ragu tanya kepada pihak sekolah, karena mungkin saja rejeki anda lewat tangan pihak sekolah. Bagi yang sudah masuk universitas juga tidak ada salahnya meminta bantuan pihak kampus. Kadang kadang ada arubaito bagi mahasiswanya sendiri, misalnya menjaga perpustakaan diwaktu malam hari.

3. Meminta Bantuan Jaringan Orang Indonesia

Tips ketiga ini juga penting dan cukup manjur saat kita butuh arubaito. Pelajar Indonesia di Jepang biasanya membentuk organisasi sebagai wadah berkumpul, bersilaturahmi dan berbagi pengalaman. Misalnya saja Persatuan Pelajar Indonesia, Kelompok Keluarga Muslim atau sekedar klub main futsal. Dari perkumpulan seperti ini kita bisa mendapatkan informasi arubaito. Keuntungan lainnya karena informasi ini berasal dari teman orang Indonesia, maka ibaratnya kita ada yang membawa sehingga kemungkinan diterima juga lebih besar. Pesan saya, ketika datang ke Jepang carilah teman sebanyak banyaknya. Link teman yang banyak akan membantu anda menemukan arubaito dengan cepat karena di Jepang juga berlaku makin banyak teman makin banyak rejeki. Sekali lagi siapa tahu rejeki berupa informasi arubaito bisa anda dapatkan dari kalangan internal orang Indonesia.

4. Mencari Sendiri Lewat Majalah

Bagi yang sudah lumayan mahir dalam membaca hiragana, katakana dan kanji, tips nomor empat ini patut dijadikan acuan. Di Jepang banyak sekali majalah majalah khusus yang berisi tentang lowongan pekerjaan baik itu part time, full time, karyawan kontrak sampai karyawan tetap. Majalah majalah ini biasanya diterbitkan seminggu sekali dan bisa didapatkan dengan gratis di konbini. Disetiap daerah nama majalahnya bisa berbeda beda tapi isinya sama yaitu lowongan pekerjaan. Di majalah nanti akan dijelaskan jenis pekerjaannya apa, gajinya berapa, jam kerja, kontak person perusahaan dan ketentuan ketentuan yang lain. Sebagai contoh saja nama majalah misalnya domo, town work, change, kyujin dan lain sebagainya.

5. Berani Menelepon Sendiri

Tips terakhir yang bisa saya sampaikan adalah keberanian untuk menelepon sendiri ke pihak perusahaan. Keberanian menelepon sendiri ini bisa menjadi nilai plus sehingga bisa diterima. Sikap cuek kita juga diperlukan dalam kondisi seperti ini karena mungkin akan ada pertanyaan pertanyaan yang tidak kita pahami karena kemampuan bahasa Jepang yang terbatas. Tapi sekali lagi, cuek saja toh kita gak kenal orang yang kita telpon, mukanya seperti apa kita juga tidak tahu. Jadi cuek saja, kalau sudah mentok tidak paham bahasanya ya tinggal tutup telponnya saja….selesai, gitu saja kok repot hehehe. Jika dalam komunikasi lewat telepon ini berlangsung lancar, kemungkinan diterima juga besar karena kita dianggap mempunyai kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Jepang yang memadai.

Ulasan diatas adalah tips tips mencari arubaito di Jepang. Sekali lagi semangat dan keaktivan kita tetap menjadi kunci utama dalam proses mencari arubaito.

Semoga kesuksesan selalu dilimpahkan Alloh SWT kepada kita. Amin. Salam Perjuangan!

Dengan Kartu Kuning Ini Pengobatan Anak Apapun Dan Berapapun Itu Gratis

Kesehatan adalah kunci dan modal utama untuk belajar menuntut ilmu, bekerja, berkarya dan segala macam aktivitas keseharian manusia. Orang Jepang sering mengungkapkan betapa pentingnya kesehatan itu dengan kata kata kenkou ga ichiban yang artinya kesehatan itu nomor satu. Apabila ada yang sakit atau ada yang tidak beres dalam tubuh kita, maka aktivitas kita tidak bisa berjalan efisien bahkan mungkin terhenti sama sekali. Kesehatan individu yang prima dipupuk sedari awal mulai dalam kandungan dan masa anak anak. Dalam tahap ini peranan negara sangat penting dengan memberikan perhatian kesehatan yang maksimal kepada ibu hamil dan anak anak.

Bagian Depan Kodomo Iryou Jukyuushasho

Mengenai perhatian pemerintah terhadap kesehatan anak ini merupakan salah satu hal yang membuat saya salut sama Jepang. Perhatian pemerintah Jepang ini ditujukan baik terhadap  anak anak orang Jepang maupun anak orang asing yang tinggal di Jepang. Di mata pemerintah Jepang anak anak merupakan generasi penerus sekaligus aset bangsa yang akan membangun Jepang pada masa yang akan datang sehingga perlu mendapatkan perhatian kesehatan yang spesial dengan membuat mekanisme jaminan kesehatan yang berlaku menyeluruh di seluruh Jepang.

Prediksi saya pribadi, perhatian pemerintah Jepang yang begitu besar kepada ibu hamil dan anak anak ini dilatar belakangi oleh semakin sedikitnya keinginan orang Jepang untuk menikah dan mempunyai anak. Beban dan biaya hidup yang semakin berat membuat orang Jepang menunda pernikahan sekaligus menunda mempunyai anak. Efek negatifnya seperti yang kita ketahui jumlah penduduk usia lanjut diatas 60 tahun jauh lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia produktif berumur 20-40 tahun. Dalam istilah kependudukan sering disebut dengan istilah piramida terbalik.

Bagian Belakang Kodomo Iryou Jukyuushasho

Saat ini efek negatif dari tidak imbangnya jumlah penduduk usia lanjut dengan penduduk usia muda atau produktif ini terasa dengan makin tingginya pajak penghasilan di Jepang. Pajak yang tinggi ini salah satunya diperuntukkan untuk membiayai kehidupan dan kesehatan penduduk usia lanjut, tentu saja bukan hand to hand tapi diatur dalam mekanisme tertentu oleh pemerintah Jepang.  Efek negatif yang lain menyentuh langsung pada bursa tenaga kerja di Jepang dimana perusahaan Jepang kekurangan atau paling tidak mulai kesulitan untuk mencari tenaga kerja lokal. Hal ini sudah sering sekali dibahas dalam diskusi diskusi ditelevisi maupun juga di surat kabar di Jepang.

Nah, untuk kembali merangsang orang Jepang mempunyai anak maka beranekaragam program atau insentif digulirkan oleh pemerintah Jepang salah satunya adalah program jaminan biaya kesehatan gratis bagi anak atau dalam bahasa Jepang disebut sebagai atau kodomo iryou jukyuushasho. Jaminan kesehatan anak ini berlaku sampai anak berumur 16 tahun. Di tempat saya tinggal yaitu daerah Aichi, kartu kesehatan gratis bagi anak ini berwarna kuning dan berlaku di seluruh rumah sakit di daerah Aichi. Saya tidak tahu di daerah lain berwarna apa, tapi secara prinsip program ini berlaku di seluruh Jepang. Apabila seseorang pindah ke daerah lain, tinggal lapor ke pemerintah daerah atau shiyakusho, kemudian pihak shiyakusho akan mengeluarkan kartu baru yang berlaku di daerah tersebut. Proses registrasinya sangat cepat, bisa selesai dalam waktu 30 menit dan tidak dipungut biaya apapun. Hanya saja, ada satu syarat penting yaitu orang tua harus mempunyai asuransi kesehatan. Tapi ini bukanlah sebuah syarat yang berat karena sistem kesehatan di Jepang mewajibkan semua orang siapapun itu, umur berapapun, baik orang asing maupun orang Jepang mempunyai asuransi kesehatan.

Beberapa Ketentuan Dalam Kodomo Iryou Jukyuushyasho

Pada awalnya saya tidak tahu adanya kartu jaminan kesehatan ini. Saya tahu karena anak saya lahir dan diharuskan pergi ke shiyakusho untuk mengurus berbagai macam administrasi bagi orang asing.  Pertama kali saya kaget dan tidak percaya. Tapi suatu ketika anak saya sakit dan harus dibawa ke dokter, begitu selesai dan mau membayar ternyata dijawab gratis karena memiliki kartu jaminan kesehatan tersebut. Berbagai macam vaksin bagi anak saya juga tidak dipungut biaya sama sekali. Alhamdulillah….meskipun saya tinggal di negara orang paling tidak saya sebagai orang tua merasa tenang karena biaya kesehatan anak saya di jamin oleh sebuah sistem yang hebat sehingga saya bisa all out bekerja dan beraktivitas.

Ada sebuah cerita pribadi yang menjadi salah satu alasan kenapa saya sampai bilang sistem ini merupakan sebuah sistem yang hebat. Ketika istri saya melahirkan di salah satu rumah sakit di tempat saya tinggal, ternyata ada bantuan dari pemerintah yang nilai besar sekali. Sekali lagi bantuan ini berlaku umum diberikan kepada siapa saja dan besarnya sama yaitu 420 ribu yen atau sekitar 42 juta rupiah. Bantuan tersebut khusus untuk membantu proses melahirkan yang disalurkan langsung ke rumah sakit. Saya tidak perlu repot repot harus apply formulir A atau B dan pergi kesana kemari karena bantuan ini otomatis di berikan kepada semua orang lewat rumah sakit tempat melahirkan. Apabila tidak ada masalah dalam proses melahirkan, biaya melahirkan bisa zero yen alias gratis. Apabila ada masalah yang serius, maka tinggal membayar kekurangannya berapa. Saya pribadi merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan ini. Sekedar cerita saja dalam proses persalinan istri saya yang melalui operasi sesar, menghabiskan dana sekitar 490 ribu yen atau sekitar 49 juta rupiah. Karena ada bantuan dari pemerintah Jepang sebesar 42 juta rupiah, saya cukup membayar kekurangannya yaitu sekitar 7 juta rupiah. Sekali lagi saya benar benar merasa terbantu.

Nisa Dengan Buku Kesayangannya

Ada cerita lain lagi yang sungguh membuat saya salut. Bagi yang melahirkan melalui operasi sesar, baik ibu dan bayi diharuskan untuk opname sekitar 10 hari untuk proses pemulihan dan pemeriksaan lanjutan. Anak saya lahir 17 Agustus 2011. Pada pertengahan bulan Maret 2012 atau sekitar 7 bulan setelah proses bersalin, saya mendapatkan surat dari shiyakusho bahwa biaya perawatan bayi setelah lahir selama sekitar 10 hari yang dibayar oleh asuransi harus dikembalikan ke saya karena biaya perawatan untuk bayi adalah gratis. Pada awalnya saya bingung dengan isi surat dari shiyakusho tersebut. Dikembalikan? Maksudnya apa? Saya gak mengeluarkan uang kok dikembalikan? Seingat saya saya hanya membayar sekitar 7 juta rupiah untuk biaya bersalin. Setelah saya cari informasinya, sistem di Jepang menyatakan bahwa biaya bersalin dan biaya perawatan bayi itu dipisah.  Biaya bersalin sebesar sekitar 49 juta disubsidi oleh pemerintah Jepang sebesar 42 juta rupiah, sisanya saya bayar sendiri. Sedangkan biaya perawatan anak dibayar oleh asuransi, jumlahnya hampir sama dengan biaya bersalin. Tapi karena pada hakekatnya biaya yang dibayar asuransi berasal dari uang yang saya bayar perbulan ke pihak asuransi maka harus dikembalikan ke saya. Ahamdulillah….rejeki tidak terduga.

Hal lain yang membuat saya salut adalah kejujuran dan ketelitian pihak pemerintah Jepang. Saya sebagai orang asing terbatas sekali pengetahuannya mengenai hak hak yang bisa dapat, akan tetapi pihak pemerintah Jepang aktif menginformasikan hal tersebut. Bahkan tidak segan segan mengirim surat, telpon bahkan mengirim pesan melalui perusahaan tempat saya bekerja. Semoga saja suatu saat, anak anak di Indonesia juga bisa mendapatkan akses kesehatan khusus anak anak yang luas dan gratis karena anak anak adalah generasi penerus bangsa, yang akan menggantikan kita kelak kemudian hari. Amin….semoga Alloh SWT mengabulkan harapan ini.

Salam hangat dari hangatnya musim semi di Jepang!

Pemandangan Alam

Pemandangan alam di Jepang sedikit demi sedikit akan saya postingkan di blog ini sekedar untuk bagi bagi foto saja.

1. Jalan Tol Tokai Hokuriku

Pemandangan Gunung Di Jalan Tol Tokai Hokuriku Antara Nagoya Sampai Gifu. Diambil 5 Mei 2012, Jam 15 Waktu Jepang.

2. Jalan Tol Tokai Hokuriku

Pemandangan Dengan Latar Belakang Gunung Tempat Main Ski Di Daerah Gifu. Diambil Di Tempat Istirahat Hirugano Takabara Jalan Tol Tokai Hokuriku Antara Nagoya – Gifu. Diambil 5 Mei 2012 Jam 15 Waktu Jepang.

3. Terowongan Tol Tokai Hokuriku

Pemandangan Salah Satu Terowongan Di Tol Tokai Hokuriku Antara Nagoya Sampai Gifu. Diambil 5 Mei 2012 Jam 13 Waktu Jepang.

4. Mulut Terowongan Tol Tokai Hokuriku

Pemandangan Disalah Satu Mulut Terowongan Di Tol Tokai Hokuriku Antara Nagoya Sampai Gifu. Diambil 5 Mei 2012 Jam 13 Waktu Jepang.

Musim Panas 2011 Menyambut Kelahiran Buah Hatiku

Mempunyai keturunan bagi orang yang menikah adalah impian sebagian besar orang karena dengan mempunyai keturunan berarti salah satu tujuan menikah sudah tercapai. Sedangkan tujuan mempunyai keturunan itu bisa berbagai macam,  saya ambil contoh yang paling gampang saja misalnya regenerasi. Dalam postingan ini saya akan sedikit cerita mengenai pengalaman suka duka mendampingi istri melahirkan di Jepang. Ini salah satu episode pengalaman di Jepang yang sangat penting, yang sangat berkesan dan akan selalu saya ingat selama hidup saya.

Foto Nisa Pada Saat Lahir, 17 Agustus 2011 Jam 18:27 Waktu Jepang.

Setelah berbagai macam persiapan yang sebagian besar saya serahkan kepada orangtua dan saudara di Indonesia dan tiba waktu yang telah disepakati, akhirnya saya menikah di akhir bulan november 2010, umur saya waktu itu 30 tahun. Dilihat dari umur, menurut saya umur 30 tahun masuk dalam range yang tepat, tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua. Alhamdulillah, sekolah sudah lulus dan kerjaan juga sudah ada, jadi bisa swadaya membiayai dari proses tunangan sampai tahap pernikahan. Sesuatu yang sangat saya syukuri.

Ijin cuti dari perusahaan untuk menikah turun tapi dengan waktu yang sangat terbatas yaitu 2 minggu. Saya katakan terbatas karena untuk sekali jalan dari Jepang  ke Indonesia saja butuh 1 hari. Saat itu gunung merapi lagi meletus jadi pesawat tidak bisa mendarat di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, karena bandara ditutup untuk penerbangan. Sebagai gantinya turun di Jakarta, menginap semalam baru melanjutkan perjalanan pakai pesawat tapi turun di Solo. Pulang tidak bisa langsung menikah karena memang masih ada satu dua persiapan yang belum selesai. Perjalanan darat rombongan dari Yogyakarta ke tempat istri di Jakarta juga makan waktu semalam. Praktis sekali, waktu 2 minggu efektif malah boleh dikatakan pas pasan. Tapi Alhamdulillah, semua berjalan lancar sesuai dengan rencana.

Setelah acara pernikahan, masih ada sisa beberapa hari yang diisi dengan silaturohmi ke saudara dan jalan jalan bersama istri tercinta ^_^  akhirnya jadwalnya balik ke Jepang. Sampai di Jepang segera saya urus berkas berkas untuk mengajukan visa bagi istri. Ditengah proses melengkapi berkas visa, ternyata saya dapat kabar bahwa istri hamil. Awalnya saya kaget, kok cepet banget. kok bisa gitu hehehe. Jujur saja, rencana awal saya adalah menunda dulu mempunyai momongan sekitar 2-3 tahun karena harus persiapan untuk mengejar dan mencapai rencana lain. Jadi berita kalo istri hamil pada awalnya membuat saya kaget, gak percaya dan bingung karena keluar dari rencana awal. Tapi setelah bisa berfikir jernih dan mengendalikan pikiran, alhamdulillah bisa menerima. Mulai saat itu saya bersiap siap untuk menjadi seorang ayah ^_^

Nisa Lagi Mandi, Umur 3 Bulan.

Karena istri lagi hamil muda akhirnya rencana untuk apply visa diundur beberapa minggu, karena pernah dengar cerita kalau hamil muda itu tidak dianjurkan untuk naik pesawat apalagi dalam jangka waktu yang lama. Setelah kira kira waktunya tepat, segera saya apply visa buat istri di imigrasi Nagoya. Ternyata prosesnya memerlukan waktu yang cukup lama, ada sekitar 1 bulan. Setelah visa keluar segera saya kirim ke Indonesia untuk di bawa ke kedutaan besar Jepang di Jakarta. Setelah visa, tiket dan persiapan persiapan lain oke, akhirnya istri bisa nyusul saya ke Jepang sekitar akhir bulan maret 2011. Ada perbedaan yang mencolok yang saya lihat ketika bertemu dengan istri di bandara , apa itu? Perutnya sudah besar hehehe.

Setelah istirahat 2-3 hari, segera saya urus administrasi istri di kantor walikota (Shiyakusho) dan lapor ke tempat saya bekerja. Administrasi di Shiyakusho yaitu mengurus KTP Jepang dan ke tempat kerja untuk mengurus tunjangan keluarga, tunjangan istri dan asuransi kesehatan. Untuk asuransi kesehatan ternyata ada kendala, yaitu harus menunggu KTP Jepang sampai jadi terlebih dahulu. Padahal asuransi kesehatan ini sangat penting karena akan digunakan untuk memeriksakan perkembangan janin di rumah sakit. Di jepang, kedudukan asuransi kesehatan itu sangat penting. Kita bisa periksa ke rumah sakit tanpa asuransi kesehatan, tapi biayanya sangat mahal karena harus membayar 100%, sedangkan jika ada asuransi kesehatan cukup membayar 30%. Alhasil, karena kendala asuransi kesehatan tersebut pemerikasaan perkembangan janin bulan ke 4 terpaksa tidak bisa dilakukan. Saat itu saya pribadi cukup kepikiran dengan pemerikasaan perkembangan janin yang terpaksa tidak bisa dilakukan ini.

Akhirnya setelah menunggu sekitar 3 minggu, akhirnya KTP Jepang istri saya selesai juga. Segera saya ambil ke Shiyakusho dan saya bawa ke kantor untuk melanjutkan pengurusan asuransi kesehatan. Proses pengurusan asuransi kesehatan ini juga memerlukan waktu yang cukup lama, normalnya sekitar 1 minggu. Tapi karena proses pendaftaran asuransi terbentur liburan golden week sekitar 1 minggu, akhirnya molor menjadi 2 minggu lebih. Dalam hati saya terus berfikir tentang janin dalam kandungan istri saya….bagaimana kabarmu sayang?

Nisa Umur 7 Bulan ^_^

Setelah menunggu kurang lebih 5 mingguan, akhirnya asuransi kesehatan istri saya jadi juga. Selama proses menunggu itu saya berusaha nyari informasi rumah sakit dan klinik bersalin dengan cara bertanya pada teman kerja baik orang jepang maupun asing dan juga lewat internet. Dengan pertimbangan hari dan jam kerja, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke sebuah klinik bersalin yang cukup terkenal di daerah tempat saya tinggal. Pemikiran saya karena klinik ini buka sampai hari sabtu, saya bisa mengantar istri tanpa harus mengambil libur kerja. Sampai di kliniknya saya ceritakan bahwa istri saya datang ke Jepang dalam keadaan hamil dan selama di Indonesia rutin pergi ke rumah sakit untuk periksa kehamilan. Saya juga ceritakan, karena harus mengurus asuransi kesehatan terlebih dahulu, setelah sampai Jepang tidak bisa langsung pergi ke rumah sakit untuk periksa kehamilan. Setelah berkomunikasi dengan perawat dan dokter di klinik tersebut, mereka mohon maaf karena tidak bisa memeriksa kehamilan istri saya. Alasannya, istri saya datang ketika umur kehamilan sudah sekitar 5 bulan, jadi sangat beresiko. Mereka kwawatir karena tidak ada rekam medis yang cukup, hal itu dapat membahayakan ibu dan bayi yang dikandung. Terus mereka menyarankan untuk pergi ke rumah sakit yang lebih besar, yang dokternya spesialisnya lebih bervariasi dan alatnya lebih lengkap agar bisa diperiksa lebih teliti. Ditolak dengan halus seperti itu saya jadi sedikit gimana gitu… sedih,kwawatir dll campur aduk deh pokoknya. Tapi saya menghargai pendapat mereka, karena saya yakin mereka bekerja secara obyektif dan profesional.

Akhirnya saya pergi ke rumah sakit yang disarankan oleh pihak klinik bersalin tersebut. Setelah proses administrasi selesai dan antri cukup lama, giliran kami dipanggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Komunikasi mulai dibuka dengan menceritakan kondisi yang ada diikuti dengan beberapa pemeriksaan yang lain. Sampai akhirnya kami mendengar penjelasan dokter, dia menyatakan kalau didasarkan pada umur janin, ukuran janin masuk kategori kecil. Tapi alhamdulillah poin poin yang lain dalam kondisi normal. Pertama kali juga saya melihat langsung kondisi janin anak saya di layar komputer. Alhamdulillah, kamu sehat nak…..begitu pikiran saya saat itu.

Waktupun terus berjalan, bulan berikutnya kami pergi ke rumah sakit lagi. Alhamdulillah meskipun masuk kategori kecil tapi berat janin makin bertambah, janin dan istri juga dalam kondisi sehat. Tapi saat itu dokter sedikit berkerut dahi, seolah bertanya pada dirinya sendiri….dokter bilang kok tali pusernya kelihatan pendek ya? Dikatakan pendek atau panjang itu seberapa, berapa centi atau berapa meter saya sendiri juga tidak tahu. Tapi logikanya jika tali puser pendek, makan janin akan susah keluar karena tertahan oleh tali puser tadi. Kesimpulan saat itu, dokter akan melihat perkembangan kehamilan 1 bulan kedepan gimana.

Nisa Umur 8 Bulan ^_^

Bulan berikutnya istri pergi sendiri ke rumah sakit lagi untuk pemeriksaan rutin. Dua poin sebagai catatan penting yaitu ukuran janin yang relatif kecil dan tali pusar yang pendek kembali dibicarakan oleh dokter. Dokter mengatakan jika kondisi terus demikian sangat berbahaya bagi janin yang dikandung, sehingga untuk mencegah hal buruk terjadi mungkin akan dilakukan operasi sesar. Mendengar cerita istri seperti ini saya kaget, wah harus operasi sesar gitu? Suatu proses yang meskipun sudah biasa di dunia medis tapi tetap menjadi ketakutan bagi kita. Dalam hati saya berdoa, semoga hal yang disampaikan oleh dokter tersebut tidak terjadi dalam proses persalinan nanti.

Mendekati 1 bulan sebelum perkiraan hari kelahiran pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter frekuensinya menjadi lebih sering. Awalnya sebulan sekali menjadi dua minggu sekali. Oh iya, perkiraan lahir buah hati saya ini adalah akhir bulan agustus. Pada pemeriksaan pertengahan agustus, kalau tidak salah tanggal 15 Agustus, menurut dokter terjadi perubahan yang cukup signifikan yang membuat dokter menjadi bimbang mengenai keputusan untuk melakukan operasi sesar. Setelah pemeriksaan MRI sampai 2 kali disimpulkan bahwa berat badan janin bertambah dan panjang tali pusar dinyatakan masuk kategori normal. Setelah para dokter berdiskusi akhirnya diputuskan proses kelahiran dilakukan secara normal bukan melalui operasi sesar. Sampai dirumah istri cerita mengenai hasil pemeriksaan ini, saya senang luar biasa. Alhamdulillah bisa melahirkan melalui proses yang normal.

Hari itu tanggal 17 Agustus 2011, di Jepang kebetulan juga hari libur. Saya pergi ke apartemen lama untuk bersih bersih karena akhir bulan harus diserahkan kembali ke pengelola apartemen. Istri tetap di apartemen yang baru. Sebelumnya saya tinggal di apartemen yang single room, tapi setelah istri datang ke Jepang dan anak juga mau lahir saya nyari apartemen yang untuk keluarga. Alhamdulillah dapat dan pindah awal bulan Agustus. Waktu saya sedang bersih bersih kamar mandi, sekitar jam 15 ada telpon dari istri saya. Istri berkata, mas….kayaknya ketubannya pecah, cepat pulang. Mendengar itu saya tiba tiba jadi deg degan, segera saya pulang ke apartemen baru. Sebelumnya saya minta istri agar bersiap siap biar langsung bisa berangkat ke rumah sakit. Sampai apartemen istri sudah siap, tanpa menunggu apapun langsung berangkat ke rumah sakit.

Nisa Umur 8 Bulan ^_^

Sampai di rumah sakit segera mendapatkan penanganan medis dari dokter. Setelah dicek ternyata posisi kepala bayi masih diatas jadi masih perlu waktu yang lama, tapi ketuban ternyata pecah duluan. Ada satu hal yang jadi kekwawatiran dokter saat itu, yaitu setelah dicek dengan alat selama sekitar 1 jam ternyata denyut jantung bayi masuk kategori lemah. Ini berbahaya, pasti ada masalah serius. Dari grafik yang keluar, memang saya lihat sendiri grafiknya itu landai landai saja, tidak terlihat grafik naik turun yang signifikan. Istri juga mengiyakan dan merasakan perbedaan tingkah laku bayi didalam perut. Sebelum pemeriksaan tanggal 15 bayi sangat aktif bergerak . Tapi tanggal 16 istri merasakan kok bayi kurang aktif bergerak. Melihat kondisi itu, akhirnya dokter langsung memutuskan demi menyelamatkan nyawa bayi dan ibunya, harus segera dilakukan operasi. Jika tidak segera dioperasi bisa berakibat fatal. Mendengar itu, saya kaget, deg degan….pasrah dll campur aduk. Istri juga demikian. Karena saya bukan dokter yang mengerti detail soal kesehatan atau ilmu kedokteran dan saya juga berfikir positif bahwa dokter sudah bekerja sesuai dengan prosedur dan pertimbangan yang matang  akhirnya saya dan istri meng-iyakan anjuran dokter tersebut. Segera dibuat jadwal dadakan operasi sesar untuk istri saya. Di jadwalkan jam 18 waktu Jepang. Saat itu saya benar benar panik, deg degan, pening, cemas dll….sampai tidak bisa ngomong apa apa. Saya bicara ke istri supaya tenang dan jangan kwawatir….meskipun saya sendiri pikirannya gak karuan.

Jam 17.30an istri dibawa ke ruang operasi, saya antar sampai depan pintu. Beberapa perawat berusaha menghibur agar suasana menjadi lebih cair. Setelah istri masuk ruang operasi, saya menunggu di ruang tunggu operasi bersama satu orang Jepang. Tidak ada teman atau keluarga. Proses yang cepat sekali membuat saya tidak berfikir sama sekali untuk menghubungi teman saya. Sedang keluarga semuanya ada di Indonesia. Sambil menunggu saya berdoa semoga Alloh SWT melancarkan operasi sesar ini. Jantung saya berdegup kencang dan dada terasa sesak sekali. Setelah menunggu sekitar 1 jam, ada yang didorong keluar. Saya kira anak atau istri saya…ternyata bukan, orang lain yang baru selesai operasi. Saya berfikir, kok lama sekali operasinya? ada apa? gimana keadaan istri dan anak saya? Sekitar 15 menit kemudian ada yang keluar dari ruang operasi mendorong kereta yang diatasnya ada inkubator dan didalamnya ada bayi mungil sekali yang cantik sekali….perawat yang menyertainya mengucapkan selamat pada saya…omedetou gozaimasu katanya. Lega rasanya….alhamdulillah buah hati saya lahir selamat. Tapi kok tidak ada tangisnya seperti bayi pada umumnya? Kok gak ada suaranya? Kenapa yang ada hanya kabel dan selang yang menempel ditubuh anakku? Ada apa? Berbagai macam pertanyaan dalam benak saya yang ingin saya sampaikan ke perawat yang ada, tapi sebelum saya mengajukan pertanyaan ini mereka sudah menjelaskan terlebih dahulu. Katanya tali pusar melilit kepala bayi, ini yang menyebabkan bayi kondisinya lemah. Mungkin asupan nutrisi tidak lancar atau tidak bisa bernafas secara normal. Ada satu penjelasan yang tidak akan bisa saya lupakan, mereka memberi penjelasan bayi lahir dalam kondisi tidak bernafas dan jantungnya tidak berdenyut. Tapi setelah dilakukan upaya medis, akhirnya bisa kembali bernafas dan jantungnya kembali berdenyut. Dalam buku panduan ibu dan anak yang dikeluarkan pihak rumah sakit….buah hati saya ini ditulis lahir dalam kondisi ‘meninggal’ tapi kemudian bisa ‘hidup kembali’. Alhamdulillah…..Saya sangat bersyukur. Saya juga sangat berterimakasih kepada dokter dan perawat yang telah bekerja obyektif, maksimal dan profesional.

Hari hari berikutnya diisi dengan hal hal yang menyenangkan. Alhamdulillah buah hati saya kondisi semakin baik dan kuat. Kelihatan mungil, cantik dan menyenangkan sekali. Setelah ngobrol sama istri, akhirnya nama untuk anak saya yang pertama ini bisa ditetapkan.  Anak saya ini lahir 17 Agustus 2011 bertepatan dengan puncak musim panas 2011, jam 18:27 waktu Jepang, tempatnya di rumah sakit Kariya Toyota Sogo Byouin, Aichi Prefecture, Jepang. Karena lahir melalui proses operasi sesar maka diperlukan tindakan lebih lanjut untuk memulihkan kondisi ibu yang melahirkan dan memastikan kondisi anak yang dilahirkan, biasanya sekitar 9-10 hari. Setelah istri dan buah hati dinyatakan baik, kuat dan pulih akhirnya dibolehkan pulang oleh dokter. Alhamdulillah….selamat datang sayang, terimakasih sudah meramaikan hari hari papa dan mama ^_^

6 Mei 2012, Aichi, Jepang