Musim Panas 2011 Menyambut Kelahiran Buah Hatiku

Mempunyai keturunan bagi orang yang menikah adalah impian sebagian besar orang karena dengan mempunyai keturunan berarti salah satu tujuan menikah sudah tercapai. Sedangkan tujuan mempunyai keturunan itu bisa berbagai macam,  saya ambil contoh yang paling gampang saja misalnya regenerasi. Dalam postingan ini saya akan sedikit cerita mengenai pengalaman suka duka mendampingi istri melahirkan di Jepang. Ini salah satu episode pengalaman di Jepang yang sangat penting, yang sangat berkesan dan akan selalu saya ingat selama hidup saya.

Foto Nisa Pada Saat Lahir, 17 Agustus 2011 Jam 18:27 Waktu Jepang.

Setelah berbagai macam persiapan yang sebagian besar saya serahkan kepada orangtua dan saudara di Indonesia dan tiba waktu yang telah disepakati, akhirnya saya menikah di akhir bulan november 2010, umur saya waktu itu 30 tahun. Dilihat dari umur, menurut saya umur 30 tahun masuk dalam range yang tepat, tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua. Alhamdulillah, sekolah sudah lulus dan kerjaan juga sudah ada, jadi bisa swadaya membiayai dari proses tunangan sampai tahap pernikahan. Sesuatu yang sangat saya syukuri.

Ijin cuti dari perusahaan untuk menikah turun tapi dengan waktu yang sangat terbatas yaitu 2 minggu. Saya katakan terbatas karena untuk sekali jalan dari Jepang  ke Indonesia saja butuh 1 hari. Saat itu gunung merapi lagi meletus jadi pesawat tidak bisa mendarat di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, karena bandara ditutup untuk penerbangan. Sebagai gantinya turun di Jakarta, menginap semalam baru melanjutkan perjalanan pakai pesawat tapi turun di Solo. Pulang tidak bisa langsung menikah karena memang masih ada satu dua persiapan yang belum selesai. Perjalanan darat rombongan dari Yogyakarta ke tempat istri di Jakarta juga makan waktu semalam. Praktis sekali, waktu 2 minggu efektif malah boleh dikatakan pas pasan. Tapi Alhamdulillah, semua berjalan lancar sesuai dengan rencana.

Setelah acara pernikahan, masih ada sisa beberapa hari yang diisi dengan silaturohmi ke saudara dan jalan jalan bersama istri tercinta ^_^  akhirnya jadwalnya balik ke Jepang. Sampai di Jepang segera saya urus berkas berkas untuk mengajukan visa bagi istri. Ditengah proses melengkapi berkas visa, ternyata saya dapat kabar bahwa istri hamil. Awalnya saya kaget, kok cepet banget. kok bisa gitu hehehe. Jujur saja, rencana awal saya adalah menunda dulu mempunyai momongan sekitar 2-3 tahun karena harus persiapan untuk mengejar dan mencapai rencana lain. Jadi berita kalo istri hamil pada awalnya membuat saya kaget, gak percaya dan bingung karena keluar dari rencana awal. Tapi setelah bisa berfikir jernih dan mengendalikan pikiran, alhamdulillah bisa menerima. Mulai saat itu saya bersiap siap untuk menjadi seorang ayah ^_^

Nisa Lagi Mandi, Umur 3 Bulan.

Karena istri lagi hamil muda akhirnya rencana untuk apply visa diundur beberapa minggu, karena pernah dengar cerita kalau hamil muda itu tidak dianjurkan untuk naik pesawat apalagi dalam jangka waktu yang lama. Setelah kira kira waktunya tepat, segera saya apply visa buat istri di imigrasi Nagoya. Ternyata prosesnya memerlukan waktu yang cukup lama, ada sekitar 1 bulan. Setelah visa keluar segera saya kirim ke Indonesia untuk di bawa ke kedutaan besar Jepang di Jakarta. Setelah visa, tiket dan persiapan persiapan lain oke, akhirnya istri bisa nyusul saya ke Jepang sekitar akhir bulan maret 2011. Ada perbedaan yang mencolok yang saya lihat ketika bertemu dengan istri di bandara , apa itu? Perutnya sudah besar hehehe.

Setelah istirahat 2-3 hari, segera saya urus administrasi istri di kantor walikota (Shiyakusho) dan lapor ke tempat saya bekerja. Administrasi di Shiyakusho yaitu mengurus KTP Jepang dan ke tempat kerja untuk mengurus tunjangan keluarga, tunjangan istri dan asuransi kesehatan. Untuk asuransi kesehatan ternyata ada kendala, yaitu harus menunggu KTP Jepang sampai jadi terlebih dahulu. Padahal asuransi kesehatan ini sangat penting karena akan digunakan untuk memeriksakan perkembangan janin di rumah sakit. Di jepang, kedudukan asuransi kesehatan itu sangat penting. Kita bisa periksa ke rumah sakit tanpa asuransi kesehatan, tapi biayanya sangat mahal karena harus membayar 100%, sedangkan jika ada asuransi kesehatan cukup membayar 30%. Alhasil, karena kendala asuransi kesehatan tersebut pemerikasaan perkembangan janin bulan ke 4 terpaksa tidak bisa dilakukan. Saat itu saya pribadi cukup kepikiran dengan pemerikasaan perkembangan janin yang terpaksa tidak bisa dilakukan ini.

Akhirnya setelah menunggu sekitar 3 minggu, akhirnya KTP Jepang istri saya selesai juga. Segera saya ambil ke Shiyakusho dan saya bawa ke kantor untuk melanjutkan pengurusan asuransi kesehatan. Proses pengurusan asuransi kesehatan ini juga memerlukan waktu yang cukup lama, normalnya sekitar 1 minggu. Tapi karena proses pendaftaran asuransi terbentur liburan golden week sekitar 1 minggu, akhirnya molor menjadi 2 minggu lebih. Dalam hati saya terus berfikir tentang janin dalam kandungan istri saya….bagaimana kabarmu sayang?

Nisa Umur 7 Bulan ^_^

Setelah menunggu kurang lebih 5 mingguan, akhirnya asuransi kesehatan istri saya jadi juga. Selama proses menunggu itu saya berusaha nyari informasi rumah sakit dan klinik bersalin dengan cara bertanya pada teman kerja baik orang jepang maupun asing dan juga lewat internet. Dengan pertimbangan hari dan jam kerja, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke sebuah klinik bersalin yang cukup terkenal di daerah tempat saya tinggal. Pemikiran saya karena klinik ini buka sampai hari sabtu, saya bisa mengantar istri tanpa harus mengambil libur kerja. Sampai di kliniknya saya ceritakan bahwa istri saya datang ke Jepang dalam keadaan hamil dan selama di Indonesia rutin pergi ke rumah sakit untuk periksa kehamilan. Saya juga ceritakan, karena harus mengurus asuransi kesehatan terlebih dahulu, setelah sampai Jepang tidak bisa langsung pergi ke rumah sakit untuk periksa kehamilan. Setelah berkomunikasi dengan perawat dan dokter di klinik tersebut, mereka mohon maaf karena tidak bisa memeriksa kehamilan istri saya. Alasannya, istri saya datang ketika umur kehamilan sudah sekitar 5 bulan, jadi sangat beresiko. Mereka kwawatir karena tidak ada rekam medis yang cukup, hal itu dapat membahayakan ibu dan bayi yang dikandung. Terus mereka menyarankan untuk pergi ke rumah sakit yang lebih besar, yang dokternya spesialisnya lebih bervariasi dan alatnya lebih lengkap agar bisa diperiksa lebih teliti. Ditolak dengan halus seperti itu saya jadi sedikit gimana gitu… sedih,kwawatir dll campur aduk deh pokoknya. Tapi saya menghargai pendapat mereka, karena saya yakin mereka bekerja secara obyektif dan profesional.

Akhirnya saya pergi ke rumah sakit yang disarankan oleh pihak klinik bersalin tersebut. Setelah proses administrasi selesai dan antri cukup lama, giliran kami dipanggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Komunikasi mulai dibuka dengan menceritakan kondisi yang ada diikuti dengan beberapa pemeriksaan yang lain. Sampai akhirnya kami mendengar penjelasan dokter, dia menyatakan kalau didasarkan pada umur janin, ukuran janin masuk kategori kecil. Tapi alhamdulillah poin poin yang lain dalam kondisi normal. Pertama kali juga saya melihat langsung kondisi janin anak saya di layar komputer. Alhamdulillah, kamu sehat nak…..begitu pikiran saya saat itu.

Waktupun terus berjalan, bulan berikutnya kami pergi ke rumah sakit lagi. Alhamdulillah meskipun masuk kategori kecil tapi berat janin makin bertambah, janin dan istri juga dalam kondisi sehat. Tapi saat itu dokter sedikit berkerut dahi, seolah bertanya pada dirinya sendiri….dokter bilang kok tali pusernya kelihatan pendek ya? Dikatakan pendek atau panjang itu seberapa, berapa centi atau berapa meter saya sendiri juga tidak tahu. Tapi logikanya jika tali puser pendek, makan janin akan susah keluar karena tertahan oleh tali puser tadi. Kesimpulan saat itu, dokter akan melihat perkembangan kehamilan 1 bulan kedepan gimana.

Nisa Umur 8 Bulan ^_^

Bulan berikutnya istri pergi sendiri ke rumah sakit lagi untuk pemeriksaan rutin. Dua poin sebagai catatan penting yaitu ukuran janin yang relatif kecil dan tali pusar yang pendek kembali dibicarakan oleh dokter. Dokter mengatakan jika kondisi terus demikian sangat berbahaya bagi janin yang dikandung, sehingga untuk mencegah hal buruk terjadi mungkin akan dilakukan operasi sesar. Mendengar cerita istri seperti ini saya kaget, wah harus operasi sesar gitu? Suatu proses yang meskipun sudah biasa di dunia medis tapi tetap menjadi ketakutan bagi kita. Dalam hati saya berdoa, semoga hal yang disampaikan oleh dokter tersebut tidak terjadi dalam proses persalinan nanti.

Mendekati 1 bulan sebelum perkiraan hari kelahiran pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter frekuensinya menjadi lebih sering. Awalnya sebulan sekali menjadi dua minggu sekali. Oh iya, perkiraan lahir buah hati saya ini adalah akhir bulan agustus. Pada pemeriksaan pertengahan agustus, kalau tidak salah tanggal 15 Agustus, menurut dokter terjadi perubahan yang cukup signifikan yang membuat dokter menjadi bimbang mengenai keputusan untuk melakukan operasi sesar. Setelah pemeriksaan MRI sampai 2 kali disimpulkan bahwa berat badan janin bertambah dan panjang tali pusar dinyatakan masuk kategori normal. Setelah para dokter berdiskusi akhirnya diputuskan proses kelahiran dilakukan secara normal bukan melalui operasi sesar. Sampai dirumah istri cerita mengenai hasil pemeriksaan ini, saya senang luar biasa. Alhamdulillah bisa melahirkan melalui proses yang normal.

Hari itu tanggal 17 Agustus 2011, di Jepang kebetulan juga hari libur. Saya pergi ke apartemen lama untuk bersih bersih karena akhir bulan harus diserahkan kembali ke pengelola apartemen. Istri tetap di apartemen yang baru. Sebelumnya saya tinggal di apartemen yang single room, tapi setelah istri datang ke Jepang dan anak juga mau lahir saya nyari apartemen yang untuk keluarga. Alhamdulillah dapat dan pindah awal bulan Agustus. Waktu saya sedang bersih bersih kamar mandi, sekitar jam 15 ada telpon dari istri saya. Istri berkata, mas….kayaknya ketubannya pecah, cepat pulang. Mendengar itu saya tiba tiba jadi deg degan, segera saya pulang ke apartemen baru. Sebelumnya saya minta istri agar bersiap siap biar langsung bisa berangkat ke rumah sakit. Sampai apartemen istri sudah siap, tanpa menunggu apapun langsung berangkat ke rumah sakit.

Nisa Umur 8 Bulan ^_^

Sampai di rumah sakit segera mendapatkan penanganan medis dari dokter. Setelah dicek ternyata posisi kepala bayi masih diatas jadi masih perlu waktu yang lama, tapi ketuban ternyata pecah duluan. Ada satu hal yang jadi kekwawatiran dokter saat itu, yaitu setelah dicek dengan alat selama sekitar 1 jam ternyata denyut jantung bayi masuk kategori lemah. Ini berbahaya, pasti ada masalah serius. Dari grafik yang keluar, memang saya lihat sendiri grafiknya itu landai landai saja, tidak terlihat grafik naik turun yang signifikan. Istri juga mengiyakan dan merasakan perbedaan tingkah laku bayi didalam perut. Sebelum pemeriksaan tanggal 15 bayi sangat aktif bergerak . Tapi tanggal 16 istri merasakan kok bayi kurang aktif bergerak. Melihat kondisi itu, akhirnya dokter langsung memutuskan demi menyelamatkan nyawa bayi dan ibunya, harus segera dilakukan operasi. Jika tidak segera dioperasi bisa berakibat fatal. Mendengar itu, saya kaget, deg degan….pasrah dll campur aduk. Istri juga demikian. Karena saya bukan dokter yang mengerti detail soal kesehatan atau ilmu kedokteran dan saya juga berfikir positif bahwa dokter sudah bekerja sesuai dengan prosedur dan pertimbangan yang matang  akhirnya saya dan istri meng-iyakan anjuran dokter tersebut. Segera dibuat jadwal dadakan operasi sesar untuk istri saya. Di jadwalkan jam 18 waktu Jepang. Saat itu saya benar benar panik, deg degan, pening, cemas dll….sampai tidak bisa ngomong apa apa. Saya bicara ke istri supaya tenang dan jangan kwawatir….meskipun saya sendiri pikirannya gak karuan.

Jam 17.30an istri dibawa ke ruang operasi, saya antar sampai depan pintu. Beberapa perawat berusaha menghibur agar suasana menjadi lebih cair. Setelah istri masuk ruang operasi, saya menunggu di ruang tunggu operasi bersama satu orang Jepang. Tidak ada teman atau keluarga. Proses yang cepat sekali membuat saya tidak berfikir sama sekali untuk menghubungi teman saya. Sedang keluarga semuanya ada di Indonesia. Sambil menunggu saya berdoa semoga Alloh SWT melancarkan operasi sesar ini. Jantung saya berdegup kencang dan dada terasa sesak sekali. Setelah menunggu sekitar 1 jam, ada yang didorong keluar. Saya kira anak atau istri saya…ternyata bukan, orang lain yang baru selesai operasi. Saya berfikir, kok lama sekali operasinya? ada apa? gimana keadaan istri dan anak saya? Sekitar 15 menit kemudian ada yang keluar dari ruang operasi mendorong kereta yang diatasnya ada inkubator dan didalamnya ada bayi mungil sekali yang cantik sekali….perawat yang menyertainya mengucapkan selamat pada saya…omedetou gozaimasu katanya. Lega rasanya….alhamdulillah buah hati saya lahir selamat. Tapi kok tidak ada tangisnya seperti bayi pada umumnya? Kok gak ada suaranya? Kenapa yang ada hanya kabel dan selang yang menempel ditubuh anakku? Ada apa? Berbagai macam pertanyaan dalam benak saya yang ingin saya sampaikan ke perawat yang ada, tapi sebelum saya mengajukan pertanyaan ini mereka sudah menjelaskan terlebih dahulu. Katanya tali pusar melilit kepala bayi, ini yang menyebabkan bayi kondisinya lemah. Mungkin asupan nutrisi tidak lancar atau tidak bisa bernafas secara normal. Ada satu penjelasan yang tidak akan bisa saya lupakan, mereka memberi penjelasan bayi lahir dalam kondisi tidak bernafas dan jantungnya tidak berdenyut. Tapi setelah dilakukan upaya medis, akhirnya bisa kembali bernafas dan jantungnya kembali berdenyut. Dalam buku panduan ibu dan anak yang dikeluarkan pihak rumah sakit….buah hati saya ini ditulis lahir dalam kondisi ‘meninggal’ tapi kemudian bisa ‘hidup kembali’. Alhamdulillah…..Saya sangat bersyukur. Saya juga sangat berterimakasih kepada dokter dan perawat yang telah bekerja obyektif, maksimal dan profesional.

Hari hari berikutnya diisi dengan hal hal yang menyenangkan. Alhamdulillah buah hati saya kondisi semakin baik dan kuat. Kelihatan mungil, cantik dan menyenangkan sekali. Setelah ngobrol sama istri, akhirnya nama untuk anak saya yang pertama ini bisa ditetapkan.  Anak saya ini lahir 17 Agustus 2011 bertepatan dengan puncak musim panas 2011, jam 18:27 waktu Jepang, tempatnya di rumah sakit Kariya Toyota Sogo Byouin, Aichi Prefecture, Jepang. Karena lahir melalui proses operasi sesar maka diperlukan tindakan lebih lanjut untuk memulihkan kondisi ibu yang melahirkan dan memastikan kondisi anak yang dilahirkan, biasanya sekitar 9-10 hari. Setelah istri dan buah hati dinyatakan baik, kuat dan pulih akhirnya dibolehkan pulang oleh dokter. Alhamdulillah….selamat datang sayang, terimakasih sudah meramaikan hari hari papa dan mama ^_^

6 Mei 2012, Aichi, Jepang

4 thoughts on “Musim Panas 2011 Menyambut Kelahiran Buah Hatiku

  1. Assalamualaikum…
    menarik sekali membaca pengalaman mas hidup di jepang… bikin saya makin ingin kesana… ^_^
    kebetulan suami saya juga baru akan berangkat kesana untuk kerja di daerah aichi…
    siapa tau saya berkesempatan bisa tinggal disana seperti keluarga mas… mohon infonya lewat email apa saja kesulitan & ketentuan apabila ingin membawa keluarga kesana. terima kasih🙂

    • salam kenal. terimakasih sudah mampir ke blog saya. o gitu? aichi-nya didaerah mana ya? kalau boleh tau emailnya apa? nanti biar email-an langsung sama istri saya. biar enak ^_^

  2. Very Nice story Mas🙂
    Omedetou untuk tahun2 pertama pernikahannya,,
    semoga hari2 ke depannya ずっとお幸せに、、、
    salam buat si keciL ^_^🙂

  3. salam kenal…🙂
    waah, sy baru tau mas reply komen saya… mdh2n blm telat bwt sy blsnya. heehee…😉

    suami sy kerja didaerah inuyama. email sy, dytiana@gmail.com walaupun telat, mdh2n sy bs jalin silaturahmi yg baik lwt email dgn istri mas… ^_^

    oia, sy baru ngeh anak sy jg lahir ditanggal yg sama dgn anak mas… 17agt juga, tp taun 2012. beda 1taun😀

    terima kasih sblmnya sudah menyempatkan balas komen saya…

    salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s