Dengan Kartu Kuning Ini Pengobatan Anak Apapun Dan Berapapun Itu Gratis

Kesehatan adalah kunci dan modal utama untuk belajar menuntut ilmu, bekerja, berkarya dan segala macam aktivitas keseharian manusia. Orang Jepang sering mengungkapkan betapa pentingnya kesehatan itu dengan kata kata kenkou ga ichiban yang artinya kesehatan itu nomor satu. Apabila ada yang sakit atau ada yang tidak beres dalam tubuh kita, maka aktivitas kita tidak bisa berjalan efisien bahkan mungkin terhenti sama sekali. Kesehatan individu yang prima dipupuk sedari awal mulai dalam kandungan dan masa anak anak. Dalam tahap ini peranan negara sangat penting dengan memberikan perhatian kesehatan yang maksimal kepada ibu hamil dan anak anak.

Bagian Depan Kodomo Iryou Jukyuushasho

Mengenai perhatian pemerintah terhadap kesehatan anak ini merupakan salah satu hal yang membuat saya salut sama Jepang. Perhatian pemerintah Jepang ini ditujukan baik terhadap  anak anak orang Jepang maupun anak orang asing yang tinggal di Jepang. Di mata pemerintah Jepang anak anak merupakan generasi penerus sekaligus aset bangsa yang akan membangun Jepang pada masa yang akan datang sehingga perlu mendapatkan perhatian kesehatan yang spesial dengan membuat mekanisme jaminan kesehatan yang berlaku menyeluruh di seluruh Jepang.

Prediksi saya pribadi, perhatian pemerintah Jepang yang begitu besar kepada ibu hamil dan anak anak ini dilatar belakangi oleh semakin sedikitnya keinginan orang Jepang untuk menikah dan mempunyai anak. Beban dan biaya hidup yang semakin berat membuat orang Jepang menunda pernikahan sekaligus menunda mempunyai anak. Efek negatifnya seperti yang kita ketahui jumlah penduduk usia lanjut diatas 60 tahun jauh lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia produktif berumur 20-40 tahun. Dalam istilah kependudukan sering disebut dengan istilah piramida terbalik.

Bagian Belakang Kodomo Iryou Jukyuushasho

Saat ini efek negatif dari tidak imbangnya jumlah penduduk usia lanjut dengan penduduk usia muda atau produktif ini terasa dengan makin tingginya pajak penghasilan di Jepang. Pajak yang tinggi ini salah satunya diperuntukkan untuk membiayai kehidupan dan kesehatan penduduk usia lanjut, tentu saja bukan hand to hand tapi diatur dalam mekanisme tertentu oleh pemerintah Jepang.  Efek negatif yang lain menyentuh langsung pada bursa tenaga kerja di Jepang dimana perusahaan Jepang kekurangan atau paling tidak mulai kesulitan untuk mencari tenaga kerja lokal. Hal ini sudah sering sekali dibahas dalam diskusi diskusi ditelevisi maupun juga di surat kabar di Jepang.

Nah, untuk kembali merangsang orang Jepang mempunyai anak maka beranekaragam program atau insentif digulirkan oleh pemerintah Jepang salah satunya adalah program jaminan biaya kesehatan gratis bagi anak atau dalam bahasa Jepang disebut sebagai atau kodomo iryou jukyuushasho. Jaminan kesehatan anak ini berlaku sampai anak berumur 16 tahun. Di tempat saya tinggal yaitu daerah Aichi, kartu kesehatan gratis bagi anak ini berwarna kuning dan berlaku di seluruh rumah sakit di daerah Aichi. Saya tidak tahu di daerah lain berwarna apa, tapi secara prinsip program ini berlaku di seluruh Jepang. Apabila seseorang pindah ke daerah lain, tinggal lapor ke pemerintah daerah atau shiyakusho, kemudian pihak shiyakusho akan mengeluarkan kartu baru yang berlaku di daerah tersebut. Proses registrasinya sangat cepat, bisa selesai dalam waktu 30 menit dan tidak dipungut biaya apapun. Hanya saja, ada satu syarat penting yaitu orang tua harus mempunyai asuransi kesehatan. Tapi ini bukanlah sebuah syarat yang berat karena sistem kesehatan di Jepang mewajibkan semua orang siapapun itu, umur berapapun, baik orang asing maupun orang Jepang mempunyai asuransi kesehatan.

Beberapa Ketentuan Dalam Kodomo Iryou Jukyuushyasho

Pada awalnya saya tidak tahu adanya kartu jaminan kesehatan ini. Saya tahu karena anak saya lahir dan diharuskan pergi ke shiyakusho untuk mengurus berbagai macam administrasi bagi orang asing.  Pertama kali saya kaget dan tidak percaya. Tapi suatu ketika anak saya sakit dan harus dibawa ke dokter, begitu selesai dan mau membayar ternyata dijawab gratis karena memiliki kartu jaminan kesehatan tersebut. Berbagai macam vaksin bagi anak saya juga tidak dipungut biaya sama sekali. Alhamdulillah….meskipun saya tinggal di negara orang paling tidak saya sebagai orang tua merasa tenang karena biaya kesehatan anak saya di jamin oleh sebuah sistem yang hebat sehingga saya bisa all out bekerja dan beraktivitas.

Ada sebuah cerita pribadi yang menjadi salah satu alasan kenapa saya sampai bilang sistem ini merupakan sebuah sistem yang hebat. Ketika istri saya melahirkan di salah satu rumah sakit di tempat saya tinggal, ternyata ada bantuan dari pemerintah yang nilai besar sekali. Sekali lagi bantuan ini berlaku umum diberikan kepada siapa saja dan besarnya sama yaitu 420 ribu yen atau sekitar 42 juta rupiah. Bantuan tersebut khusus untuk membantu proses melahirkan yang disalurkan langsung ke rumah sakit. Saya tidak perlu repot repot harus apply formulir A atau B dan pergi kesana kemari karena bantuan ini otomatis di berikan kepada semua orang lewat rumah sakit tempat melahirkan. Apabila tidak ada masalah dalam proses melahirkan, biaya melahirkan bisa zero yen alias gratis. Apabila ada masalah yang serius, maka tinggal membayar kekurangannya berapa. Saya pribadi merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan ini. Sekedar cerita saja dalam proses persalinan istri saya yang melalui operasi sesar, menghabiskan dana sekitar 490 ribu yen atau sekitar 49 juta rupiah. Karena ada bantuan dari pemerintah Jepang sebesar 42 juta rupiah, saya cukup membayar kekurangannya yaitu sekitar 7 juta rupiah. Sekali lagi saya benar benar merasa terbantu.

Nisa Dengan Buku Kesayangannya

Ada cerita lain lagi yang sungguh membuat saya salut. Bagi yang melahirkan melalui operasi sesar, baik ibu dan bayi diharuskan untuk opname sekitar 10 hari untuk proses pemulihan dan pemeriksaan lanjutan. Anak saya lahir 17 Agustus 2011. Pada pertengahan bulan Maret 2012 atau sekitar 7 bulan setelah proses bersalin, saya mendapatkan surat dari shiyakusho bahwa biaya perawatan bayi setelah lahir selama sekitar 10 hari yang dibayar oleh asuransi harus dikembalikan ke saya karena biaya perawatan untuk bayi adalah gratis. Pada awalnya saya bingung dengan isi surat dari shiyakusho tersebut. Dikembalikan? Maksudnya apa? Saya gak mengeluarkan uang kok dikembalikan? Seingat saya saya hanya membayar sekitar 7 juta rupiah untuk biaya bersalin. Setelah saya cari informasinya, sistem di Jepang menyatakan bahwa biaya bersalin dan biaya perawatan bayi itu dipisah.  Biaya bersalin sebesar sekitar 49 juta disubsidi oleh pemerintah Jepang sebesar 42 juta rupiah, sisanya saya bayar sendiri. Sedangkan biaya perawatan anak dibayar oleh asuransi, jumlahnya hampir sama dengan biaya bersalin. Tapi karena pada hakekatnya biaya yang dibayar asuransi berasal dari uang yang saya bayar perbulan ke pihak asuransi maka harus dikembalikan ke saya. Ahamdulillah….rejeki tidak terduga.

Hal lain yang membuat saya salut adalah kejujuran dan ketelitian pihak pemerintah Jepang. Saya sebagai orang asing terbatas sekali pengetahuannya mengenai hak hak yang bisa dapat, akan tetapi pihak pemerintah Jepang aktif menginformasikan hal tersebut. Bahkan tidak segan segan mengirim surat, telpon bahkan mengirim pesan melalui perusahaan tempat saya bekerja. Semoga saja suatu saat, anak anak di Indonesia juga bisa mendapatkan akses kesehatan khusus anak anak yang luas dan gratis karena anak anak adalah generasi penerus bangsa, yang akan menggantikan kita kelak kemudian hari. Amin….semoga Alloh SWT mengabulkan harapan ini.

Salam hangat dari hangatnya musim semi di Jepang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s