Kisah Mencari Sekolah Di Jepang : Alloh Akan Memberi Jalan Bagi Yang Niat Sepenuh Hati

Ini adalah pengalaman nyata yang saya alami sendiri. Bukan main comot sana sini pengalaman orang lain. Bukan karangan, bukan juga kisah mengada ada. Pengalaman ini benar benar membekas di hati saya. Pengalaman yang tidak akan terlupakan sepanjang masa. Pengalaman yang membuat saya semakin meyakini kehadiran Alloh ketika kita benar benar niat dan berjuang sepenuh hati. Pengalaman ini benar benar menjawab doa  yang selalu saya dan orang tua panjatkan setiap habis sholat. Apa doa itu? Ya Alloh, Berikan pertolonganmu sehingga hambamu ini bisa diterima kuliah sehingga bisa mempelajari ilmu-Mu dan suatu saat ilmu yang saya peroleh bisa saya bawa pulang ke tanah air untuk diterapkan dan ditularkan kepada orang lain. Setelah berjuang mati matian, di hari hari terakhir masa berlaku visa saya hampir habis, Alloh mengabulkan doa saya dan orang tua saya. Sepucuk surat dari sebuah kampus universitas negeri di Jepang sampai di apartemen saya. Isinya, selamat anda diterima masuk program master ^_^ Inilah kisahnya ^_^

Saya masuk ke Jepang sebagai pelajar biaya sendiri atau istilah Jepangnya shihiryugakusei. Background pendidikan saya di Indonesia adalah lulusan S1 bidang atau ilmu sosial. Jadi bukan ilmu pasti yang secara umum menjadi keunggulan pendidikan tinggi di Jepang dan menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa asing yang berminat untuk melanjutkan studi di Jepang. Tapi, meskipun gejala umum di Jepang, daya tarik ilmu sosial dibawah ilmu pasti tapi bukan berarti gampang mencari sekolah di Jepang. Tantangannya juga luar biasa besar. Kompetisi terbuka tingkat internasional terlihat jelas saat mengikuti ujian masuk sekolah.

Setelah selesai program sekolah bahasa, alhamdulillah saya bisa masuk program research student di sebuah universitas negeri. Seperti yang saya jelaskan di bagian yang lain, research student adalah program persiapan sebelum masuk program master atau doktor yang biasa dilalui oleh mahasiswa asing. Harapan dan target semua mahasiswa research student adalah ikut ujian dan langsung bisa masuk ke lab tempat research student. Tapi semuanya tidak selalu berjalan mulus, kadang hasilnya membuat kita kecewa dan drop. Setidaknya itulah yang saya alami sendiri.

Program research student yang saya ambil berlangsung 1 tahun. Mulai April 2005 sampai Mei 2006. Menginjak sekitar bulan Oktober 2005, mahasiswa research student di lab saya dipanggil satu per satu oleh sensei dan ditanyai rencana kedepannya bagaimana. Kebetulan saat itu di lab ada 2 mahasiswa research student selain saya. Satu orang Taiwan, Satu lagi anak China. Temen orang Taiwan memberi kabar kalau dia bulan Agustus 2005 sudah ikut ujian dan diterima di salah satu universitas swasta di daerah Tokyo. Jadi jelas dia akan pindah ke Tokyo. Dalam hati saya sedikit senang, karena berarti saingannya saya berkurang satu. Yang temen anak China pede sekali mengambil keputusan hanya ikut ujian di kampus tempat research student. Saya sendiri memutuskan untuk mengikuti ujian di tiga kampus, yaitu kampus sekarang, Kyoto University – salah satu universitas negeri milik pemerintah pusat yang ngetop di Jepang dan terakhir Osaka City University – salah satu universitas negeri milik pemerintah daerah di wilayah Osaka. Harapan saya saat itu, diantara jaring yang saya tebar ada yang kena. Saya juga mencoba untuk ikut ujian di Yokohama University dan sempat bertemu dengan senseinya juga. Senseinya welcome saja mempersilahkan untuk ikut ujian. Tapi karena pertimbangan finansial, kuota untuk orang asing yang sedikit dan persaingan akhirnya saya batalkan. Saat itu saya memutuskan hanya mengikuti ujian di universitas negeri karena semata mata pertimbangan finansial yaitu murah dan terjangkau oleh isi dompet saya. Tapi karena negeri, berkualitas dan murah tersebut, persaingannya begitu ketat. Tidak semudah yang saya bayangkan.

Ujian yang pertama kali saya ikuti adalah ujian di Osaka City University, sekitar Januari 2006. Ujiannya ada 2 jenis yaitu ujian tulis dan wawancara. Ujian tulis semuanya esai dengan bahasa Jepang. Saya ambil contoh misalnya ada pertanyaan jelaskan tentang keadaan ekonomi Jepang pada jaman meiji. Ada lagi misalnya di Amerika ada tokoh pencetus teori ekonomi bernama A, jelaskan teori yang dikemukakan oleh A tersebut. Ada lagi saya diharuskan menterjemahkan jurnal bahasa Inggris ke bahasa Jepang. Waduh….puyeng saya, mendadak kepala saya konslet. Suhunya naik, panas sekali. Disuruh menjelaskan dalam bahasa Indonesia saja saya pening apalagi dalam bahasa Jepang ^_^ Untuk menjawab soal itu diperlukan pengetahuan lintas bidang yang mumpuni misalnya tentang sejarah jepang, teori ekonomi, pengetahuan tentang tokoh ekonomi amerika dan dunia, jago bahasa inggris dan tentu juga harus pinter bahasa Jepang. Setelah menghadapi soal tersebut saya langsung sadar, ternyata bahasa Jepang saya masih amburadul dan pengetahuan umum saya juga masih perlu diperdalam. Ketika kalimat telah terangkai dalam bahasa indonesia ternyata susah sekali untuk diterjemahkan dan dirangkai dalam bahasa Jepang. Kanjinya gak keluar keluar, lupa kayak apa. Pokoknya mentok. Padahal waktu terus berjalan dan sangat terbatas.  Keringat dingin bercucuran tapi kertas jawaban tidak bertambah tulisannya. Haduhhhh…..ternyata susah sekali.  Saya ingat saat itu jatah untuk program master untuk orang asing di jurusan yang ingin saya masuki totalnya ada 3 kursi dan jumlah yang ikut ujian sekitar 20 orang.  Artinya peluang saya sekitar 15 persen. Wajah wajah China yang terkenal jago nulis kanji mendominasi ruangan tempat ujian. Mereka semua adalah saingan berat karena keahlianya menghafal dan menulis kanji. Saya lirik seisi ruangan, orang berkulit sawo matang hanya saya sendiri. Ujian wawancara juga saya lalui dengan hasil yang menurut saya sendiri tidak terlalu lancar. Dibawah target. Saya merasakan kurang persiapan soal materi penelitian.  Harusnya saya mempersiapkan materi penelitian yang apik, runtut dan jelas dalam bahasa Jepang. Itu semua harus saya persiapkan dan hafalkan luar dalam bahasa Jepang. Tapi saya benar benar telat menyadarinya. Nasi sudah menjadi bubur. Ujian selesai dan saya tinggal menunggu hasilnya.

Selang 1 hari saya mengikuti ujian di Kyoto University. Wah kalau universitas top memang levelnya beda. Saya ingat, kuota untuk orang asing di jurusan yang saya minati ada sekitar 15 orang. Tapi yang ikut ujian masuk master luar biasa banyaknya. Diruangan tempat saya ujian saja ada sekitar 80 orang yang ikut ujian. Sebelum masuk kelas saya sempat menghitung jumlah yang ikut ujian dari nomer ujian yang ditempel didepan kelas. Saya hitung ada sekitar 80 orang…..saya mikir gila nih kampus, banyak banget yang ikut ujian. Peserta banyak otomatis persaingannya juga luar biasa ketat. Saya yakin yang ikut ujian lebih dari itu karena diruangan lain juga ada yang ikut ujian. Lagi lagi wajah wajah China mendominasi ruangan. Saya lihat wajah wajah Korea juga banyak sekali. Dan lagi lagi….ketika saya lihat seluruh ruangan, kulit sawo matang hanya saya sendiri. Haduh…..ini berat, jauh lebih berat dari ujian di Osaka City University. Persaingan saja sudah berat, belum membahas materi ujian. Memasuki soal ujian, saya juga masih kaget. Model soalnya persis seperti ujian di Osaka City University. Esai bahasa Jepang plus menterjemahkan jurnal dari bahasa Inggris ke  bahasa Jepang. Walah….lagi lagi saya panas dingin. Keringat dingin membasahi kertas ujian yang tulisan jawabannya tidak bertambah tambah. Benar benar pening tujuh keliling. Singkat cerita ujian di Kyoto University berakhir dengan rasa bersalah pada diri sendiri. Saya benar benar kurang persiapan.

Selama ujian di dua kampus tersebut, saya menginap di rumah teman di Kyoto. Jarak Kyoto dengan Osaka hanya sekitar 40 kilometer. Karena ujiannya hanya selisih 1 hari , saya nginap 3 malam sampai ujian selesai. Setelah ujian selesai saya pamit pulang. Dalam perjalanan pulang memori saya terus tertuju ke dua ujian yang baru saja saya tempuh. Duh gimana ya? Diterima gak ya? dan pertanyaan pertanyaan lain yang bikin saya pening sendiri. Tapi mau tidak mau saya harus menunggu dengan harap harap cemas. Yang bisa saya lakukan hanya satu….berdoa, semoga Alloh memberikan hasil yang baik.

Setelah menunggu sekitar 1 minggu, surat dari Osaka City University sampai di apartemen saya. Sebelum saya buka saya berdoa lagi semoga hasilnya seperti yang saya harapkan. Setelah saya buka, saya langsung tertunduk pasrah. Ternyata saya tidak lulus alias gagal. Lesu rasanya. Lemes gak bisa mikir apa apa. Tapi dalam hati saya berfikir, masih ada Kyoto University. Meskipun saya tahu diri bahwa persaingan begitu ketat dan ujian yang begitu susah tapi toh hasilnya belum keluar. Artinya masih ada harapan. Siapa tahu saya lulus. Siapa tahu ada keajaiban. Akhirnya saya mencoba berdamai dengan hati saya. Cooling down sambil berdoa. Selang beberapa hari akhirnya surat yang saya tunggu tunggu datang juga. Sekali lagi, saya berdoa semoga saya lulus ujian masuk. Kreeek…..setelah amplop saya buka kembali saya harus bersedih. Ternyata saya gagal kembali. Kegagalan yang kedua ini benar benar membekas di hati saya. Drop saya dibuatnya.

Gagal di dua ujian, masih ada satu ujian yang tersisa yaitu ujian masuk di jurusan tempat saya research student. Saya berfikir masih ada kesempatan. Kalau tidak salah, ujiannya sekitar 3 minggu setelah ujian di Osaka City University dan Kyoto University. Tidak mau gagal yang ketiga kali, saya mempersiapkan diri sebaik baiknya. Materi ujian yang dulu dulu saya pelajari dan saya jawab sebagai bahan latihan. Ujian interview juga saya siapkan sebaik baiknya dengan cara mempersiapkan pertanyaan pertanyaan yang kira kira keluar. Saya cari, pikir dan hafalkan sehingga kalau ditanya langsung bisa jawab. Bahan bahan dan pengalaman interview di ujian sebelumnya saya jadikan acuan. Singkatnya saya tidak main main dengan ujian di kampus saya ini. Ini bukan trial out. Karena ini menyangkut masa depan saya. Saya berfikir, kalau kali ini saya gagal, habis sudah kesempatan untuk sekolah S2 di Jepang. Gagal berarti pulang ke Indonesia. Saya ingat persis, kuota untuk orang asing ada 3 orang dan jumlah yang ikut ujian ada sekitar 20 orang. Probabilitasnya sama persis dengan Osaka City University. Ujian tulis modelnya juga esai. Menurut saya, lumayan bisa saya jawab dalam arti saya bisa menjelaskan dalam bentuk tulisan bahasa Jepang. Persiapan dan pengalaman ujian terdahulu sangat membantu. Dibandingkan dengan ujian terdahulu menurut pendapat saya pribadi kali ini jauh lebih baik. Wawancara juga lumayan. Pertanyaan yang sudah saya siapkan dan kira kira keluar, ternyata banyak yang keluar. Jadi lumayan bisa menjawab. Singkat cerita kepercayaan diri saya tumbuh kembali. Meskipun tidak berani bilang 100% lulus, tapi saya bisa berharap kemungkinan besar bisa lulus. Ya paling tidak tidur malam saya setelah ujian bisa sedikit nyenyak ^_^

Setelah menunggu sekitar 1 minggu, hasil ujian keluar. Kali ini bukan via pos, tapi ditempel di papan pengumuman. Harap harap cemas saya bergegas ke kampus lihat pengumuman ujian. Di jalan saya terus berdoa, semoga saya diterima. Sampai di papan pengumuman saya lihat dengan seksama. Saya kucek mata saya berkali kali siapa tahu penglihatan saya salah. Tapi nomer ujian saya tetap tidak saya temukan. Nomer ujian saya tidak tercantum didaftar yang mahasiswa yang diterima ujian masuk. Ya Alloh….saya benar benar drop, shock dan down. Dalam waktu 2 bulan, ini yang ketiga kali saya gagal ujian. Saya sangat sedih, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya ingat saat itu sudah menginjak awal bulan februari 2006. Visa saya habis 28 Maret 2006. Artinya waktu saya untuk mencari sekolah tinggal 1.5 bulan lagi. Sempit sekali. Kalau tidak dapat berarti mau tidak mau saya harus balik Indonesia. Segera saya cek lewat internet jadwal ujian di beberapa universitas yang ada jurusan yang saya minati. Semuanya sudah tutup. Waktunya sudah habis. Saya mencoba untuk meminta kebijaksanaan sensei supaya bisa memperpanjang research student saya 1 tahun lagi. Tapi ternyata sensei keberatan. Ya Alloh terus gimana nih. Saya berfikir keras agar bisa menemukan solusinya. Saya belum mau pulang. Saya masih ingin meneruskan kuliah di Jepang. Setelah berfikir panjang, akhirnya saya menemukan solusi meskipun bukan yang terbaik. Saya berfikir intinya saya harus mendapatkan visa dahulu. Saya menemukan celah untuk memperpanjang visa saya. Di Jepang ada program yang namanya chokosei. Program chokosei itu program seperti research student. Bedanya kalau research student itu program persiapan untuk masuk master atau doktor. Tapi kalau chokosei itu program persiapan untuk masuk S1. Sebenarnya turun tingkat, tapi saya pikir yang penting saya bisa perpanjang visa dulu. Kalau sudah ada visa, nanti baru berfikir kedepan lagi. Yang masih buka pendaftaran tinggal ini. Jadi ini harus dimanfaatkan. Akhirnya saya menelepon sebuah universitas swasta untuk menanyakan soal chokosei ini. Mereka menjawab masih dibuka pendaftarannya. Langsung saya pergi ke universitas tersebut khusus untuk mengambil formulir chokosei.

Disamping mengambil formulir chokosei dengan maksud berjaga jaga, saya juga konsultasi sama kakak kandung saya. Saat itu kakak saya juga masih di Jepang mengambil program postdoc di kampus yang sama dengan saya tapi beda fakultas dan disiplin ilmu. Saya di sosial dan kakak saya di teknik. Saya ceritakan semuanya ke kakak saya ini. Kakak saya juga berfikir keras mencari solusinya. Akhirnya kakak saya ini konsultasi ke senseinya. Dia minta tolong agar saya dimasukkan ke lab tempat kakak saya belajar. Karena disiplin ilmunya yang beda sekali, sensei kakak saya keberatan untuk menerima. Beliau menjelaskan nanti bingung bagaimana menjelaskan ke sensei yang lain alasan mau menerima saya karena bidang ilmunya yang beda banget, tidak singkron sama sekali. Tapi beliau memberi informasi sekaligus solusi bagi permasalahan saya ini. Beliau mengatakan kalau beberapa waktu lalu mengikuti meeting tentang pembentukan jurusan baru yang singkron dan linier dengan bidang yang saya minati. Masya Alloh….ketika saya sudah gagal tiga kali ujian, saya sudah drop dan down, lelah, hampir putus asa, duit sudah menipis sekali karena untuk memikirkan kuliah saya  tidak sempat baito  dan visa saya tinggal 1.5 bulan…ada berita seperti ini… ini benar benar seperti berita dari surga. Saya sangat bersyukur karena berarti masih ada kesempatan.

Begitu mendengar itu kakak saya segera ke bagian administrasi untuk menanyakan soal itu. Memang benar, ada program master yang baru saja dibuka. Kabar baiknya lagi, program yang baru dibuka ini sekarang masih dibuka lowongan pendaftarannya dan karena baru dibuka banyak yang belum tahu jadi tingkat persaingannya masik kecil. Begitu mendengar kepastian kabar itu segera kakak saya menelepon saya. Segera saya pelajari dan susun langkah kembali untuk mempersiapkan ujiannya. Alhamdulillah, ada kabar baik yang lain, setelah saya baca dengan seksama ujiannya hanya satu yaitu presentasi tentang rencana penelitian dilanjutkan tanya jawab. Tidak ada ujian tulis yang selama ini menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Ini adalah kesempatan emas.

Tapi meskipun ujiannya hanya presentasi tapi ternyata menyiapkan presentasi yang baik dalam bahasa Jepang bukanlah hal yang mudah. Setelah dianalisis, materi penelitan yang selama ini saya gunakan untuk ujian ditempat sebelumnya tidak bisa dipakai. Harus dirombak total. Walah benar benar pusing tujuh keliling. Ide penelitian baru gak keluar keluar. Saran dari kakak saya untuk beli buku sudah saya lakukan. Saya baca berulang ulang tapi tetap saja ide tidak muncul. Karena mentok, saya minta bantuan ke kakak saya. Dengan bantuannya akhirnya sedikit demi sedikit rencana penelitian bisa dibuat dan ada alur ceritanya. Ide idenya memang luar biasa. Meskipun satu ayah dan satu rahim, saya akui pemikiran dan ide kakak saya memang beda. Selalu ada ide yang baru dan fresh dari dia. Kelas postdoc memang beda. Setelah rencana penelitian punya bentuk, arah dan alur cerita. Selanjutnya adalah materi presentasi. Lagi lagi saya minta bantuan kakak saya untuk membuat materi presentasi. Saya buat terus dia koreksi. Saya buat lagi terus dia koreksi lagi sampai selesai. Begitu materi presentasi selesai, saya ditraining bagaimana caranya presentasi bahasa Jepang yang baik. Jujur selama ini saya tidak punya pengalaman presentasi pakai bahasa Jepang. Jadi training dari kakak saya ini benar benar membantu. Berulang ulang kali saya latihan presentasi didepan kakak saya. Kalau ada yang salah atau kurang dikoreksi sama dia sampai benar benar mantab. Malam sebelum ujian kami juga begadang untuk mematangkan presentasi dan memikirkan kira kira nanti ditanya apa dan kalau ditanya seperti itu bagaimana jawabnya.

Tiba waktunya ujian. Kalau tidak salah saya dapat jatah jam 10 pagi. Sekitar jam 7 pagi kami sudah sampai kampus untuk satu tujuan. Latihan presentasi untuk terakhir kali. Insya Alloh semua siap. Setelah tiba waktunya saya langsung menuju ruang ujian. Wah sensei sudah menunggu semua, banyak banget ada sekitar 15 orang. Saya coba untuk tenang agar bisa berfikir dengan baik dan tidak lupa. Segera saya mulai presentasi. Alhamdulillah, lancar tidak masalah yang berarti selama presentasi. Pertanyaan setelah presentasi dari beberapa sensei juga bisa saya jawab dengan baik. Setelah selesai segera saya pulang ke apartemen. Ada rasa lega setelah selesai ujian. Beban sedikit berkurang meskipun masih deg degan karena menunggu hasil.  Sekarang tinggal waktunya untuk berdoa. Pasrah karo sing nggawe urip. Tidak lupa saya telepon orang tua saya supaya mendoakan saya agar hasil ujiannya baik dan saya diterima.

Setelah menunggu seminggu, waktu pengumuman ujian tiba juga. Tiba tiba saya dapat telepon dari kakak saya. Saya langsung tanya gimana hasil ujian ke kakak saya. Saya tidak bisa melihat langsung karena jurusan yang baru dibuka ini lokasi kampusnya sama dengan lokasi kampus kakak saya. Dengan kampus tempat saya research student lokasinya jauh banget, 7o kilometer. Begitu saya tanya seperti itu, kakak saya menjawab sudah pulang saja ke Indonesia. Soalnya gak diterima. Waduh….mendengar jawaban itu langit kayak runtuh. Habis dah, harus bersiap siap angkat koper dari Jepang. Jantung saya kayak tertekan jadi susah bernafas. Tapi buru buru kakak saya ngomong lagi….nggak kok bercanda saja. Kamu diterima. Lulus….selamat ya. Alhamdulillah…..benar benar berita yang menggembirakan itu datang juga. Saya benar benar bersyukur akhirnya bisa melanjutkan studi di Jepang.  Setelah jatuh bangun, gagal tiga kali ujian, mental drop, duit habis habisan, lelah sampai sudah mau menyerah akhirnya bisa juga masuk master. Saya tunggu berita baik ini selama 1 tahun dan akhirnya datang juga. Kalau tidak salah pengumuman hasil ujian ini adalah tanggal 20 maret 2006, sedangkan visa saya habis 28 maret 2006. Benar benar mepet karena visa tinggal 8 hari.

Ketika ada seremonial penerimaan mahasiswa baru tidak sengaja saya ketemu dengan teman china satu lab. Ternyata dia diterima. Dalam hati saya berfikir hebat juga kemampuan menulis dia sampai bisa lolos ujian masuk. Saya berfikir begitu karena selama research student saya merasa kemampuan verbal dan komunikasi bahasa Jepang dan Inggris lebih baik dari dia. Tapi mungkin saya jeblog diujian tulis sehingga gagal. Dia juga kaget ketemu saya. Dia nanya kamu diterima? Saya jawab saya diterima tapi di jurusan yang lain dan harus pindah kota. Ketika awal awal masuk, semua mahasiswa dikumpulkan untuk menerima briefing mata kuliah. Saya lihat dengan seksama, jumlah mahasiswa yang diterima ada 16 orang. Orang asing hanya saya sendiri. Jadi saya orang asing pertama diangkatan pertama ^_^

Itulah sekelumit cerita dari saya tentang jatuh bangun dan perjuangan mencari sekolah di Jepang. Tidak mudah tapi bukan berarti mustahil. Semoga cerita ini bisa menjadi kompor yang menyala yang mampu membakar semangat generasi muda untuk menuntut ilmu meskipun harus menyeberangi lautan dan berpisah dengan keluarga tercinta. Masih ada satu cita cita dan target saya sebelum pulang ke tanah air, yaitu meneruskan studi ke jenjang S3. Untuk itu, saat ini saya sedang mempersiapkan diri mulai dari kemampuan bahasa Jepang, bahasa Inggris, materi penelitian dan finansial. Tidak mudah tapi saya tidak akan mundur.

Ucapan terimakasih, saya ucapkan khusus untuk kakak saya yang telah all out membantu saya selama ujian masuk master di Jepang. Arigatou Gozaimasu!

Salam hangat, Aichi, 30 Juni 2012

10 thoughts on “Kisah Mencari Sekolah Di Jepang : Alloh Akan Memberi Jalan Bagi Yang Niat Sepenuh Hati

  1. Sebelumnya terima kasih pak atas waktunya posting pengalaman mencari sekolah di jepang ini. ^_^
    Dari postingan ini banyak sekali info yang saya dapatkan. mulai dari bagaimana soal2 ujian masuk sampai ikutan dag-dig dug saat membaca tentang pengumuman ujian. ^_^ (tapi jantung saya untungnya tidak ikutan keluar :P)
    Salut sama bapak atas perjuangannya yang tidak pernah menyerah! Tiga kali gagal kemudian dipertemukan dengan kesempatan yang lebih besar, ^_^ Omedetou. saya 100% sepakat dengan kalimat ” Alloh Akan Memberi Jalan Bagi Yang Niat Sepenuh Hati!” saya juga sudah merasakannya ^_^.
    Sekali lagi terima kasih sharingnya, membuat saya bersemangat!

    • hehehe terimakasih. ya begitulah jalan hidup yang tidak selalu mulus. tapi insya alloh semua ada hikmah dan pelajarannya. ganbarimashou. email sudah saya balas ya.

  2. mas mau request dong.
    tolong bikin tahapan mas bisa ke jepang seperti apa saja berkas yg harus di siapkan dll tolong ya mas. soalnya saya berniat juga kuliah di jepang..

  3. Tanya masalah Pelayanan VISA niih mas, Kalau mau “perpanjang VISA” kyk cerita masnya diatas (^^)>, Atau mau Ganti Status VISA Pelajar jadi VISA Bekerja tu ngurusnya harus di Indo apa bisa di Jepang sekalian..?

  4. Sumimasen, saya kak kalau jadi mhasiswi peneliti disana apa saja syaratnya? Apakah ada test?
    Jujur saya ingin sekali bisa studi dan kerja ke jepang dgn rencana studi bahasa jepang 1th lalu kuliah. Skrg ini sy mhsiswa tingkat akhir adm. Fiskal/taxes, yg ingin sy tnyakan jika ambil s2 ilmu sosial dsna bidang apa yg sejalur dgn ilmu sosial sy di indo? Dan saya juga bingung kak, antara ingin kuliah d2 atau s2 krn terbatas biaya. Arigatou gozaimasu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s