Tempe Go To Japan : Internasionalisasi Tempe

Salah satu isu penting dalam globalisasi adalah internasionalisasi. Kalau kita gak berani ambil resiko atau dilain pihak mungkin juga bisa dikatakan kesempatan kita akan ketinggalan jaman. Salah satu raja baru dalam hal internasionalisasai adalah China, negeri yang tahun 1970an boleh dikatakan miskin dan terbelakang sekarang berubah menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Jepang yang 5 atau 10 tahun lalu diatas kertas selalu nangkring mengungguli China sekarang harus rela turun tahta. Kalau tidak salah kekuatan ekonomi dunia saat ini nomer satu masih dipegang  Amerika, diikuti China dan selanjutnya Jepang. Melihat perkembangan yang begitu dasyat dan sepertinya susah untuk dibendung, 20 tahun lagi China akan mendepak Amerika dari tahta ekonomi dunia. Ini prediksi saya pribadi berdasarkan pengamatan kemajuan China selama ini ^_^ halah buruh pabrik saja pakai bahasa tinggi amat….udah nyangkul sana hahaha ^_^

Suatu ketika saya ngobrol dengan teman satu kerjaan, dia orang Argentina yang hampir 20 tahun tinggal di Jepang. Saat krisis global tahun 2008 dia memutuskan pulang ke tanah leluhurnya karena memandang Jepang sudah tidak bisa diharapkan lagi. Tapi keputusan pulang kampung memang tidak semudah membalikkan tangan. Secara pribadi dia cerita bahwa dia sudah terbiasa dengan ritme Jepang, ketika sampai kampungnya sedikit sekali orang yang dia kenal sehingga dia seperti orang asing di rumahnya sendiri. Dalam urusan kerjaan, dia mencoba untuk berwiraswasta mendirikan semacam supermarket tapi ternyata tantangan dan saingannya juga berat sekali. Saya tanya saingan dari siapa? Dia jawab orang China. Wah saya kaget sekali, ternyata ekspansi China bukan hanya di kawasan Asia. Di Argentina barang barang China membludak nyaris tidak terbendung. Dia cerita bahwa dengan modal yang sama orang Argentina tidak bisa membuat barang dengan harga yang sama atau lebih murah dari China. Jatuh jatuhnya pasti lebih mahal dan akhirnya kalah bersaing dipasaran. Chugoku sasuga da ne ^_^

Tempe made in sariraya. Ukurannya sekitar 13 cm x 13 cm x 3 cm. Beratnya 250 gram.

Sudah sudah….Saya tidak mau panjang lebar ngobrol tentang China. Itu hanya intro-nya saja. Karena kali ini yang mau saya ceritakan adalah kesuksesan orang Indonesia di Jepang yang berani go international dengan mengusung sebuah produk yang sangat familier dengan kita dan menjadi menu yang sangat sering memenuhi meja makan kita yaitu Tempe. Ya tempe….produk berbahan dasar kedelai yang terbukti luas merupakan menu yang sehat karena kaya protein dan rendah lemak. Rasanya enak, gurih dan kalau di Indonesia harganya murah ^_^ Keputusan orang Indonesia ini untuk membawa tempe ke Jepang memang benar benar tepat. Meskipun pada awalnya harus berjuang mati matian dengan door to door untuk menawarkan produknya saat ini perjuangannya berbuah manis. Sebuah pabrik tempe yang berada di daerah Nishioshi, Aichiken berhasil dia dirikan dan saat ini terus berproduksi untuk memenuhi permintaan akan tempe baik dari WNI maupun masyarakat Jepang yang punya minat dengan hal hal berbau Indonesia. Tentu banyak yang ingin tahu nama pabriknya bukan? Saya tidak bermaksud promosi, tapi biar jelas saya sebut saja namanya sariraya dengan website sariraya.com

Pabrik tempe sariraya. Letaknya didaerah Nishioshi, Achiken.

Saya tidak ada data khusus mengenai sariraya ini. Tapi karena saya beberapa kali belanja disana saya berhasil mendapatkan seklumit kisah perjalanan dari sariraya ini. Berawal dari sebuah keluarga Indonesia yang tinggal di Jepang yang melihat ada celah bisnis yang bisa dimanfaatkan yaitu banyaknya WNI di Jepang yang begitu loyal sama tempe. Banyak WNI yang kangen sama tempe dan berusaha mencari tempe di Jepang. Memang kelihatan ndeso sekali tapi itulah yang terjadi. Kelezatan sushi atau sashimi masih kalah dengan kenikmatan tempe dimata WNI yang tinggal di Jepang. Faktanya seperti itu. Melihat peluang tersebut pasangan keluarga ini mulai membuat tempe dengan skala kecil kemudian ditawarkan kepada komunitas orang Indonesia saat ada kegiatan misalnya olahraga, festival, pengajian atau acara kumpulan biasa. Tidak lupa juga door to door ke orang Indonesia dan dititipkan kepada toko toko Brazil atau Asia disekitar tempat tinggalnya. Sambutan orang Indonesia benar benar luar biasa, tempe made ini keluarga ini laku keras dan mulai dikenal oleh WNI di Jepang.

Restoran sariraya. Menu asli Indonesia. Ayam goreng, bebek goreng, bakso ^_^

Karena adanya sambutan dan permintaan yang meningkat dari hari ke hari, akhirnya diputuskan untuk membuat pabrik tempe di daerah Nishioshi, Aichiken. Karena permintaan yang tinggi keluarga ini tidak bisa mengatasi sendiri, akhirnya diputuskan untuk mendatangkan pekerja dari Indonesia khusus untuk membuat tempe tadi. Dari hari ke hari brand sariraya semakin terkenal di kalangan WNI di Jepang. Pasarnya semakin luas, dari pembicaan santai saya dengan pegawainya saya dapatkan informasi bahwa pasar tempe saat ini mulai dari ujung utara Jepang alias Hokkaido sampai daerah selatan yaitu Okinawa. Melihat peluang bisnis yang ada, pemilik kemudian memperluas usahanya dengan membuka toko khusus produk Asia termasuk Indonesia tentunya misalnya kecap, sambel tomat, mie, teh sosro, kopi, petai, serai, daun salam, terasi, gula jawa dan sebagainya. Pokoknya lengkap dan produk yang dijual tidak bisa ditemukan di supermarket biasa di Jepang. Tidak hanya itu saja, biar lengkap dibuka juga restoran masakan Indonesia karena memang pasarnya cukup besar dengan bendera yang sama yaitu restoran sariraya. Untuk restorannya, koki khusus juga didatangkan dari Indonesia. Menunya tentu juga asli Indonesia seperti lele goreng, bebek goreng, ayam goreng, soto, bakso dan sebagainya. Jarak antara pabrik tempe dengan restoran  sangat dekat karena memang satu gedung, sekitar 30 meter.

Bagaimana dengan harga tempenya? Satu bungkus tempe dihargai 300 yen atau sekitar 30 ribu rupiah. Kalau menurut saya harga segitu biasa saja, memang seperti itu. Oh iya, tolong jangan dipandang dari sudut pandang rupiah karena akan kelihatan mahal sekali. Angka rupiah disini kita jadikan sebagai referensi saja. Pertanyaan selanjutnya mungkin adalah bagaimana dengan omsetnya? Kalau tidak salah dengar, pegawai yang saya ajak ngobrol menyebut 600 tempe per minggu dibuat dan kemudian dipasarkan. Artinya dalam 1 bulan ada 2400 tempe yang diproduksi. Kalau setiap tempe dijual 300 yen maka gampangnya saja dalam 1 bulan omsetnya ada 2400 biji x 300 yen jadinya 720.000 yen. Kalau dikurs ke rupiah sekitar 72 juta rupiah lebih. Soal berapa laba bersihnya saya tidak tahu dan kalau tanyapun mungkin tidak akan dikasih tahu. Tempe yang diproduksi kemudian disimpan dalam frezer sehingga masa konsumsinya bisa tahan berbulan bulan.

Itulah sekelumit tentang tempe yang sudah go internasional khususnya ke Jepang. Mungkin hanya tempe dari kedelai tapi langkah orang Indonesia ini bisa dikatakan terobosan yang hebat karena bukan hanya bernilai bisnis bagi dirinya sendiri tapi juga mengenalkan Indonesia melalui makanan khususnya kepada warga Jepang. Menurut bahasa saya, langkah pemilik sariraya ini adalah perpaduan antara bisnis, kesempatan, kejelian, tekad, usaha, semangat sekaligus  nasionalisme yang kuat. Dengan itu semua beliau sukses meraih rezeki, mengenalkan makanan Indonesia, menyediakan tempe asli rasa Indonesia kepada WNI di Jepang, menginternasionalisasikan tempe ke pasar Jepang sekaligus membuka lowongan kerja bagi orang Indonesia di Jepang. Langkah yang patut diacungi jempol.

Akhir kata ^_^ Jika anda ke Jepang dan kangen sama tempe jangan kwawatir karena yang ada tempe bukan hanya pasar beringharjo atau jatinegara saja, di Jepang juga ada tempe. Bahkan pabriknya juga ada. Anda tinggal pergi ke restoran sariraya untuk menikmatinya atau bisa juga menghubungi sariraya maka tempe akan datang ke apartemen anda dalam waktu 2-4 hari. Sekali lagi, bukan promosi tapi sekedar sharing informasi saja.

Salam hangat dari Aichi, Jepang

9 September 2012

2 thoughts on “Tempe Go To Japan : Internasionalisasi Tempe

  1. hahahhaa…
    Kan Mas bukan sembarang kuli😀
    Terima kasih atas prediksinya, memang Cina unggul kok dan Pasar empuknya adalah Indonesia😦

    Wah nama tokonya sariraya.😀 mudah disebut ya buat orang jepang. omsetnya juga besar. Orang jepang kan suka sekali ya makanan berbahan kedelai.😀
    Tempe walaupun kelihatannya ndeso. ndak juga ya….menurut saya tempe makanan orang Indonesia, tidak memandang kelas.😀

    Semoga bisa ke jepang dan nyicipin rasa tempe disana😀

    • yg namanya kuli ya tetep saja kuli ^_^ yup china emang maju pesat. membuat dan menjual terus….amrik dan jepang ikut ketar ketir.

      btw tempe sariraya rasanya enak jg. rasa indo banget. klo sdh di jpg coba saja hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s