Road To Tokyo

Tanggal 6-8 Oktober 2012 kemarin saya libur. Lumayan panjang 3 hari. Sejak bulan Juli sudah saya rencanakan untuk jalan jalan ke Tokyo pas liburan tersebut. Saya rencananya ngajak temen pakai kendaraan sendiri jadi konvoi 2 mobil. Tapi setelah dikalkulasi ternyata dana yang diperlukan cukup besar. Kalau pakai kendaraan sendiri komponen biaya seperti bensin, tol dan parkir harus dibayar sendiri. Jarak Aichi sampai Tokyo sekali jalan itu sekitar 350 km, kalau naik tol sekali jalan bayarnya sekitar 7500 yen. Kalau PP jadinya 15000 yen. Bensin 15000 yen dan parker sekitar 10000 yen. Dari 3 komponen biaya itu saja harus nyiapin duit 40000 yen. Ini belum termasuk penginapan, makan dan biaya masuk tempat wisata. Dengan pertimbangan financial tersebut, akhirnya kami putuskan untuk memakai 1 mobil saja milik teman saya yang ukurannya lebih besar. Ya lumayan bisa ngirit meskipun harus uyel uyelan selama perjalanan hahaha

Asakusa smile hostel. penginapan buat para backpacker di Tokyo. Penginapan ala anak kost ^_^

Setelah masalah transportasi terpecahkan, saya segera mencari tempat penginapan. Daerah yang saya pilih adalah daerah Asakusa karena malamnya pingin main ke Tokyo Sky Tree, kalau di Indonesia kayak Monas. Tokyo Sky Tree ini adalah salah satu ikon wisata Jepang khususnya Tokyo saat ini. Wah karena libur 3 hari, nyari penginapan susahnya minta ampun. Lewat beberapa website saya mencoba untuk pesen kamar tapi ternyata sudah pada penuh. Saya coba telepon langsung ternyata juga sudah penuh. Setelah nyari sana sini akhirnya dapat penginapan untuk para backpacker. Ya lumayanlah daripada gak dapat. Disebutnya bukan hotel tapi hostel. Namanya asakusa smile hostel. Hostel ini persis kayak kost kostan. Ada kamar didalamnya ada tempat tidur. Tempat tidurnya ada yang sejajar ada yang tingkat tergantung harganya. Terus kamar mandi, toilet dll dipakai bareng bareng hahaha. Lucu banget, jadi inget jaman ngekost di Jogja dulu. Asakusa smile hostel ini cukup terkenal dikalangan backpacker. Pesen kamarnya bisa pakai bahasa inggris karena memang kebanyakan tamunya adalah para backpacker dari seluruh dunia. Kalau dilihat bangunannya biasa saja, bangunan lama, tidak ada yang special bahkan boleh dikatakan terlalu biasa. Tesedia juga mesin cuci, jidouhanbaiki, 2 komputer yang terhubung dengan internet yang bebas dipakai oleh tamu. Dilantai paling bawah ada bar yang buka sampai sekitar jam 11 malam. Ketika saya menginap banyak sekali orang asing yang menginap disitu. Bagi yang ingin main ke Tokyo terus nyari tempat nginap yang murah, Asakusa smile hostel mungkin bisa dijadikan altenatif pilihan.

Setelah semua siap hari H datang juga. Asyik jalan jalan hahaha….Kami berangkat Sabtu jam 1 pagi biar pagi bisa nyampai Tokyo terus langsung jalan jalan. Saya berbagi kerjaan dengan teman. Saya yang nyetir Aichi Tokyo PP, sedangkan teman nyetir didalam kota Tokyo. Perjalanan awalnya cukup lancar. Karena liburan meskipun malam hari jalan tol tetep ramai. Sampai di daerah Toyohashi saya belok kiri milih jalan tol Shin Tomei yang baru dibuka bulan Maret kemarin. Tol yang lama namanya Tomei. Shin Tomei dan Tomei nantinya ketemu lagi kalau gak salah di daerah gotenba, ini sudah dekat dengan Tokyo. Di tengah perjalanan tepatnya di daerah Yokohama kami kena macet sekitar 1 jam. Saya pikir apa gitu, karena baru jam 4 pagi sudah macet. Ternyata ada kecelakaan. Setelah itu lancar sampai tujuan pertama yaitu Tokyo Disneyland.

1. Tokyo Disneyland

Tokyo Disneyland, 6 Oktober 2012

Boleh dikatakan ini wajib didatangi bagi yang main ke Tokyo. Saya nyampai di parkiran Tokyo Disneyland jam 7 pagi dan saya pikir tidak ada antrian karena terlalu pagi. Ternyata dugaan saya salah. Jam 7 pagi sudah banyak yang datang. Parkiran sudah penuh 50%. Dengan badan loyo karena habis nyetir dari jam 1 malam saya langsung antri beli pasport. Di Tokyo Disneyland istilahnya bukan tiket tapi passport. Harganya untuk dewasa 6000 yen dan bisa dibeli ditempat maupun online. Jam 8 pagi akhirnya pintu gerbang dibuka juga. Karena saking terkenalnya apa apa pasti ngantri. Misalnya mau masuk ke sebuah wahana harus antri 1 sampai 2 jam. Haduh….bagi yang tidak suka ngantri seperti saya ini tersiksa setengah mati. Apalagi dalam kondisi ngantuk dan capek terus disuruh ngantri. Akhirnya saya dan istri mencari permainan yang tidak banyak ngantrinya. Setelah capek muter muter jam 2.30 siang kami memutuskan untuk keluar dan langsung menuju tempat penginapan. Yah lumayan akhirnya tercapai keinginan main ke Tokyo Disneyland setelah sekian tahun di Jepang hahaha

2. Sumida Suizokan

Pinguin di Sumida Suizokan, Tokyo.

Setelah sampai tempat penginapan kami istirahat sebentar. Temen saya ada keperluan pribadi jadi kami pergi ke Tokyo Sky Tree jalan kaki. Tidak masalah karena hanya 1 km dari penginapan. Setelah sedikit melepas lelah, saya dan istri berangkat. Begitu sampai ternyata kami tidak bisa langsung naik. Pertama kami diberi karcis untuk ngantri dan dikarcisnya kami harus ngantri jam 19 sampai 19,30. Tertulis shitei jikan jadi harus ontime jam tersebut hahaha. Padahal saya nyampai jam 5 sore. Karena masih 2 jam lebih akhirnya kami jalan jalan keliling. Pas jalan keliling nggak sengaja nemu Shumida Suizokan, ini semacam aquarium gede yang letaknya satu komplek dengan Tokyo Sky Tree. Ya sudah daripada bengong akhirnya kami masuk ke Sumida Suizokan ini. Tiketnya boleh dibilang mahal sih, 2000 yen per orang. Tapi karena sudah tanggung sampai Tokyo dan banyak waktu luang akhirnya kami putuskan untuk masuk.

Yang namanya aquarium isinya bisa ditebak berbagai macam ikan dari berbagai negara. Selain itu ada juga pinguin. Alasan lain kenapa saya mau masuk karena saya pernah lihat TV tentang perjuangan orang yang ditugaskan untuk mencari hewan hewan yang mau ditempatkan di Sumida Suizokan ini. Panjang dan berat sekali perjuangannya. Susah sekali mencari jenis ikannya yang diinginkan. Sampai harus pergi ke beberapa negara. Begitu ada ternyata tidak mendapatkan ijin dari negara asalnya. Orangnya bahkan blusukan sampai ke Bengkulu untuk mencari ikan pari. Dapat ikan pari dan mau dibawa ke Jepang, eh ternyata mati di jalan dan lain sebagainya. Salut buat perjuangannya. Setelah selesai muter muter kami keluar dan makan malam sambil menunggu jam kumpul.

3. Tokyo Sky Tree

Tokyo Sky Tree di malam hari. Oktober 2012.

Kurang dari jam 7 kami sudah njenguk ngantri. Begitu ada komando suruh masuk segera kami masuk untuk beli tiket. Haduh, ternyata ngantri beli tiketnya juga lama sekitar 1 jam. Begitu dapat tiket kami harus ngantri lagi untuk naik lift. Ini juga perlu 15 menitan. Lift yang jumlahnya 4 penuh semua sehingga harus ngantri. Tapi ada nilai positifnya antri di Jepang yaitu semua mau diatur dan taat aturan. Kalau sudah diminta antri orang Jepang pasti ngantri dengan tertib. Nggak ada yang serobot sana sini. Justru orang Jepang merasa malu kalau berani nyerobot atau melanggar aturan. Akhirnya sekitar jam 8.15 malam kami bisa naik ke atas lihat pemandangan kota Tokyo di malam hari. Ini adalah salah satu ikon wisata Tokyo dan saat ini menjadi pembicaraan hangat di Jepang. Karena apa? Karena ini adalah bangunan tertinggi di Jepang saat ini. Tokyo Sky Tree tingginya 634 meter, dibangun mulai Juli 2008 dan mencapai titik tertinggi yaitu 634 meter pada Maret 2012. Dibuka untuk umum mulai Mei 2012, jadi memang masih baru banget. Karena baru ya resikonya lagi lagi harus ngantri. Di Tokyo Sky Tree ada dua tempat observasi yang pertama pada ketinggian 350 meter, harga tiketnya 2000 yen. Selanjutnya pada ketinggian 450 meter. Yang mau sampai 450 meter harus beli tiket lagi harganya 1000 yen diloket pembelian yang ada di observasi 350 meter. Karena sudah jauh jauh dari Aichi, saya sama istri memutuskan sampai naik sampai 450 meter. Ada perasaan takut karena tingginya minta ampun. Kalau orang Jawa bilangnya awing awangen hahaha. Alhamdulillah cuaca cerah sehingga bisa menikmati pemandangan kota Tokyo dari ketinggian 350 meter dan 450 meter dengan leluasa. Setelah puas muter muter akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena memang sudah mau tutup juga. Oh iya, Tokyo Sky Tree buka sampai jam 10 malam. Selanjutnya menuju penginapan ala kost kostan di Asakusa Smile Hostel ^_^

4. Kuil Asakusa

Istri sama si kecil di depan kaminari mon, Asakusa, Tokyo.

Pagi pagi jam 6 kami sudah bangun langsung mandi, ngrapiin kamar dan persiapan lainnya.Teman saya masih sibuk dengan urusannya jadi belum balik ke penginapan. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke tujuan selanjutnya yaitu kuil Asakusa dengan jalan kaki. Ada baiknya juga nginap di Asakusa Smile Hostel ini karena dekat dengan Tokyo Sky Tree dan kuil Asakusa. Cukup jalan kaki 20 menitan sudah nyampai. Benri na tokoro datta. Saya sudah ngomong ke office hostelnya kalau mau chek out jam 7 pagi. Dia bilang kalau begitu kuncinya masukin saja ke kotak pos karena gak ada orang hahaha….unik khan ya. Wah ternyata diluar cuaca jelek, hujan cukup deras. Dengan bagi bagi kerjaan sama istri kami berangkat jalan kaki ke kuil Asakusa. Istri gendong si kecil, saya gendong beberapa tas bawaan.

Sampai tempatnya masih pagi banget. Belum ada jam 8. Toko toko yang berjajar di didepan kuil Asakusa juga belum buka. Baru 2-3 tempat yang lagi bersiap siap. Tapi karena ngejar target meskipun masih sepi kami tetep masuk. Tidak ada tiket alias gratis. Kuila Asakusa ini juga terkenal di Tokyo. Kalau di Jakarta ada kota tua, kalau di Tokyo ada Asakusa. Mungkin perbandingannya seperti itu. Kalau search foto foto di google biasanya selalu penuh orang yang berkunjung. Sayang sekali karena hujan jadi tidak bisa menimati sepenuhnya. Mau foto saja harus hati hati agar kameranya tidak kena air. Tapi lumayanlah…akhirnya bisa juga main ke Asakusa. Setelah dirasa cukup kami keluar dan memutuskan untuk mengisi makan pagi dulu sambil menyusun rencana selanjutnya.

5. Odaiba

Liberty ala Odaiba, Jepang

Sambil makan kami memikirkan langkah selanjutnya karena ternyata teman belum balik juga sedangkan dia yang bawa mobil. Karena belum balik juga akhirnya kami putuskan untuk pergi ke tujuan selanjutnya naik kereta. Masalah transportasi bisa diatasi karena transportasi di Tokyo sangat mudah. Semua terhubung satu dengan yang lain. Bantuan berbagai aplikasi dari iphone sangat membantu kami mencari lokasi stasiun, jadwal kereta, biaya sampai dimana harus transit kereta. Segera kami ke stasiun Asakusa yang jaraknya hanya 400 meter dari kuil Asakusa. Langsung beli tiket untuk jurusan Daiba, stasiun disebelah Odaiba. Yoshi….Tsuita!

Patung Gundam di Odaiba, Tokyo

Nyampai Odaiba ternyata hujan deras. Haduh cuaca kurang bersahabat. Tapi memang ini sesuai prakiraan cuaca bahwa pagi sampai siang Tokyo turun hujan. Mungkin ada pertanyaan di Odaiba ada apa sih? Di Odaiba ada patung liberty tiruan. Karena tiruan jadinya bentuknya agak kecil meskipun di desain persis dengan patung liberty yang ada di Amerika. Disitu juga ada pelabuhan khusus untuk perahu wisata mengelilingi daerah di sekitar Odaiba. Perahu wisata ini bentuknya unik atapnya kaca sehingga penumpang bisa lihat pemandangan sekitarnya dengan jelas banget. Ada satu lagi yaitu patung gundam yang juga menjadi salah satu ikon Odaiba. Setelah muter muter kami istirahat di restoran Indonesia yang ada di Odaiba. Namanya restoran Surabaya. Restoran ini ada di mall Aqua City lantai 5 tepat disebelah stasiun Daiba. Restoran Surabaya merupakan jaringan restoran Indonesia yang cukup besar di Jepang. Bahkan mungkin paling besar. Mempunyai banyak cabang di berbagai kota besar di Jepang. Soal menu bisa dipastikan menu ala Indonesia. Enak dan bisa mengobati rasa rindu masakan Indonesia. Di restoran ini kami istirahat sambil makan siang sekalian nunggu teman yang balik dari urusan pribadinya. Setelah makan dan semuanya kumpul kami melanjutkan ketujuan selanjutnya yaitu Tokyo Tower.

6. Tokyo Tower

Tokyo Tower di malam hari. Diambil Oktober 2012.

Meskipun sudah ada Tokyo SkyTree tapi Tokyo Tower tetap fenomenal dan wajib di kunjungi kalau anda main ke Tokyo. Sejarah Tokyo Tower sangat panjang dan modelnya diadopsi dari menara Eiffel di Paris, Perancis. Tokyo Tower tingginya 333 meter dan mulai dibangun Juni 1957 dan mulai dibuka Desember 1958. Sampai saat ini sudah lebih dari 150 juta orang datang ke Tokyo Tower. Jumlah yang luar biasa. Ada dua tempat observasi yaitu pada ketinggian 150 meter dan 250 meter. Harga tiketnya sampai 150 meter 820 yen untuk orang dewasa. Kalau mau naik sampai 250 harus beli tiket lagi harganya 600 yen. Karena salah satu tujuan wisata favorit di Tokyo ya lagi lagi harus ngantri dari beli tiket sampai naik lift. Dilihat dari bentuk menaranya Tokyo Tower sangat cantik apalagi kalau lihatnya pada malam hari. Perpaduan struktur besi, warna cat dan lampu sangat pas sekali dan mengesankan sekali. Cukup lama kami berada di Tokyo Tower ini. Kami kelilingi sambil melihat pemandangan kota Tokyo sambil menunggu malam. Karena setelah ini kami harus balik ke Aichi lagi. Sebenarnya masih ada tujuan lain yaitu Kamakura tapi karena waktu yang tidak memungkinkan akhirnya rencana ke Kamakura kami batalkan. Setelah puas sekitar jam 19.30 kami memutuskan turun dan balik ke Aichi.

Saatnya pulang ke Aichi lagi. Alhamdulillah perjalanan lancar tidak ada kemacetan sama sekali dan bisa sampai rumah sekitar jam 23.30 an. Tapi karena kurang istirahat, capek, telat makan dan kehujanan akhirnya harus masuk angina hehehe. Kapan kapan lagi Insya Alloh main ke Tokyo lagi karena masih ada hutang beberapa tempat tujuan yang belum di kunjungi. Tokyo…Mata asobini kimasu ^_^

Musim gugur Oktober 2012

Aichi, Jepang

Advertisements

Ngalor Ngidul Pas Musim Panas Juli – Agustus 2012

Meskipun lahir dan besar di negara tropis yang panasnya minta ampun, saya kalau masuk musim panas tetap juga merasa tidak nyaman. Kenapa gitu? Karena panasnya Indonesia itu beda dengan panasnya Jepang pas musim panas. Kalau gak percaya silahkan main ke Jepang dan buktikan sendiri ^_^ Di Indonesia sinar matahari memang panas tapi angin masih tetap dingin. Dengan kata lain, sumber panasnya hanya satu, yaitu sinar matahari. Karena angin masih dingin sekedar pakai kipas angin saja sudah cukup lumayan untuk mendinginkan ruangan. Kalau di Jepang – mungkin juga di negara lain yang punya empat musim –  sinar matahari dan angin keduanya sama sama panas. Jadi pada waktu musim panas kalau hanya pakai kipas angin gak akan mempan, harus pakai AC. Siang hari begitu keluar rumah kulit panas rasanya kayak kebakar, ketika ada angin sempat berharap menjadi sedikit dingin tapi ternyata tidak justru menjadi lebih panas ^_^ Kalau diukur suhu udara sebenarnya gak terlalu beda dengan di Indonesia. Misalnya kita ambil suhu rata rata kota Jogja sekitar 33-35 derajat celcius,  sedangkan suhu musim panas di kota Nagoya rata rata sekitar 33-37 derajat celcius. Kadang kadang memang lebih dari itu misalnya tapi biasanya tidak bertahan lama. Perbandingan suhu keduanya tidak terlalu beda tapi karena ketika musim panas, angin juga panas itu tadi rasanya jadi lain sekali.

Tapi meskipun udara sangat panas, musim panas adalah waktu yang ditunggu tunggu oleh publik Jepang karena merupakan waktu untuk melakukan berbagai macam kegiatan outdoor. Misalnya saja naik gunung, camping, barbeque, memancing, main layang layang dan lain sebagainya. Tempat rekreasi, taman, tempat bermain, pantai sampai gunung Fuji sangat ramai sekali. Pada saat musim panas ini, di Jepang ada istilah obon yasumi atau jika diterjemahkan menjadi liburan obon. Fenomena liburan obon ini mirip dengan fenomena mudik pas hari raya Idul Fitri yang ramai di tanah air yaitu orang Jepang yang merantau pulang ke daerah asalnya. Misalnya orang yang aslinya Osaka tapi kerja di Tokyo, pas liburan obon mereka mudik ke Osaka. Liburan obon ini biasanya dimulai sekitar minggu kedua bulan Agustus.

Singkat cerita, saya juga tidak mau gosong kepanasan karena cuman berdiam diri seharian dirumah selama musim panas. Waktu libur adalah waktu jalan jalan, mumpung masih di Jepang. Selain pingin refreshing, kabur dari rumah adalah salah satu cara untuk menghemat listrik karena dengan kabur dari rumah berarti AC dimatikan untuk beberapa jam ^_^ Kalau ini sih cuman alasan gak terlalu penting ya hehehe. Terus emangnya ngapain aja sih? Satu persatu coba saya tulis dibawah ini :

1. Festival Mando

Mando Matsuri yang digelar setiap musim panas bulan Juli di kota Kariya, prefecture Aichi, Jepang. Foto diambil 29 Juli 2012.

Tujuan pertama adalah melihat festival Mando. Festival Mando atau dalam bahasa Jepang disebut sebagai Mando Matsuri adalah salah satu festival yang rutin digelar di kota tempat kami tinggal. Jika ditulis dengan kanji menjadi 万燈祭. Kalau tidak salah, arti dari Mando Matsuri adalah festival sepuluh ribu lentera. Biasanya Mando Matsuri digelar pada sabtu malam dan minggu malam dibulan Juli. Peserta Mando Matsuri adalah daerah setingkat kelurahan dan perusahaan yang berkantor dan beroperasi kota tempat tinggal saya ini. Sebagai salah satu even resmi musim panas yang diadakan oleh pemerintah kota, Mando Matsuri ini sangat meriah dilihat dari banyaknya grup peserta yang ikut maupun penonton yang menyaksikan festival ini yang berasal dari kota lain.

Salah satu patung peserta Mando Matsuri yang telah dinyalakan lampunya. Foto diambil 29 Juli 2012.

Setelah saya mencari informasi lewat internet, ternyata sejarah Mando Matsuri ini cukup panjang juga. Sudah dilakukan selama lebih dari 200 tahun yang lalu. 200 tahun yang lalu, berarti sejak Edo jidai atau jaman edo. Di situs wikipedia ditulis bahwa Mando Matsuri dimulai sejak tahun 1778. Lalu tujuan dari Mando Matsuri ini apa? Di wikipedia dijelaskan juga bahwa tujuan festival ini adalah untuk memohon keamanan seluruh kota terutama dari bahaya kebakaran. Format festivalnya seperti apa? Peserta membuat semacam patung manusia atau bangunan yang terbuat dari kertas warna warni. Didalam patung tersebut diisi lampu yang dinyalakan dimalam hari kemudian diarak keliling kota. Masing masing kelurahan atau perusahaan menyumbang patung yang berbeda sehingga bentuknya sangat unik dan bervariasi. Mando Matsuri ini berlangsung sekitar 2-3 dimulai sekitar jam 6 sore sampai 9 malam.

2. Minami Chita Beach Land

Salah satu atraksi anjing laut di Minami Chita Beach Land. Biasa saja ya, di Indonesia juga banyak ^_^

Sebenarnya tidak ada rencana sama sekali untuk pergi ke Minami Chita Beach Land ini. Memang pernah dengar tentang tempat wisata ini tapi tidak ada greget untuk mengunjunginya sampai teman orang Jepang menawari tiket masuk untuk 2 orang ke tempat wisata ini. Setelah melihat diwebsitenya ternyata harga tiketnya cukup mahal yaitu satu orang dewasa 1600 yen atau sekitar 160.000 rupiah berarti kalau 2 orang jadi 3200 yen. Karena sayang sekali kalau dilewatkan begitu saja akhirnya saya putuskan untuk pergi ke tempat wisata ini, waktunya sabtu 4 Agustus 2012.

Atraksi lumba lumba di Minami Chita Beach Land.

Tidak terlalu susah untuk menemukan lokasi Minami Chita Beach Land ini karena memang masih satu prefecture. Jaraknya sekitar 30an kilometer dari apartemen saya dan bisa ditempuh melalui jalan biasa. Karena ada kata beach-nya ya berarti dipinggir pantai. Setelah saya amati di peta ternyata dekat dengan chubu kokusai kuukou atau central japan airport. Terus isinya apa sih? Menurut saya biasa biasa saja, misalnya ada pertunjukan anjing laut dan lumba lumba. Terus ada pinguin, kura kura dan akuarium berisi bermacam macam hewan laut. Jujur  tidak ada yang spesial karena yang seperti ini di Indonesia juga ada. Tapi karena gratis itu tadi tetap harus disyukuri dan dinikmati.

3. Fuji Safari Park

Pintu masuk Fuji Safari Park. Jam 8.45 pagi sudah penuh sekali. Lokasi di lereng gunung Fuji, Shizuokaken, Susonoshi.

Di Jepang ada liburan musim panas atau istilah Jepangnya natsu yasumi. Di kalangan perusahaan liburan musim panas biasanya bersamaan. Untuk tahun ini, libur perusahaan ditempat saya bekerja jatuh minggu ke-3 bulan Agustus ini. Lumayan 1 minggu full libur. Tapi karena liburan musim panas ini berbarengan dengan puasa ramadhan jadinya kegiatan touring keluar kota saya batasi. Kalau dipaksakan rasanya tidak nyaman karena udara yang sangat panas dan saya sendiri tidak ingin dihari hari terakhir ramadhan malah gagal puasanya. Sayang sekali kalau pas libur kerja kok puasanya malah bolong. Setelah mikir dan nyari lewat internet akhirnya dapat target touring yang baru yaitu Fuji Safari Park di daerah Shizuokaken, Susonoshi dan diputuskan pergi 12 Agustus 2012. Lokasi Fuji Safari Park ini di kaki gunung Fuji yang jaraknya dari apartemen saya sekali jalan sekitar 220 km, kalau bolak balik jadi sekitar 450an km. Lumayan jauh khan hehehe.

Salah satu penunggu Fuji Safari Park ^_^

Tempat wisata model Fuji Safari Park ini juga ada di Indonesia yaitu Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor. Meskipun saya belum pernah ke Taman Safari Indonesia tapi saya yakin konsepnya sama. Setelah berunding saya istri akhirnya diputuskan berangkat setelah sahur dan karena alasan ekonomi saya memilih tidak lewat tol meskipun resikonya capek dan perjalanan menjadi lama. Jam menunjukkan 4.30 pagi hari ketika kami keluar rumah. Alhamdulillah karena berangkat pagi perjalanan lancar dan nyampai tempatnya jam 8.45, pas banget dengan jam buka. Begitu masuk kami dihadapkan dua pilihan mau pakai bis milik Fuji Safari Park atau pakai kendaraan pribadi. Biar praktis akhirnya kami pilih naik kendaraan pribadi untuk masuk ke dalam. Isinya bisa ditebak, berbagai macam hewan karnivora dan hewan herbivora bisa diamati dalam jarak yang amat dekat. Setelah selesai keliling pakai mobil pribadi kami meneruskan dengan keliling dengan jalan kaki mengikuti jalur yang ada. Pendapat pribadi saja, isinya lumayan juga karena setelah selesai keliling pakai mobil bisa melanjutkan jalan kaki keliling taman. Koleksi hewannya juga cukup lengkap plus udara yang cukup sejuk karena memang berada dilereng gunung Fuji. Setelah puas jalan jalan dan foto sana sini, jam 3 sore kami memutuskan untuk pulang. Sempat mampir ke kota Hamamatsu untuk menunjukkan ke istri kampus saya dulu sekaligus berbuka puasa. Perjalanan pulang alhamdulillah lancar dan sampai rumah tepat jam 10 malam.

4. Wansaka Matsuri Hanabi Taikai

Pesta kembang api di wansaka matsuri hanabi taikai. 18 Agustus 2012.

Terakhir adalah melihat pesta kembang api. Pesta kembang api banyak diadakan di Jepang saat musim panas dan hampir setiap kota mengadakannya. Di kota tempat saya tinggal, pesta kembang api ini dinamakan wansaka matsuri hanabi taikai, jika ditulis dengan kanji menjadi わんさか祭り花火大会.  Tahun ini pesta kembang api digelar hari sabtu, 18 Agustus 2012 bertepatan dengan malam takbiran karena di Jepang hari raya idul fitri jatuh 19 Agustus 2012. Boleh dikatakan ini adalah adalah acara puncak dari berbagai macam festival di Jepang. Seperti halnya festival mando, peserta dari festival kembang api ini adalah perusahaan perusahaan yang ada di kota Kariya. Ada yang menyumbang utuh ada juga yang patungan. Soal besaran dana saya tidak tahu pasti tapi saya kira sangat besar karena pesta kembang api ini berlangsung terus menerus dan lama sekali, mulai dari jam 7.30 malam sampai jam 8.45 malam.

Festival kembang api atau hanabi taikai.

Antusiasme warga untuk meramaikan acara ini sangat luar biasa. Sebagai contohnya saja pesta kembang api dimulai jam 7:30 malam tapi warga rela untuk datang 1-2 jam sebelumnya. Meskipun jumlahnya sangat banyak, warga yang datang juga tertib dan mudah sekali diatur. Pemerintah juga aktif mengkoordinasi agar acara berjalan dengan lancar misalnya saja mengatur parkir yang memadai dan disediakan secara gratis. Petugas keamanan khusus dan polisi juga sigap mengatur lalu lintas. Angkutan juga diatur khusus sehingga warga yang datang memakai kereta bisa langsung menuju lokasi dan lagi lagi gratis. Pendapat pribadi saja ya, melihat acara yang semarak dengan penonton yang ribuan tapi tetap aman dan tertib rasanya puas dan senang sekali. Hanabi taikai….mata rainen ne ^_^

Itulah sedikit ringkasan musim panas tahun ini. Sampai jumpa di musim panas tahun depan dan selamat hari raya Idul Fitri 1433 Hijriyah. Allohu akbar walillailham.

Aichi, 19 Agustus 2012.

Sekilas Golden Week 2012

Jujur ya, jaman masih sekolah saya jarang sekali bisa menikmati liburan baik itu liburan musim dingin, golden week maupun musim panas. Keterbatasan keuangan dan kesibukan sekolah membuat liburan liburan tersebut  terlewati dengan tetap kerja di pabrik untuk mencari tambahan uang, diam bengong di rumah untuk penghematan, mengerjakan tugas tugas sekolah atau pulang ke Indonesia untuk mencari data buat penelitian. Setelah masuk dunia kerja aktivitas utama saya tentu saja bekerja, ikut membantu istri mengurus rumah dan terakhir belajar untuk persiapan sekolah lagi. Jujur lagi, dua hal yang terakhir saya lakukan dengan santai. Kata orang jawa, alon alon waton kelakon…..alias pelan pelan asal kesampaian hehehe.

Setelah masuk dunia kerja yang boleh dikatakan dunia yang monoton, yang namanya liburan adalah sesuatu yang sangat berarti dan saya tunggu tunggu. Kalau sudah dekat liburan, waktu itu terasa cepat sekali. Jalan rasanya enteng, apalagi kalau habis gajian hahaha. Jauh sebelum liburan panjang tiba, saya sudah menyusun rencana apa yang mau saya lakukan. Mau ngapain, mau pergi kemana, sama siapa, dari kapan sampai kapan, naik apa sampai berapa dana yang dibutuhkan. Menurut saya, golden week adalah liburan yang paling enak. Kenapa? Karena kalau libur musim panas udaranya sangat panas sebaliknya liburan musim dingin udaranya sangat dingin, jadi keduanya kurang enak buat jalan jalan diluar ruangan.

Liburan golden week tahun 2012 ini jatuh tanggal 28 April sampai 6 Mei. Lumayan panjang, total ada 9 hari. Setelah berunding dengan istri akhirnya saya berhasil menetapkan jadwal yang cukup asyik buat berpetualang menikmati liburan golden week di Jepang bersama istri dan buah hati saya.  Saya coba menyusun jadwalnya mulai dari yang lokasinya dekat rumah sampai yang jauh jauh.

1. Main Ke Denpark, Aichiken Anjoushi.

Denah Denpark Di Anjoshi

Pertama kali lokasi yang kami tuju adalah Denpark yang ada di Anjoushi. Lokasi Denpark ini dekat dengan rumah saya, paling sekitar 5 kilometer. Sebagai pemanasan sebelum menuju lokasi yang jauh jaun. Perginya hari pertama golden week yaitu hari sabtu 28 April 2012. Sebenarnya saya sudah tahu tentang Denpark ini sudah cukup lama, tapi keinginan perginya baru muncul setelah saya ingin melihat bunga bunga yang mekar. Setelah tanya orang Jepang dan nyari informasi di internet dapat informasi kalau di Denpark ini ada juga kebun bunganya. Alhasil pergilah saya bersama istri dan si kecil.

Nisa Sama Mamanya Lagi Makan Siang

Pendapat saya, Denpark cukup representatif juga untuk sekedar refreshing dengan keluarga. Tamannya luas, parkirnya luas, koleksi bunganya juga beragam, ada kolam untuk bermain, tempat jual oleh oleh juga ada, tempat makan dan sebagainya. Dengan biaya masuk yang tidak begitu mahal yaitu 600 yen plus lokasi yang dekat dari rumah menjadikan Denpark sebagai tempat yang lumayan enak untuk refreshing.

2. Menuju Sakae Dan Meijo Kouen, Nagoya

Salah Satu Perempatan Di Sakae

Tempat kedua adalah Sakae di pusat kota Nagoya. Sakae merupakan tempat buat jalan jalan dan surganya pejalan kaki. Dihari libur jalan jalan di Sakae ditutup untuk semua kendaraan. Praktis saat itu pejalan kaki adalah raja. Sebenarnya saya tidak merencanakan ini, tapi karena teman teman yang biasa ngumpul mengajak main ke Sakae akhirnya saya masukkan ke jadwal jalan jalan golden week. Perginya hari minggu tanggal 29 Mei 2012. Rutenya saya dihampiri oleh teman yang tinggalnya di kota sebelah terus bersama sama menuju ke rumah teman yang tinggal dekat dengan kota Nagoya.

Setelah semua berkumpul dengan jumlah 10 orang kami pergi bersama sama naik kereta. Wah yang namanya liburan ya….dimana mana ramai. Jalan macet, bis penuh, stasiun uyel uyelan….jadi kayak pasar hehehe. Sampai di Sakae kami langsung menuju ke restoran yang menyediakan masakan Indonesia, namanya restoran putri bali. Wah ngantrinya puuanjaang sekali. Jujur saja soal makan saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka ngantri. Tapi karena berangkat bareng dan ngantri rame rame jadinya gak terasa. Ditambah dengan menu nasi goreng isi ikan pepes yang rasanya bikin melayang layang terasa cukup membayar waktu tunggu yang begitu lama hehehe.

Setelah selesai makan kita melanjutkan perjalanan ke Meijou Kouen atau taman Meijo. Ceritanya pingin lihat tulip, tapi ternyata kuncupnya sudah mekar kayak payung. Akhirnya kita sewa sepeda onthel buat jalan jalan keliling Meijou Kouen. Kita pilih sepeda onthel yang sudah dimodifikasi menjadi 2 kursi, yang belakang ikut ngonthel juga. Wah lumayan buat olah raga, ternyata langkah kami menyewa sepeda onthel tidak salah. Soalnya kalau tidak naik sepeda onthel saya jamin bukannya badan kurus tapi justru pegal pegal karena kelamaan jalan kaki. Setelah puas main di Meijou Kouen kami pulang. Tapi sebelum pulang kami diajak mampir ke rumah teman untuk makan malam. Menunya tentu saja menu masakan Indonesia yang pedes pedes hehehe. Tak terasa hari kedua golden telah selesai. Alhamdulillah….bisa ketemu teman sekaligus jalan jalan.

3. Menengok Guarantor Ke Shizuoka

Shin Tomei Mikkabi JCT

Sekitar 3 minggu sebelum masuk liburan golden week, saya dapat email dari guarantor atau penjamin saya sewaktu sekolah bahasa Jepang dulu. Ternyata dia masih ingat saya hehehe. Ceritanya saya mau main ke rumah dia pas liburan musim dingin, yaitu Januari 2012. Tapi setelah saya email dia ternyata ada di Yordania untuk urusan kerjaan selama 6 bulan dari Oktober 2011 sampai April 2012. Dia juga membalas kalau sudah balik Jepang akan kirim kabar lagi. Saya sudah lupa pembicaraan tentang itu ketika tiba tiba ada email dari guarantor saya tersebut kalau dia sudah balik Jepang dan tanya ke saya kalau ada waktu silahkan datang ke rumah.

Nisa Lagi Istirahat

Setelah soal waktu janjian disepakati yaitu Selasa 1 Mei 2012 akhirnya saya, istri dan si kecil pergi ke Shizuoka. Perkiraan jalan macet karena pas libur golden week dan hujan ternyata tidak terbukti. Rute jalan tol Tokyo-Nagoya atau sering disingkat dengan Tomei yang kami ambil alhamdulillah lancar lancar saja. Saat itu di Jepang sedang jadi perbincangan publik soal rute Tomei yang baru atau disebut Shin Tomei. Shin Tomei ini dibuka 14 April 2012, masih baru banget. Jadi ceritanya jalan tol Tomei didaerah Mikkabi (Mikkabi JTC) yang masuk wilayah Shizuoka dibuat jalur baru disebelah utara tembus sampai daerah Gotemba (Gotemba JTC), jalur tol baru ini disebut Shin Tomei. Shin Tomei ini jaraknya lebih pendek 10 kilometer dibandingkan dengan Tomei.

Salah Satu Sudut Kota Shizuoka

Ketika saya dekat dengan persimpangan Mikkabi JTC ini saya sempat bingung ngambil yang mana, tapi setelah istri melihat navi di handphone yang menunjuk jalur tol Tomei yang lama akhirnya saya milih yang jalur yang lama. Maklum ini pertama kali saya pakai tol ke arah Tokyo jadi sempat bingung. Sebelumnya saya pernah ke Shizuoka tapi selalu pakai jalur gratis, yaitu jalur 23 terus nyambung jalur 1. Tapi perbedaan waktu memang terasa sekali. Jarak tempat saya sampai Shizuoka sekitar 150 kilometer. Jika ditempuh lewat jalur gratis paling cepat 4 jam, tapi ketika lewat tol dengan mudah bisa dicapai dalam waktu 2 jam.

Akhirnya sampai juga di Shizuoka. Langsung saya menuju ke rumah guarantor saya. Wah sudah lama sekali saya tidak ketemu dengan beliau. Setelah diingat ingat, sudah 5 tahun tidak ketemu meskipun saya selalu kirim email pas tahun baru. Segera saya perkenalkan istri dan si kecil. Kami ngobrol ngalor ngidul kemana mana sambil makan spagetti made in istri beliau. Saya terkejut karena tiba tiba beliau menunjukkan Al Quran kepada saya. Dia bilang selama 6 bulan di Yordania dia banyak berinteraksi dengan muslim karena memang negara muslim. Sampai akhirnya dia membeli Al Quran tersebut. Kami juga ngobrol tentang Islam baik di Jepang, Indonesia maupun Yordania.

Setelah puas ngobrol kami minta pamit. Suatu saat kami berniat untuk mengunjungi beliau lagi. Sebelum pulang kami mampir ke pusat kota Shizuoka. Wah ternyata Shizuoka jauh berubah. Perkembangannya luar biasa. Saya tinggalkan kota Shizuoka tahun 2006, balik lagi 2012. Satu hal yang saya garis bawahi, pembangunan kota bawah tanah benar benar maju pesat. Beberapa langkah lagi akan mampu menyaingi kota bawah tanahnya Sakae di Nagoya. Jempol dua untuk Shizuoka. Setelah merasa cukup akhirnya kami memutuskan pulang ke Aichi. Sampai ketemu lagi Shizuoka ^_^

4. Kembali Ke Kyoto

Rencana ke Kyoto ini berawal dari acara ngumpul pas ada perpisahan teman yang akan pulang ke Indonesia. Saat itu saya ngobrol tentang pengalaman berkendaraan sendiri ke daerah Kyoto dan Osaka. Terus ada teman yang menyahut yuk kapan kapan lagi main ke sana. Ajakan itu saya sanggupi. Setelah menyusun jadwal akhirnya acara main ke Kyoto dijadwalkan hari Kamis tanggal 3 Mei 2012. Pesertanya berkurang menjadi 2 keluarga dengan 2 kendaraan pribadi dengan total member 6 orang.

Sudut Sudut Gion Di Kyoto

Sebelum berangkat saya tanya ke teman saya, mau lewat tol apa lewat yang gratis? Teman saya ini menjawab lewat yang gratis saja dulu, katanya buat pengalaman pertama. Oke saya setuju. Untuk mengefektifkan waktu saya putuskan berangkat jam 1 dini hari biar sampai Kyoto pagi hari. Kalau bisa sampai pagi banget bisa istirahat 2-3 jam, badan bisa enak tidak ngantuk. Karena sangat berbahaya sekali. Jika lewat jalur biasa jarak Aichi sampai Kyoto sekitar 170 kilometer bisa kami tempuh kurang dari 5 jam.  Sesuai perkiraan kami sampai di pinggiran kota Kyoto sekitar jam 5:30 pagi. Segera kami istirahat untuk memulihkan stamina.

Kyomizu Dera Di Kyoto

Sekitar jam 7:30an kami melanjutkan perjalanan yang masuk menuju kota Kyoto. Tujuan kami yang pertama adalah daerah Gion. Daerah yang sangat terkenal dengan Geisha-nya dimalam hari. Wah masih pagi sekali, belum banyak orang yang lalu lalang. Toko toko juga masih banyak yang tutup. Tapi gak apa apa….kami tetap berkeliling melihat pojok pojok Gion di pagi hari. Setelah merasa puas, kami lanjutkan lagi ke tujuan berikutnya yaitu Kyomizu Dera. Kyomizu Dera adalah kuil yang sangat terkenal di Kyoto. Posisinya yang diatas gunung menjadikan kita bisa melihat keindahan kota Kyoto. Jam baru menunjukkan jam 8:30 tapi Kyomizu Dera sudah penuh dengan pengunjung sampai susah banget untuk sekedar menemukan parkir. Setelah keliling dan foto foto akhirnya kami keluar dari Kyomizu Dera untuk menuju tujuan berikutnya.

Kyoto Tower Dilihat Dari Kyomizu Dera

Keluar Kyomizu Dera kami menuju Ginkakuji atau kuil perak. Kebetulan saya belum pernah ke Ginkakuji. Dalam pikiran saya Ginkakuji itu kuil yang dicat dengan warna perak atau silver. Ternyata salah. Tidak ada yang dicat warna perak. Bangunan kuil utama juga tidak dicat dengan warna perak. Tapi memang saya akui dalamnya sangat rapi dan cantik. Taman, jalur untuk pejalan kaki dan pengaturan pasirnya juga rapi sekali. Bagus dan layak untuk di kunjungi. Diluar Ginkakuji masih bisa ditemui becak yang ditarik oleh manusia. Saya sudah 4 kali ke Kyoto dan berkunjung ke banyak tempat. Tapi becak yang ditarik manusia ini hanya saya temui di depan Ginkakuji.

Kuil Emas Atau Kinkakuji Di Kyoto

Habis Ginkakuji kami menuju ke Kinkakuji atau kuil emas. Kuil ini juga sangat terkenal di Jepang. Di kalangan orang asing apalagi, kuil yang begitu punya tempat tersendiri. Boleh dikatakan belum ke Kyoto kalau belum ke Kinkakuji. Ketika kami ke Kinkakuji jumlah yang pengunjung luar biasa banyaknya. Parkir juga susah banget nyarinya. Setelah puas foto foto dan menikmati suasana Kinkakuji kami melanjutkan ke kuil sebelah yaitu kuil Ryoanji. Saya katakan sebelah karena memang letaknya tidak terlalu jauh dari Kinkakuji, mau jalan kaki juga bisa. Setelah puas keliling ditengah banyaknya pengunjung kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tapi karena perut lapar kami memutuskan untuk mengisi perut sambil menyusun rencana lokasi yang akan dituju berikutnya.

Kota Kyoto DIlihat Dari Kyoto Tower

Setelah istirahat cukup dan perut kenyang kami melanjutkan perjalanan. Sebenarnya ingin ke kuil yang lain tapi ternyata waktunya sudah gak cukup mengingat kuil biasanya tutup jam 5 sore, akhirnya kami menuju ke tujuan terakhir yaitu Kyoto Tower atau menara Kyoto. Sampai Kyoto Tower sekitar jam 6 sore. Waktu yang lumayan bagus untuk melihat suasana kota Kyoto di sore hari. Lagi lagi….pengunjung luar biasa banyaknya. Karena memang merupakan salah satu andalan pariwisata kota Kyoto. Puas menikmati keindahan kota Kyoto dari puncak Kyoto Tower kami sepakat untung pulang ke Aichi. Lagi lagi perlu perjuangan yang panjang menelusuri jalur 1 dan jalur 23 untuk bisa mencapai Aichi. Di tengah jalan karena rasa kantuk yang sudah tidak bisa ditahan kami memutuskan istirahat cukup lama, 3 jam. Setelah fresh kembali kami melanjutkan perjalanan dan alhamdulillah sampai dirumah dengan selamat meskipun molor waktunya menjadi jam 2 pagi. Kyoto kamu tetap tetap terlihat cantik sampai saat ini.

5. Main Ke Bokka No Sato, Gifu Ken

Target Belum Kelihatan

Sejak dulu saya pingin sekali main ke daerah Gifu tapi baru kesampaian pas liburan golden week tahun ini. Info Bokka No Sato ini saya dapat pertama kali dari iklan di televisi. Karena penasaran akhirnya saya coba cari di google dan ternyata tulip di Bokka No Sato baru saja mekar jadi pas banget kalau ingin lihat langsung. Di internet saya juga dapat foto foto tentang bunga bunga di Bokka No Sato yang cantik sekali sekaligus beberapa koleksi hewan misalnnya domba, kuda, sapi dan beberapa hewan lain. Terbersit di pikiran kami untuk mengenalkan hewan hewan ini pada si kecil. Yoshi….tujuan selanjutnya sudah ada, Bokka No Sato di Gifu Ken, Gujo Shi. Waktu berangkatnya hari Sabtu, 5 Mei 2012.

Sisa Sisa Salju Nan Jauh Disana

Segera saya cari akses ke Bokka No Sato, ternyata ada 2 bisa lewat jalan yang gratis dan lewat tol dengan jarak sekitar 150 kilometer. Karena pertimbangan waktu, jarak yang jauh, macet dan jalan yang belum hafal saya putuskan untuk lewat jalan tol. Tapi ternyata lewat jalan tol tidak semudah yang dibayangkan. Begitu banyak percabangan benar benar bikin bingung, ditambah padatnya lalulintas dan kecepatan kendaraan membuat bingung jika salah ambil jalan. Saya sempat beberapa kali salah jalan meskipun istri saya sudah melotot melihat navi di handphone kami. Tapi ruwetnya jalan tol ini hanya didalam kota Nagoya, setelah melewati tol dalam kota Nagoya jalan menuju Bokka No Sato begitu mulus.

Terowongan Di Depan Mata

Tol yang menghubungkan Nagoya dengan Gifu dan Fukui ini dinamakan Tol Tokai Hokuriku. Pemandangan selama perjalanan sepanjang 150 kilometer ini benar benar menakjubkan. Saya pernah melewati tol Osaka sampai Nagoya dan Nagoya sampai Shizuoka, tapi tol Tokai Hokuriku antara Nagoya sampai Gifu ini benar benar menantang dan menyenangkan. Jalur tol yang melewati gunung gunung dibuat singkat dengan cara membuat terowongan menembus gunung gunung tersebut. Tidak tanggung tanggung dengan jarak 150 kilometer yang saya tempuh saja ada 28 terowongan yang menembus gunung dengan terowongan terpanjang sekitar 3000 meter. Jika diteruskan sampai Fukui saya tidak tahu sampai ada berapa terowogan. Disamping terowongan yang begitu banyak juga ada jembatan yang tinggi tinggi yang mengubungkan antar gunung tersebut. Pemandangan sisa sisa salju dipuncak gunung dan rute permainan sky di atas gunung menambah kekaguman saya pribadi.

Barisan Tulip

Tapi resiko liburan tetap ada meskipun sudah mengambil rute jalan tol. Masuk ke daerah Gifu kami terkena macet yang luar biasa panjang. Saya pikir ada kecelakaan atau jalan yang rusak. Ternyata bukan, macet disebabkan oleh penyempitan ruas jalan tol dari 2 ruas ke 1 ruas karena akan masuk terowongan. Gara gara macet ini dan salah jalan tadi perjalanan jadi molor diluar perkiraan yang semula 2-3 jam menjadi sekitar 6 jam lebih. Haduh melelahkan sekali.

I Can See You

Singkat cerita kami sampai di Bokka No Sato, waktu menunjukkan jam 14 lewat 45 menit. Bokka No Sato tutup jam 17 jadi masih ada waktu 2 jam, masih cukup.  Wah memang cantik sekali. Deretan bunga tulip yang warna warni benar benar bisa menghilangkan stress. Capek akibat perjalanan, salah jalan dan macet bisa hilang. Si kecil juga antusias sekali dengan domba, kuda, sapi dan hewan lain yang ada. Saya kira si kecil bakal takut, tapi ternyata tidak justru penasaran memegang hewan hewan tersebut. Setelah puas foto foto, istirahat dan makan makanan kecil kami memutuskan pulang. Lagi lagi perjalanan pulang juga diwarnai oleh macet dan salah jalan. Tapi gak apa apa, tinggal pulang jadi bisa nyantai sedikit. Alhamdulillah sampai rumah selamat sekitar jam 9 malam.

Nah itu sedikit cerita liburan golden week 2012. Meskipun capek, ngantuk, pegel, keluar duit banyak tapi benar benar menyenangkan. Liburan berikutnya saya ingin menyusun jadwal berpetualang lagi menyusuri jalan jalan di Jepang. Sekarang semangat kerja dan belajar dulu!

Ganbarimashou!

Kena Badai Di Puncak Gunung Fuji

Yang namanya hobi itu emang unik ya….kadang kadang bagi orang lain hobi kita itu dipandang aneh. Tapi itulah manusia, satu kepala ribuan pemikiran. Sepuluh kepala bisa jadi belasan ribu pemikiran. Ya…itu adalah hal yang wajar. Selama pemikiran itu baik dan positif tidak masalah, jadi malah bisa menjadikan hidup kita jadi warna warni. Bagiku hobi orang, tentu saja yang sifatnya positif tanpa melupakan tanggung jawab tetap harus diapresiasi, karena dengan menyalurkan hobi kadang pemikiran menjadi lebih terbuka, punya pengalaman baru sehingga ide ide yang cemerlang dapat keluar tanpa disangka sangka.

Kembali ke hobi, aku itu suka banget sama kegiatan outbond, Yang paling aku senangi itu naik gunung sama caving. Soal ini orang tua sering protes, katanya bahaya…capek, kurang kerjaan dll…hehehe. Tapi no problem, namanya juga orang tua, yang penting nggak dibantah langsung saja. Kalo naik gunung sudah beberapa kali aku lakukan. Sewaktu masih sekolah di Indonesia, aku pernah naik merapi, merbabu sama lawu. Masing masing sekali. Tiba di Jepang, hobiku yang ini tetep aku jaga. Meskipun waktunya terbatas banget, alhamdulillah aku tetep bisa aku lakukan. Yah…titik tertinggi di Jepang, manalagi kalo bukan gunung fuji, 3776 meter sudah pernah aku capai sampai 3 kali.

Bulan pertengahan Juli 2009 aku bingung, liburan musim panas bulan agustus sudah dekat tapi nggak ada rencana sama sekali mau liburan kemana. Iseng aku telpon temen main, namanya kita singkat saja A. Aku tanya liburan musim panas agustus mau kemana? Di jawab belum ada rencana, tapi sabtu ini mau naik Fuji. Wah….aku sudah lama nggak naik Fuji, terakhir tahun 2004, jadi sudah 5 tahun yang lalu. Akhirnya tanpa basa basi, aku bilang ikut naik. Aku inget, aku telpon A hari kamis….naiknya malam minggu. Dengan kata lain, semua serba mendadak tanpa persiapan yang matang terutama fisik. Modal nekat hehehe….Kalo tidak salah 18-19 Juli 2009 kembali menjejakkan kaki di gunung Fuji. Member saat itu 4 orang.

Singkat kata…setelah perjalanan naik kereta sekitar 3 jam disambung naik bis selama 1 jam, kami nyampe pos lima, orang Jepang bilangnya gogome. Ini pos terakhir yang bisa dicapai dengan bis, sampai pos lima sekitar jam 18.15. Wah memang salah kami…semangat yang menggebu gebu mengakibatkan ada hal penting yang seharusnya jadi perhatian kami ternyata terlupakan begitu saja. Ya….perkiraan cuaca! walaupun cuaca didaerah gunung Fuji susah ditebak, tapi aku sendiri sama sekali nggak ngecek perkiraan cuaca saat pendakian kali ini. Alhasil…saat turun dari bis, sudah dihadang dengan cuaca kurang bersahabat, mendung dan angin bertiup cukup kencang. Tapi yang namanya orang nekat…cuaca dibawah jelekpun, kami tetep bertekat naik Fuji. Tanggung sudah nyampe gogome kok balik kanan pulang ke rumah. Apalagi lihat pendaki yang lain terutama orang Jepang pada naik juga. Kita mikir yang lain bisa kita pasti bisa hehehehe….pemikiran sederhana emosional ya.

Setelah istirahat sekitar 1 jam, akhirnya jam 19.30 kami start ninggalin pos lima. Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah…menyusuri jalur pendakian yang sudah dirancang khusus tapi terjalnya minta ampun. Sampai di pos tujuh, ternyata ada member yang tidak kuat, kayaknya masuk angin…dia muntah muntah, akhirnya kesepakatan bersama dia kami tinggal di pos tujuh…tidur di situ. Tinggal kami bertiga melanjutkan perjalanan. Singkat cerita…aku sampai pos 10 (puncak) sekitar jam 3.30. Segera aku cari tempat yang datar, langsung tidur. Baru sekitar 30 menitan tidur….kisah pahit itu datang. Hujan dan angin kencang menyapu puncak Fuji…Padahal saat itu Fuji penuh dengan pendaki. Aku berani ngomong…saat itu kalo cuman 500 orang aja ada disitu. Semua pada basah kuyup, badan capek, ngantuk…plus kedinginan, perkiraan suhu sekitar 5 derajat.

Aku bingung….gimana dengan yang lain, 2 orang temenku yang ikut naik tadi. Dimana mereka…gimana keadaannya. nggak bisa kemana mana saat itu…angin kencang sekali. Orang berjalan tidak bisa tegak, semua membungkuk dan bergandengan tangan agar tidak kabur kena tiupan angin. Sekitar jam 7 pagi…aku bertemu dengan mereka. Ya Alloh…bersyukur sekali lihat temenku tadi, semuanya selamat. Kami segera nyari tempat berteduh yang aman Waktu berjalan…tapi hujan angin tetep tak berhenti juga, Kami bingung semua….kami mikir nggak bisa turun, nggak bisa pulang ini. Akhirnya kami sepakat, kita tunggu sampe jam 9 pagi. Kalo tidak juga berhenti hujan badainya, mau nggak mau kita harus turun….harus nekat, karena ngejar jadwal bis dan kereta. Memang saat itu Tuhan berkehendak lain….ditunggu sampe jam 9 pagi, hujan badainya tidak berhenti juga. Akhirnya dengan hati hati…pelan pelan, pegangan batu sama tambang kami turun dari Fuji. Saat itu bener bener takut…saat itu ngrasain emang manusia itu kecil dan lemah sekali. Angin begitu kencang…kalo kami nggak hati hati atau lagi nasibnya jelek, bisa bisa terbang ketiup angin masuk jurang yang dalamnya setengah mati. Mungkin juga kejatuhan batu yang dari lereng diatas kita. Tapi alhamdulillah…dengan hati hati, pelan pelan kami bisa mencapai pos lima lagi dan berkumpul dengan teman yang kita tinggal di pos tujuh tadi. Kami istirahat disitu…suasana sudah sedikit lebih tenang sehingga semua unek unek dikepala kita ceritain, kisah pahit yang bener bener tidak bisa dilupakan. Saat itu kami bilang, sudah… ini yang terakhir ! …..kapok kami naik Fuji hehehe….

Itu sedikit cerita pendakian gunung Fuji, sekitar bulan Juli 2009. Pendakian yang penuh derita hehehe….

Salam hangat dari Aichi, Jepang