Untaian Rencana Seiring Merahnya Daun Momiji

Tiba tiba saya teringat dengan pesen Ibu saya di kampung. Seorang wanita kampung yang sangat sederhana tapi mempunyai semangat yang luar biasa dalam menyekolahkan anak anaknya. Dilihat dari segi pendidikan ibu saya hanya mentok lulus SD karena keinginan sekolahnya ditentang oleh mendiang kakek saya. Mendiang kakek saya berfikir ngapain cewek sekolah tinggi tinggi? Buat apa? Yah mungkin mendiang kakek standarnya masih pakai standar jaman Majapahit. Tapi pemikiran tersebut juga 100% tidak bisa disalahkan karena memang kondisi jaman dulu wanita itu identik dengan dapur dan kasur. Situasi dan kondisinya beda banget sehingga cara befikir masyarakat jaman itu otomatis jelas beda dibandingkan dengan jaman sekarang. Mentok-nya pendidikan Ibu saya ini mungkin menjadi penyebab Ibu saya harus terjun meneruskan usaha keluarga yang sudah turun temurun yaitu bertani. Oh iya, saya tidak mengejek profesi petani. Sama sekali tidak karena saya sendiri kalau pulang kampung nanti juga punya niat untuk nyambi terjun ke dunia pertanian.

Suatu saat Ibu saya bertemu dengan seorang laki laki yang kemudian menjadi Bapak saya. Laki laki ini bisa menjadi guru karena lulus SPG. Strata pendidikan yang bisa dibilang tinggi untuk ukuran tahun 1960 atau 1980an. Profesi guru ini jelas berbanding terbalik profesi ibu saya yang harus panas panas mengurus sawah atau kadang harus terus bekerja meskipun hujan turun. Ada perasaan campur aduk kalau mengingat larangan mendiang kakek agar tidak usah meneruskan sekolah setelah lulus SD. Karena mengalami sendiri, ibu saya jadi tahu dan sadar betul akan arti sekaligus pentingnya pendidikan dan sebagai penggantinya bertekad untuk menyekolahkan anak anaknya setinggi tingginya. Ibu saya bertekad untuk mensupport anak anaknya agar bisa sekolah lebih tinggi dari dia dan kemudian hari bisa hidup lebih enak tidak harus berpanas panas diladang setiap hari.

Dengan izin Alloh SWT, niat dan usaha ibu saya ini alhamdulillah tercapai. 1 anaknya lulus jenjang doktor, 2 anaknya yang lain sudah lulus master. Bagi keluarga kami yang 1 juta persen wong ndeso, yang tinggal di kampung dengan fasilitas yang sangat terbatas bahkan listrik baru masuk saat saya sudah kelas 2 SMP, pencapaian ini sangat kami syukuri. Kami bisa keluar dari keterasingan ilmu dan menjadi orang yang sedikit melek ilmu. Keyakinan kami akan pentingnya ilmu semakin tinggi. Kami yakin ilmu adalah salah satu cara untuk mengubah hidup kami, keluarga kami bahkan hidup tanah air kita.

Suatu ketika Ibu saya memberikan wejangan kepada anak anaknya. Ibu  berkata Bapak Ibu tidak bisa memberikan apa apa, hanya bisa menyekolahkan kalian semua. Sekolahlah setinggi tingginya untuk modal hidup kemudian hari.  Sampai detik ini, ketika saya sudah menikah dan punya anakpun wejangan Ibu saya ini tetap terpatri dalam ingatan saya. Sampai kapanpun saya tidak akan melupakan pesan moral dari Ibu saya ini. Bagi saya, pesan ini bisa diibaratkan garis acuan yang saya percayai sepenuhnya. Kalau orang jawa bilangnya pesene wong tuwo kie ojo dilalekke yang bisa diartikan pesen orang tua itu jangan dilupakan ^_^

Agustus 2012 kemarin si kecil genap berumur 1 tahun. Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Alhamdulillah si kecil makin cantik, gede, pinter, ramai dan lincah sekali. Tak terasa pula sudah waktunya kami memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan oleh si kecil tahun depan, 2013. Obrolan mengenai si kecil dengan istri dibawah ini ternyata merupakan momentum untuk mengingat kembali wejangan Ibu tercinta.

Istri : Pa, Nisa kapan masuk hoikuen? (Hoikuen itu semacam tempat bermain sekaligus penitipan anak)

Saya : Ya, paling cepet tahun depan (2013). Terus kalau Nisa masuk hoikuen, mama mau ngapain?

Istri : Mau kerja part time. Masak dirumah terus.

Ketika mendengar jawaban istri saya diatas, tiba tiba saya teringat kembali dengan wejangan Ibu saya yang sudah saya jelaskan diatas. Memang saya akui, uang itu penting sekali. Tapi dalam kondisi tertentu pendidikan bisa jauh lebih penting dan bernilai. Memang benar kalau istri kerja part time bisa menambah penghasilan keluarga dan bisa dibawa pulang ke Indonesia nanti. Tapi jika istri saya bisa melanjutkan pendidikan, bisa meneruskan kuliah di Jepang nilai positif yang bisa dipetik jauh lebih besar. Kemudian kalau melihat background pendidikan istri yang lulus S1 jurusan bahasa Jepang terus bisa melanjutkan studi di Jepang kayaknya pas banget. Memang harus diakui ini tidak mudah dan diperlukan semangat luar biasa, tetesan keringat dan cucuran air mata. Tapi apa salahnya dicoba? Karena berani mencoba itu jauh lebih terhormat daripada hanya diam tanpa melakukan apa apa.

Saya adalah tipe laki laki yang relatif  bisa mandiri ^_^ Memuji diri sendiri nih ^_^  Mungkin karena sejak SMA saya sudah kost, jadi terbiasa hidup sendiri. Saya juga termasuk tipe laki laki yang tidak setuju kalau seorang istri itu dibatasi aktivitasnya dengan urusan dapur dan kasur karena hidup itu bukan hanya dapur dan kasur. Saya juga tidak minta apa apa harus disediain sama istri saya karena selama ini saya sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Saya punya prinsip, istri harus didorong, didukung dan difasilitasi agar bisa mengembangkan potensinya. Karena jika potensinya bisa ditemukan, digali kemudian bisa berkembang yang pertama tama diuntungkan bukan orang lain, tapi keluarga sendiri. Yang pertama kali menikmati outputnya itu keluarga saya sendiri.

Dengan dasar pemikiran tersebut,  akhirnya saya kembali berdialog dengan istri.

Saya : Ma, bagaimana kalau meneruskan kuliah saja? Mama mau nggak? 

Istri : Serius nih pa? sound good ^_^

Istri kaget tidak menyangka saya mempunyai usul seperti ini. Ini diluar rencana karena selama ini rencananya hanya saya yang maju meneruskan kuliah S3. Tapi alhamdulillah respon istri positif dan antusias sekali dengan usul saya ini. Saya juga berusaha meyakinkan bahwa Insya Alloh nanti pasti ada jalan. Yang penting niat dulu, bismillah, mantabkan hati. Tugas manusia itu hanya sebatas niat, berusaha dan berdoa yang maksimal. Masalah berhasil atau gak itu tidak usah terlalu dipikirkan karena itu memang hak perogratif Alloh SWT. Satu lagi yang penting, dalam pandangan Alloh SWT kegagalan itu bukan berarti keburukan absolut karena Alloh SWT bukan melulu melihat outputnya tapi juga melihat prosesnya.

Sebagai suami saya juga siap all out membackup rencana ini. Seluruh pengalaman, ilmu, finansial, network dan tentu saja doa akan saya kerahkan dan panjatkan karena saya tidak mau setengah setengah. Rencananya istri mau ambil program research student dulu sekitar 6 bulan atau 1 tahun, kemudian baru ikut ujian master. Berbagai langkah sedang dipersiapkan misalnya belajar bahasa jepang lagi, memikirkan rencana penelitian dan mencari sensei pembimbing dan lain sebagainya. Saya juga siap kalau harus menambah kerja part time apa saja demi rencana ini.  Bismillahirahmanirrahim !

ママ、パパは必ずそばにいって応援するよ。是非、頑張ってね ^_^

 Aki 2012, Aichi Jepang

Advertisements

Kisah Mencari Sekolah Di Jepang : Alloh Akan Memberi Jalan Bagi Yang Niat Sepenuh Hati

Ini adalah pengalaman nyata yang saya alami sendiri. Bukan main comot sana sini pengalaman orang lain. Bukan karangan, bukan juga kisah mengada ada. Pengalaman ini benar benar membekas di hati saya. Pengalaman yang tidak akan terlupakan sepanjang masa. Pengalaman yang membuat saya semakin meyakini kehadiran Alloh ketika kita benar benar niat dan berjuang sepenuh hati. Pengalaman ini benar benar menjawab doa  yang selalu saya dan orang tua panjatkan setiap habis sholat. Apa doa itu? Ya Alloh, Berikan pertolonganmu sehingga hambamu ini bisa diterima kuliah sehingga bisa mempelajari ilmu-Mu dan suatu saat ilmu yang saya peroleh bisa saya bawa pulang ke tanah air untuk diterapkan dan ditularkan kepada orang lain. Setelah berjuang mati matian, di hari hari terakhir masa berlaku visa saya hampir habis, Alloh mengabulkan doa saya dan orang tua saya. Sepucuk surat dari sebuah kampus universitas negeri di Jepang sampai di apartemen saya. Isinya, selamat anda diterima masuk program master ^_^ Inilah kisahnya ^_^

Saya masuk ke Jepang sebagai pelajar biaya sendiri atau istilah Jepangnya shihiryugakusei. Background pendidikan saya di Indonesia adalah lulusan S1 bidang atau ilmu sosial. Jadi bukan ilmu pasti yang secara umum menjadi keunggulan pendidikan tinggi di Jepang dan menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa asing yang berminat untuk melanjutkan studi di Jepang. Tapi, meskipun gejala umum di Jepang, daya tarik ilmu sosial dibawah ilmu pasti tapi bukan berarti gampang mencari sekolah di Jepang. Tantangannya juga luar biasa besar. Kompetisi terbuka tingkat internasional terlihat jelas saat mengikuti ujian masuk sekolah.

Setelah selesai program sekolah bahasa, alhamdulillah saya bisa masuk program research student di sebuah universitas negeri. Seperti yang saya jelaskan di bagian yang lain, research student adalah program persiapan sebelum masuk program master atau doktor yang biasa dilalui oleh mahasiswa asing. Harapan dan target semua mahasiswa research student adalah ikut ujian dan langsung bisa masuk ke lab tempat research student. Tapi semuanya tidak selalu berjalan mulus, kadang hasilnya membuat kita kecewa dan drop. Setidaknya itulah yang saya alami sendiri.

Program research student yang saya ambil berlangsung 1 tahun. Mulai April 2005 sampai Mei 2006. Menginjak sekitar bulan Oktober 2005, mahasiswa research student di lab saya dipanggil satu per satu oleh sensei dan ditanyai rencana kedepannya bagaimana. Kebetulan saat itu di lab ada 2 mahasiswa research student selain saya. Satu orang Taiwan, Satu lagi anak China. Temen orang Taiwan memberi kabar kalau dia bulan Agustus 2005 sudah ikut ujian dan diterima di salah satu universitas swasta di daerah Tokyo. Jadi jelas dia akan pindah ke Tokyo. Dalam hati saya sedikit senang, karena berarti saingannya saya berkurang satu. Yang temen anak China pede sekali mengambil keputusan hanya ikut ujian di kampus tempat research student. Saya sendiri memutuskan untuk mengikuti ujian di tiga kampus, yaitu kampus sekarang, Kyoto University – salah satu universitas negeri milik pemerintah pusat yang ngetop di Jepang dan terakhir Osaka City University – salah satu universitas negeri milik pemerintah daerah di wilayah Osaka. Harapan saya saat itu, diantara jaring yang saya tebar ada yang kena. Saya juga mencoba untuk ikut ujian di Yokohama University dan sempat bertemu dengan senseinya juga. Senseinya welcome saja mempersilahkan untuk ikut ujian. Tapi karena pertimbangan finansial, kuota untuk orang asing yang sedikit dan persaingan akhirnya saya batalkan. Saat itu saya memutuskan hanya mengikuti ujian di universitas negeri karena semata mata pertimbangan finansial yaitu murah dan terjangkau oleh isi dompet saya. Tapi karena negeri, berkualitas dan murah tersebut, persaingannya begitu ketat. Tidak semudah yang saya bayangkan.

Ujian yang pertama kali saya ikuti adalah ujian di Osaka City University, sekitar Januari 2006. Ujiannya ada 2 jenis yaitu ujian tulis dan wawancara. Ujian tulis semuanya esai dengan bahasa Jepang. Saya ambil contoh misalnya ada pertanyaan jelaskan tentang keadaan ekonomi Jepang pada jaman meiji. Ada lagi misalnya di Amerika ada tokoh pencetus teori ekonomi bernama A, jelaskan teori yang dikemukakan oleh A tersebut. Ada lagi saya diharuskan menterjemahkan jurnal bahasa Inggris ke bahasa Jepang. Waduh….puyeng saya, mendadak kepala saya konslet. Suhunya naik, panas sekali. Disuruh menjelaskan dalam bahasa Indonesia saja saya pening apalagi dalam bahasa Jepang ^_^ Untuk menjawab soal itu diperlukan pengetahuan lintas bidang yang mumpuni misalnya tentang sejarah jepang, teori ekonomi, pengetahuan tentang tokoh ekonomi amerika dan dunia, jago bahasa inggris dan tentu juga harus pinter bahasa Jepang. Setelah menghadapi soal tersebut saya langsung sadar, ternyata bahasa Jepang saya masih amburadul dan pengetahuan umum saya juga masih perlu diperdalam. Ketika kalimat telah terangkai dalam bahasa indonesia ternyata susah sekali untuk diterjemahkan dan dirangkai dalam bahasa Jepang. Kanjinya gak keluar keluar, lupa kayak apa. Pokoknya mentok. Padahal waktu terus berjalan dan sangat terbatas.  Keringat dingin bercucuran tapi kertas jawaban tidak bertambah tulisannya. Haduhhhh…..ternyata susah sekali.  Saya ingat saat itu jatah untuk program master untuk orang asing di jurusan yang ingin saya masuki totalnya ada 3 kursi dan jumlah yang ikut ujian sekitar 20 orang.  Artinya peluang saya sekitar 15 persen. Wajah wajah China yang terkenal jago nulis kanji mendominasi ruangan tempat ujian. Mereka semua adalah saingan berat karena keahlianya menghafal dan menulis kanji. Saya lirik seisi ruangan, orang berkulit sawo matang hanya saya sendiri. Ujian wawancara juga saya lalui dengan hasil yang menurut saya sendiri tidak terlalu lancar. Dibawah target. Saya merasakan kurang persiapan soal materi penelitian.  Harusnya saya mempersiapkan materi penelitian yang apik, runtut dan jelas dalam bahasa Jepang. Itu semua harus saya persiapkan dan hafalkan luar dalam bahasa Jepang. Tapi saya benar benar telat menyadarinya. Nasi sudah menjadi bubur. Ujian selesai dan saya tinggal menunggu hasilnya.

Selang 1 hari saya mengikuti ujian di Kyoto University. Wah kalau universitas top memang levelnya beda. Saya ingat, kuota untuk orang asing di jurusan yang saya minati ada sekitar 15 orang. Tapi yang ikut ujian masuk master luar biasa banyaknya. Diruangan tempat saya ujian saja ada sekitar 80 orang yang ikut ujian. Sebelum masuk kelas saya sempat menghitung jumlah yang ikut ujian dari nomer ujian yang ditempel didepan kelas. Saya hitung ada sekitar 80 orang…..saya mikir gila nih kampus, banyak banget yang ikut ujian. Peserta banyak otomatis persaingannya juga luar biasa ketat. Saya yakin yang ikut ujian lebih dari itu karena diruangan lain juga ada yang ikut ujian. Lagi lagi wajah wajah China mendominasi ruangan. Saya lihat wajah wajah Korea juga banyak sekali. Dan lagi lagi….ketika saya lihat seluruh ruangan, kulit sawo matang hanya saya sendiri. Haduh…..ini berat, jauh lebih berat dari ujian di Osaka City University. Persaingan saja sudah berat, belum membahas materi ujian. Memasuki soal ujian, saya juga masih kaget. Model soalnya persis seperti ujian di Osaka City University. Esai bahasa Jepang plus menterjemahkan jurnal dari bahasa Inggris ke  bahasa Jepang. Walah….lagi lagi saya panas dingin. Keringat dingin membasahi kertas ujian yang tulisan jawabannya tidak bertambah tambah. Benar benar pening tujuh keliling. Singkat cerita ujian di Kyoto University berakhir dengan rasa bersalah pada diri sendiri. Saya benar benar kurang persiapan.

Selama ujian di dua kampus tersebut, saya menginap di rumah teman di Kyoto. Jarak Kyoto dengan Osaka hanya sekitar 40 kilometer. Karena ujiannya hanya selisih 1 hari , saya nginap 3 malam sampai ujian selesai. Setelah ujian selesai saya pamit pulang. Dalam perjalanan pulang memori saya terus tertuju ke dua ujian yang baru saja saya tempuh. Duh gimana ya? Diterima gak ya? dan pertanyaan pertanyaan lain yang bikin saya pening sendiri. Tapi mau tidak mau saya harus menunggu dengan harap harap cemas. Yang bisa saya lakukan hanya satu….berdoa, semoga Alloh memberikan hasil yang baik.

Setelah menunggu sekitar 1 minggu, surat dari Osaka City University sampai di apartemen saya. Sebelum saya buka saya berdoa lagi semoga hasilnya seperti yang saya harapkan. Setelah saya buka, saya langsung tertunduk pasrah. Ternyata saya tidak lulus alias gagal. Lesu rasanya. Lemes gak bisa mikir apa apa. Tapi dalam hati saya berfikir, masih ada Kyoto University. Meskipun saya tahu diri bahwa persaingan begitu ketat dan ujian yang begitu susah tapi toh hasilnya belum keluar. Artinya masih ada harapan. Siapa tahu saya lulus. Siapa tahu ada keajaiban. Akhirnya saya mencoba berdamai dengan hati saya. Cooling down sambil berdoa. Selang beberapa hari akhirnya surat yang saya tunggu tunggu datang juga. Sekali lagi, saya berdoa semoga saya lulus ujian masuk. Kreeek…..setelah amplop saya buka kembali saya harus bersedih. Ternyata saya gagal kembali. Kegagalan yang kedua ini benar benar membekas di hati saya. Drop saya dibuatnya.

Gagal di dua ujian, masih ada satu ujian yang tersisa yaitu ujian masuk di jurusan tempat saya research student. Saya berfikir masih ada kesempatan. Kalau tidak salah, ujiannya sekitar 3 minggu setelah ujian di Osaka City University dan Kyoto University. Tidak mau gagal yang ketiga kali, saya mempersiapkan diri sebaik baiknya. Materi ujian yang dulu dulu saya pelajari dan saya jawab sebagai bahan latihan. Ujian interview juga saya siapkan sebaik baiknya dengan cara mempersiapkan pertanyaan pertanyaan yang kira kira keluar. Saya cari, pikir dan hafalkan sehingga kalau ditanya langsung bisa jawab. Bahan bahan dan pengalaman interview di ujian sebelumnya saya jadikan acuan. Singkatnya saya tidak main main dengan ujian di kampus saya ini. Ini bukan trial out. Karena ini menyangkut masa depan saya. Saya berfikir, kalau kali ini saya gagal, habis sudah kesempatan untuk sekolah S2 di Jepang. Gagal berarti pulang ke Indonesia. Saya ingat persis, kuota untuk orang asing ada 3 orang dan jumlah yang ikut ujian ada sekitar 20 orang. Probabilitasnya sama persis dengan Osaka City University. Ujian tulis modelnya juga esai. Menurut saya, lumayan bisa saya jawab dalam arti saya bisa menjelaskan dalam bentuk tulisan bahasa Jepang. Persiapan dan pengalaman ujian terdahulu sangat membantu. Dibandingkan dengan ujian terdahulu menurut pendapat saya pribadi kali ini jauh lebih baik. Wawancara juga lumayan. Pertanyaan yang sudah saya siapkan dan kira kira keluar, ternyata banyak yang keluar. Jadi lumayan bisa menjawab. Singkat cerita kepercayaan diri saya tumbuh kembali. Meskipun tidak berani bilang 100% lulus, tapi saya bisa berharap kemungkinan besar bisa lulus. Ya paling tidak tidur malam saya setelah ujian bisa sedikit nyenyak ^_^

Setelah menunggu sekitar 1 minggu, hasil ujian keluar. Kali ini bukan via pos, tapi ditempel di papan pengumuman. Harap harap cemas saya bergegas ke kampus lihat pengumuman ujian. Di jalan saya terus berdoa, semoga saya diterima. Sampai di papan pengumuman saya lihat dengan seksama. Saya kucek mata saya berkali kali siapa tahu penglihatan saya salah. Tapi nomer ujian saya tetap tidak saya temukan. Nomer ujian saya tidak tercantum didaftar yang mahasiswa yang diterima ujian masuk. Ya Alloh….saya benar benar drop, shock dan down. Dalam waktu 2 bulan, ini yang ketiga kali saya gagal ujian. Saya sangat sedih, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya ingat saat itu sudah menginjak awal bulan februari 2006. Visa saya habis 28 Maret 2006. Artinya waktu saya untuk mencari sekolah tinggal 1.5 bulan lagi. Sempit sekali. Kalau tidak dapat berarti mau tidak mau saya harus balik Indonesia. Segera saya cek lewat internet jadwal ujian di beberapa universitas yang ada jurusan yang saya minati. Semuanya sudah tutup. Waktunya sudah habis. Saya mencoba untuk meminta kebijaksanaan sensei supaya bisa memperpanjang research student saya 1 tahun lagi. Tapi ternyata sensei keberatan. Ya Alloh terus gimana nih. Saya berfikir keras agar bisa menemukan solusinya. Saya belum mau pulang. Saya masih ingin meneruskan kuliah di Jepang. Setelah berfikir panjang, akhirnya saya menemukan solusi meskipun bukan yang terbaik. Saya berfikir intinya saya harus mendapatkan visa dahulu. Saya menemukan celah untuk memperpanjang visa saya. Di Jepang ada program yang namanya chokosei. Program chokosei itu program seperti research student. Bedanya kalau research student itu program persiapan untuk masuk master atau doktor. Tapi kalau chokosei itu program persiapan untuk masuk S1. Sebenarnya turun tingkat, tapi saya pikir yang penting saya bisa perpanjang visa dulu. Kalau sudah ada visa, nanti baru berfikir kedepan lagi. Yang masih buka pendaftaran tinggal ini. Jadi ini harus dimanfaatkan. Akhirnya saya menelepon sebuah universitas swasta untuk menanyakan soal chokosei ini. Mereka menjawab masih dibuka pendaftarannya. Langsung saya pergi ke universitas tersebut khusus untuk mengambil formulir chokosei.

Disamping mengambil formulir chokosei dengan maksud berjaga jaga, saya juga konsultasi sama kakak kandung saya. Saat itu kakak saya juga masih di Jepang mengambil program postdoc di kampus yang sama dengan saya tapi beda fakultas dan disiplin ilmu. Saya di sosial dan kakak saya di teknik. Saya ceritakan semuanya ke kakak saya ini. Kakak saya juga berfikir keras mencari solusinya. Akhirnya kakak saya ini konsultasi ke senseinya. Dia minta tolong agar saya dimasukkan ke lab tempat kakak saya belajar. Karena disiplin ilmunya yang beda sekali, sensei kakak saya keberatan untuk menerima. Beliau menjelaskan nanti bingung bagaimana menjelaskan ke sensei yang lain alasan mau menerima saya karena bidang ilmunya yang beda banget, tidak singkron sama sekali. Tapi beliau memberi informasi sekaligus solusi bagi permasalahan saya ini. Beliau mengatakan kalau beberapa waktu lalu mengikuti meeting tentang pembentukan jurusan baru yang singkron dan linier dengan bidang yang saya minati. Masya Alloh….ketika saya sudah gagal tiga kali ujian, saya sudah drop dan down, lelah, hampir putus asa, duit sudah menipis sekali karena untuk memikirkan kuliah saya  tidak sempat baito  dan visa saya tinggal 1.5 bulan…ada berita seperti ini… ini benar benar seperti berita dari surga. Saya sangat bersyukur karena berarti masih ada kesempatan.

Begitu mendengar itu kakak saya segera ke bagian administrasi untuk menanyakan soal itu. Memang benar, ada program master yang baru saja dibuka. Kabar baiknya lagi, program yang baru dibuka ini sekarang masih dibuka lowongan pendaftarannya dan karena baru dibuka banyak yang belum tahu jadi tingkat persaingannya masik kecil. Begitu mendengar kepastian kabar itu segera kakak saya menelepon saya. Segera saya pelajari dan susun langkah kembali untuk mempersiapkan ujiannya. Alhamdulillah, ada kabar baik yang lain, setelah saya baca dengan seksama ujiannya hanya satu yaitu presentasi tentang rencana penelitian dilanjutkan tanya jawab. Tidak ada ujian tulis yang selama ini menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Ini adalah kesempatan emas.

Tapi meskipun ujiannya hanya presentasi tapi ternyata menyiapkan presentasi yang baik dalam bahasa Jepang bukanlah hal yang mudah. Setelah dianalisis, materi penelitan yang selama ini saya gunakan untuk ujian ditempat sebelumnya tidak bisa dipakai. Harus dirombak total. Walah benar benar pusing tujuh keliling. Ide penelitian baru gak keluar keluar. Saran dari kakak saya untuk beli buku sudah saya lakukan. Saya baca berulang ulang tapi tetap saja ide tidak muncul. Karena mentok, saya minta bantuan ke kakak saya. Dengan bantuannya akhirnya sedikit demi sedikit rencana penelitian bisa dibuat dan ada alur ceritanya. Ide idenya memang luar biasa. Meskipun satu ayah dan satu rahim, saya akui pemikiran dan ide kakak saya memang beda. Selalu ada ide yang baru dan fresh dari dia. Kelas postdoc memang beda. Setelah rencana penelitian punya bentuk, arah dan alur cerita. Selanjutnya adalah materi presentasi. Lagi lagi saya minta bantuan kakak saya untuk membuat materi presentasi. Saya buat terus dia koreksi. Saya buat lagi terus dia koreksi lagi sampai selesai. Begitu materi presentasi selesai, saya ditraining bagaimana caranya presentasi bahasa Jepang yang baik. Jujur selama ini saya tidak punya pengalaman presentasi pakai bahasa Jepang. Jadi training dari kakak saya ini benar benar membantu. Berulang ulang kali saya latihan presentasi didepan kakak saya. Kalau ada yang salah atau kurang dikoreksi sama dia sampai benar benar mantab. Malam sebelum ujian kami juga begadang untuk mematangkan presentasi dan memikirkan kira kira nanti ditanya apa dan kalau ditanya seperti itu bagaimana jawabnya.

Tiba waktunya ujian. Kalau tidak salah saya dapat jatah jam 10 pagi. Sekitar jam 7 pagi kami sudah sampai kampus untuk satu tujuan. Latihan presentasi untuk terakhir kali. Insya Alloh semua siap. Setelah tiba waktunya saya langsung menuju ruang ujian. Wah sensei sudah menunggu semua, banyak banget ada sekitar 15 orang. Saya coba untuk tenang agar bisa berfikir dengan baik dan tidak lupa. Segera saya mulai presentasi. Alhamdulillah, lancar tidak masalah yang berarti selama presentasi. Pertanyaan setelah presentasi dari beberapa sensei juga bisa saya jawab dengan baik. Setelah selesai segera saya pulang ke apartemen. Ada rasa lega setelah selesai ujian. Beban sedikit berkurang meskipun masih deg degan karena menunggu hasil.  Sekarang tinggal waktunya untuk berdoa. Pasrah karo sing nggawe urip. Tidak lupa saya telepon orang tua saya supaya mendoakan saya agar hasil ujiannya baik dan saya diterima.

Setelah menunggu seminggu, waktu pengumuman ujian tiba juga. Tiba tiba saya dapat telepon dari kakak saya. Saya langsung tanya gimana hasil ujian ke kakak saya. Saya tidak bisa melihat langsung karena jurusan yang baru dibuka ini lokasi kampusnya sama dengan lokasi kampus kakak saya. Dengan kampus tempat saya research student lokasinya jauh banget, 7o kilometer. Begitu saya tanya seperti itu, kakak saya menjawab sudah pulang saja ke Indonesia. Soalnya gak diterima. Waduh….mendengar jawaban itu langit kayak runtuh. Habis dah, harus bersiap siap angkat koper dari Jepang. Jantung saya kayak tertekan jadi susah bernafas. Tapi buru buru kakak saya ngomong lagi….nggak kok bercanda saja. Kamu diterima. Lulus….selamat ya. Alhamdulillah…..benar benar berita yang menggembirakan itu datang juga. Saya benar benar bersyukur akhirnya bisa melanjutkan studi di Jepang.  Setelah jatuh bangun, gagal tiga kali ujian, mental drop, duit habis habisan, lelah sampai sudah mau menyerah akhirnya bisa juga masuk master. Saya tunggu berita baik ini selama 1 tahun dan akhirnya datang juga. Kalau tidak salah pengumuman hasil ujian ini adalah tanggal 20 maret 2006, sedangkan visa saya habis 28 maret 2006. Benar benar mepet karena visa tinggal 8 hari.

Ketika ada seremonial penerimaan mahasiswa baru tidak sengaja saya ketemu dengan teman china satu lab. Ternyata dia diterima. Dalam hati saya berfikir hebat juga kemampuan menulis dia sampai bisa lolos ujian masuk. Saya berfikir begitu karena selama research student saya merasa kemampuan verbal dan komunikasi bahasa Jepang dan Inggris lebih baik dari dia. Tapi mungkin saya jeblog diujian tulis sehingga gagal. Dia juga kaget ketemu saya. Dia nanya kamu diterima? Saya jawab saya diterima tapi di jurusan yang lain dan harus pindah kota. Ketika awal awal masuk, semua mahasiswa dikumpulkan untuk menerima briefing mata kuliah. Saya lihat dengan seksama, jumlah mahasiswa yang diterima ada 16 orang. Orang asing hanya saya sendiri. Jadi saya orang asing pertama diangkatan pertama ^_^

Itulah sekelumit cerita dari saya tentang jatuh bangun dan perjuangan mencari sekolah di Jepang. Tidak mudah tapi bukan berarti mustahil. Semoga cerita ini bisa menjadi kompor yang menyala yang mampu membakar semangat generasi muda untuk menuntut ilmu meskipun harus menyeberangi lautan dan berpisah dengan keluarga tercinta. Masih ada satu cita cita dan target saya sebelum pulang ke tanah air, yaitu meneruskan studi ke jenjang S3. Untuk itu, saat ini saya sedang mempersiapkan diri mulai dari kemampuan bahasa Jepang, bahasa Inggris, materi penelitian dan finansial. Tidak mudah tapi saya tidak akan mundur.

Ucapan terimakasih, saya ucapkan khusus untuk kakak saya yang telah all out membantu saya selama ujian masuk master di Jepang. Arigatou Gozaimasu!

Salam hangat, Aichi, 30 Juni 2012

Apasih Research Student Itu?

Bagi yang ingin meneruskan kuliah di Jepang untuk program master atau doktor, biasanya ada satu tahap atau program yang dianjurkan bahkan ada profesor yang mengharuskan untuk menempuhnya. Tahap atau program tersebut di dunia pendidikan tinggi Jepang di kenal dengan istilah research student. Beberapa waktu yang lalu saya juga dapat pertanyaan seputar research student dari mahasiswa pengunjung blog yang berminat meneruskan kuliah di Jepang. Karena merupakan bahasan yang cukup menarik dan penting, saya mencoba untuk membahasnya sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman saya selama studi di Jepang.

Suasana Presentasi

Pertanyaan pertama yang mungkin muncul adalah apasih sebenarnya research student itu? Akan coba saya bahas sebatas pengetahuan saya. Dalam bahasa Jepang, research student dikenal dengan istilah kenkyuusei, jika ditulis dengan kanji  menjadi 研究生. Kenkyu berarti peneliti atau penelitian, sedangkan sei merujuk pada subjeknya yaitu pelajar atau mahasiswa. Jadi kalau dirangkai kata kata tersebut, kenkyuusei  gampangnya bisa diartikan dengan mahasiswa peneliti. Bahasanya keren banget ya ^_^

Research student dalam paradigma dunia kampus di Jepang diartikan sebagai tahap persiapan yang dilalui oleh seorang mahasiswa sebelum masuk program master atau doktor. Sewaktu research student ini mahasiswa dikenalkan aktvitas seperti apa saja yang akan dilakukan ketika nanti benar benar masuk lab sebagai seorang mahasiswa master atau doktor. Dengan mengenal aktivitas lab sejak awal, mahasiswa program research student bisa belajar sehingga diharapkan ketika nanti benar benar masuk lab tidak kaget dengan tuntutan dan aktivitas lab. Program research student banyak diikuti atau diambil oleh mahasiswa asing baik mahasiswa yang pakai beasiswa maupun yang biaya sendiri.

Ruang Penelitian atau Jikken Shitsu

Terus selama research student itu kegiatannya ngapain? Soal aktivitas selama research student ini sangat tergantung dari kebijaksanaan sensei dan bidang studinya. Jadi kegiatan mahasiswa research student itu bisa berbeda satu dengan yang lain. Kalau orang yang menekuni bidang sosial biasanya disarankan untuk ikut program bahasa Jepang di internal kampus agar bahasa Jepangnya bisa lebih baik minimal dalam komunikasi yang memakai bahasa sehari hari. Selain itu juga disarankan untuk ikut kuliah meskipun sebatas sebagai mahasiswa pendengar. Biasanya dipilih mata kuliah tertentu yang ada hubungannya dengan bidang yang akan diteliti. Selain itu juga disarankan untuk ikut diskusi mingguan mahasiswa tingkat S1, S2 atau S3. Dalam forum diskusi ini biasanya dituntut lebih aktif berkomunikasi tanya jawab, jadi bukan hanya pasif sebagai pendengar saja.

Bagi yang menekuni bidang tehnik biasanya juga dianjurkan untuk ikut program bahasa Jepang. Selain itu biasanya juga dianjurkan untuk masuk ke lab untuk latihan penelitian bersama sama dengan mahasiswa S1, S2 atau S3. Selain latihan penelitian juga menghafal alat alat, cara kerja mesin penelitian, software yang mendukung penelitian, bahasa bahasa penelitian dalam bahasa Jepang dan Inggris dan sebagainya. Mungkin juga dianjurkan untuk ikut kuliah sebagai mahasiswa pendengar dan ikut masuk ke dalam diskusi mingguan yang diadakan oleh profesor pembimbing.

Entah Ini Ruangan Buat Apa ^_^

Terus research student itu biasanya berapa lama? Soal lamanya research student itu juga tergantung dengan kebijakan sensei. Ada yang 6 bulan, 1 tahun dan maksimal 2 tahun. Ada mahasiswa yang baru masuk research student bulan April, bulan Agustus ikut ujian masuk dan ternyata diterima, bulan 10 mulai masuk kuliah. Ya sudah berarti masa researsh studentnya hanya 6 bulan. Ada yang masuk bulan April terus ikut ujian bulan Januari dan diterima, mulai kuliahnya bulan April. Berarti researsh studentnya 1 tahun. Ada yang sudah 1 tahun research student tapi ternyata gagal masuk. Jika sensei setuju, masa research student bisa diperpanjang lagi. Jadi bisa masuk research student belum tentu bisa masuk S2 atau S3. Yang gagal juga banyak, contohnya saya ^_^ Saya justru diterima di fakultas lain meskipun masih berhubungan dengan bidang penelitian saya. Apakah yang research student pakai beasiswa pasti diterima? Tidak juga. Saya pernah dengar cerita dari mahasiswa salah satu universitas ternama di daerah Aichi, dia cerita kalau temannya yang program research student pakai monbusho gagal masuk S2. Sudah mencoba di universitas lain tapi tetap gagal juga sampai batas waktunya tidak dapat sekolah sehingga harus pulang ke Indonesia.

Kalau sudah selesai gelarnya apaan ya? Saya tekankan, research student itu program non gelar. Jadi kalau sudah selesai tidak dapat gelar. Tidak ada embel embel apapun yang didapat. Tapi meskipun tidak ada embel embel gelar, menurut saya pengalaman dan ilmu yang didapat tak ternilai harganya. Amat sangat berarti sekali ^_^  Terus apakah harus mengeluarkan laporan akhir? Soal ini juga berbeda beda tergantung kebijaksanaan sensei. Ada yang harus menulis laporan akhir ada juga yang tidak diharuskan. Ada seorang teman saya cerita kalau diakhir masa masa research student dia diharuskan untuk menulis laporan akhir. Tapi pengalaman pribadi saya beda lagi, saya tidak diharuskan untuk menulis laporan akhir.

Semua Pasang Muka Serius ^_^

Manfaat research student itu kayak apa sih? Menurut saya manfaatnya besar sekali. Misalnya saja, saya jadi punya gambaran tentang apa yang harus saya lakukan ketika nanti masuk lab. Gambaran yang sedikit ini sangat berarti dan membantu saya dalam proses perkuliahan dan penelitian. Akan sangat beda sekali kalo saya blank terus masuk lab, tambah bingung mau ngapain gak ngerti. Manfaat lainnya misalnya saja saya yang backgroundnya orang sosial jadi tahu perbendaharaan bahasa Jepang khususnya bahasa Jepang yang berhubungan dengan bidang studi dan penelitian saya. Yang perlu diingat, bahasa penelitian beda dengan bahasa sehari hari. Nah bahasa penelitian versi bahasa Jepang tidak saya dapatkan di bangku sekolah bahasa tapi saya dapatkan di program research student. Mahasiswa tehnik juga sama saja, banyak yang belajar kosakata penelitian, alat alat, zat atau materi penelitian, software, mesin dan sebagainya pada saat research student.

Terakhir mungkin ada pertanyaan kayak gini. Kalau sudah selesai research student bisa nggak apply visa kerja? Menurut yang saya tahu, aturan imigrasi Jepang menyebutkan bahwa orang yang sudah selesai research student tidak bisa apply visa kerja. Ketika saya pertama kali apply visa kerja saya mendapatkan semacam edaran yang isinya seperti itu.

itulah sekilas tentang research student. semoga bisa sedikit memberi gambaran bagi yang sedang mencari apa itu research student di Jepang. Salam hangat dan tetap semangat untuk meraih cita cita studi.

Aichi, Jepang

Menghitung Baik Buruk Dan Resiko Studi Ke Jepang Dengan Biaya Sendiri

Bisa meneruskan studi ke luar negeri adalah impian dari banyak orang. Soal biaya, idealnya memang jalur beasiswa yang paling enak. Karena dengan beasiswa berarti tidak harus memikirkan biaya studi dan biaya hidup, jadi bisa fokus 100% all out belajar di negeri orang. Karenanya wajar sekali yang namanya lowongan beasiswa selalu dibanjiri oleh peminat dari seluruh pelosok Indonesia. Dari sekian ribu peminat tersebut diambil beberapa persen yang dianggap berpontensi, cerdas  plus pintar sekaligus beruntung.

Wellcome Party Bagi Para Pelajar Asing

Disamping jalur beasiswa, untuk studi ke Jepang juga ada jalur swadaya atau biaya sendiri. Untuk jalur swadaya disini saya membatasi hanya didalam ruang lingkup negara Jepang berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Kebalikan dari jalur beasiswa, jalur swadaya harus mengeluarkan uang sendiri untuk membiayai biaya kuliah dan biaya hidup saat studi ke luar negeri. Meskipun harus mengcover sendiri seluruh biaya yang diperlukan, jalur swadaya tetap banyak diminati. Akan tetapi saya akui jalur swadaya memang memiliki sisi baik dan buruk sekaligus resiko yang tinggi sehingga jalur swadaya merupakan topik yang menarik untuk dibahas agar yang memilih jalur swadaya bisa siap secara fisik dan mental, tidak salah pilih jalan, kaget plus shock dengan kondisi yang dihadapi dan tidak gagal dalam studinya. Karena hal tersebut kali ini saya mencoba untuk membahas baik buruk dan resiko studi ke Jepang dengan biaya sendiri.

1. Resiko Atau Hal Buruk Yang Harus Dihadapi

Ada beberapa resiko yang harus dihadapi oleh pelajar jalur swadaya. Disini saya ambil contoh beberapa resiko yang sebenarnya saling berhubungan satu sama lainnya.

a. Resiko Waktu

Taihen da! Bata Bata Shiteiru ^^

Sehari ada 24 jam. Dari 24 jam tersebut dibagi bagi untuk berbagai hal. Karena pelajar biaya sendiri harus bekerja, maka jadwal yang ada semakin padat. Diperlukan strategi pengaturan waktu yang tepat dan sehat agar studi dan bekerja bisa berjalan optimal dan bersamaan. Jujur saja hal itu tidak mudah alias sangat sulit sekali. Hal yang biasa terjadi pada pelajar biaya sendiri adalah kurang tidur karena setelah seharian sekolah diharuskan untuk kerja dengan jam kerja juga biasanya panjang juga, sehari bisa 6-8 jam. Beberapa teman orang Indonesia hari sabtu atau minggu juga ada yang kerja untuk menambah penghasilan agar tetap bisa survive dan membayar uang sekolah.

b. Resiko Finansial

Okane Nai Alias Bokek Habis

Resiko kedua adalah resiko finansial. Resiko ini sudah dimulai dan dirasakan jauh hari sebelum datang ke Jepang dimana harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk beli tiket, bayar uang masuk sekolah dan SPP untuk beberapa bulan, uang saku dan sebagainya. Sebagai contoh saja, jalur sekolah bahasa memerlukan biaya sekitar 40-60 juta rupiah. Tentu bukan angka yang sedikit bagi kita. Yang perlu diingat dan dicamkan dalam dalam adalah setelah mengeluarkan biaya begitu besar begitu sampai ke Jepang tetap harus banting tulang bekerja untuk biaya hidup dan membiayai sekolah. Jadi jangan punya pikiran setelah mengeluarkan uang begitu banyak sampai Jepang hidup santai, leha leha dan ongkang ongkang kaki. Hal itu tidak akan ada kecuali anda dapat support dari donatur. Kita harus siap capek, ngantuk dan badan pegel pegel karena harus kerja setiap hari seusai sekolah.

Karena sekolah ke Jepang dengan biaya sendiri memerlukan investasi finansial yang begitu besar, harap dipikir dalam dalam apakah anda benar benar niat lahir bathin dan punya stok semangat segudang untuk menjalani hidup yang keras di Jepang. Jika anda benar benar niat ditambah ada persediaan semangat segudang silahkan datang. Jika tidak, saya sarankan tidak usah datang karena hanya akan menghambur hamburkan uang anda. Sayang sekali kalau uang segitu dihambur hamburkan. Lebih baik uang yang begitu banyak dijadikan modal untuk membangun usaha atau meneruskan sekolah di Indonesia.

c. Resiko Studi

ストレス Alias Stress ^_^

Selanjutnya adalah resiko studi. Maksud saya karena ada keharusan bekerja seusai sekolah maka ada efek berantai lain yang timbul salah satunya adalah jam untuk belajar menjadi berkurang. Jadwal yang padat menjadikan badan terlanjur capek sehingga kadang kadang kita tidak mampu konsentrasi untuk belajar, menghafal, mengerjakan laporan atau tugas akhir. Yang sering terjadi adalah bisa belajar atau mengerjakan tugas tapi hasilnya tidak maksimal. Hal yang paling buruk bisa juga terjadi misalnya saja tidak bisa menyelesaikan tugas akhir sehingga tidak lulus. Kenyataan memang seperti itu, ada juga yang gagal studi karena misalnya saja tidak bisa meneruskan sekolah, tidak bisa lulus atau berhenti dijalan karena masalah finansial.

Bagi pelajar biaya sendiri perpaduan berbagai masalah sering kali terjadi misalnya saja problematika uang sekolah dengan tugas akhir. Keduanya sama sama penting menjadikan hati bingung harus bagaimana menyikapinya. Mau mengerjakan tugas akhir tapi ternyata waktunya untuk kerja. Sekali lagi hal seperti ini sering kali terjadi bahkan bisa dikatakan setiap hari mengalaminya. Kalau sudah terjadi diserahkan kembali ke masing masing karena memang kondisi seseorang berbeda beda.

2. Keuntungan Yang Bisa Di Dapat Jika Bisa Lulus Sekolah

Sekarang gilirannya bicara keuntungan jika bisa lulus kuliah di Jepang. Masak bicara rugi dan resiko melulu. Gak adil khan. Sebagai muslim saya percaya dibalik kesusahan pasti ada kemudahan. Tidak akan kok susah terus menerus. Itu sangat saya percayai dan menjadikan bahan bakar yang luar biasa bagi kelangsungan semangat didalam dada saya pribadi. Ketika saya sekolah dulu begitu banyak sekali persoalan yang muncul mulai dari persoalan materi, sensei, thesis sampai masalah finansial. Tapi saat itu saya selalu ingat satu hal, jika bisa lulus insya alloh saya akan dapat kerja di Jepang dan hidup akan berubah menuju kearah yang lebih baik. Alhamdulillah tidak meleset.

Kembali ke persoalan keuntungan tadi, kira kira apa saja yang bisa diperoleh jika bisa lulus kuliah di Jepang. Mari kita bahas satu per satu.

a. Peluang Bekerja Di Perusahaan Jepang Di Jepang

Ekspresi Ketika Gajian ^_^

Yang ini jelas sekali. Setelah lulus kuliah di Jepang, kita bisa masuk bekerja ke perusahaan Jepang. Nanti visanya ganti dari visa belajar ke visa kerja. Peluang ini terbuka luas sekali. Apalagi sekarang di Jepang penduduk usia produktif lebih kecil dibanding penduduk usia tua. Meskipun orang asing apabila bisa lulus kuliah di Jepang berarti memenuhi standar untuk bekerja di Jepang.  Aturan resmi dari imigrasi Jepang soal visa kerja adalah bahwa yang bisa mendapatkan visa kerja adalah orang yang lulus kuliah di Jepang. Visa kerja bisa diperpanjang terus menerus, jadi jika anda niat untuk sampai pensiun kerja di Jepang juga tidak masalah. Karena aturan visa memungkinkan untuk itu.

Bagaimana dengan gajinya? Yang biasa terjadi adalah standar penggajian disamakan dengan orang Jepang. Jadi selain gaji pokok nanti akan ada uang transport, uang makan, tunjangan rumah, tunjangan istri, tunjangan anak, uang lembur dan sebagainya. Lumayan khan hehehe. Ketika saya bisa lulus dan masuk ke perusahaan Jepang saya merasa sangat bersyukur. Ini seperti mendapatkan obat untuk mengobati luka saya di masa lalu. lebay ya hehehe.

b. Peluang Bekerja Di Indonesia

Jika tidak ingin bekerja di Jepang, setelah lulus bisa pulang dan bekerja di Indonesia. Peluang bekerja di Indonesia terbuka luas diseluruh sektor. Misalnya tenaga guru, dosen, perbankan, instansi pemerintah dan sebagainya. Saya yakin ijazah yang diperoleh mempunyai nilai sendiri, apalagi jika masuk ke perusahaan Jepang di Indonesia. Saya yakin mereka akan wellcome dan menerima dengan senang hati. Jumlah perusahaan Jepang di Indonesia dari tahun ke tahun terus bertambah seiring dengan keinginan orang Jepang untuk ekspansi keluar Jepang karena pasar Jepang bisa dikatakan stagnan bahkan cenderung menurun.

Sebagai contoh saja, saat ini Thailand adalah negara di Asia Tenggara yang memproduksi mobil Toyota paling banyak. Tapi saat ini di Indonesia sedang dibangun pabrik Toyota yang baru yang akan selesai tahun 2015. Jika selesai Indonesia adalah produsen terbesar mobil Toyota di wilayah Asia Tenggara. Dibawah Toyota ada ratusan perusahaan penyuplai komponen toyota yang saat ini juga sedang memperbesar kapasitas produksinya untuk mengimbangi Toyota. Dengan naikknya kapasitas produksi berarti ada permintaan tenaga kerja dari level operator sampai manajemen. Ini baru Toyota, masih banyak sekali perusahaan top Jepang yang lain di Indonesia. Mereka semua adalah pasar yang menjanjikan bagi lulusan Jepang.

c. Bekerja Di Jepang Kemudian Meneruskan Kuliah Di Jepang Atau Luar Jepang.

Peluang ini juga terbuka luas. Misalnya saja lulus S1 terus bekerja dulu 2-5 tahun setelah itu meneruskan kuliah lanjut S2 di Jepang. Ini terbuka dan memungkinkan sekali. Kerja 2-5 tahun terus pulang Indonesia untuk melanjutkan kuliah juga bisa. Mau lanjut diluar Jepang juga bukan hal tidak mungkin asal manajemen keuangannya diperbaiki. Jangan karena sudah bekerja terus keuangannya tanpa kontrol jor joran. Kalau seperti itu ya tidak akan bisa.

d. Bekerja Di Jepang Kemudian Pulang Untuk Mendirikan Usaha

Negara Membutuhkan Entrepreneur Sejati

Poin yang keempat ini juga memungkinkan sekali untuk dilakukan. Dipuas puasin bekerja di Jepang untuk mengumpulkan modal kemudian pulang ke Indonesia untuk memulai mendirikan usaha. Sabar jadi buruh di Jepang kemudian suatu saat pulang ke Indonesia kemudian mendirikan usaha sehingga bisa jadi owner. Kenapa mungkin sekali? Alasan pertama adalah pengalaman hidup di Jepang akan mempunyai andil dalam pendirian usaha. Kita tahu pengalaman adalah guru terbaik sehingga pengalaman hidup di Jepang akan mengilhami langkah di Indonesia. Kedua adalah sumber dana yang dibutuhkan untuk memulai usaha bisa disiapkan di Jepang karena pengaruh nilai kurs dimana mata uang yen lebih kuat dari rupiah. Ketiga adalah adanya jaringan yang terbentuk selama di Jepang akan membantu dalam proses memulai bisnis. Masak sih hidup lama di Jepang,  sekolah dan kerja di Jepang kok tidak ada teman sama sekali. Saya kira hal seperti itu tidak ada. Minimal jaringan orang Indonesia akan terbentuk dengan sendirinya.

Inilah sekilas tentang baik buruk dan resiko studi ke Jepang dengan biaya sendiri menurut versi saya. Saya yakin masih ada yang lain yang tidak sempat keluar dari kepala saya. Jika ada yang mau menambahi saya sangat berterimakasih. Intinya karena ini meyangkut tentang masa depan kita jadi lebih baik dipertimbangkan kembali. Dipikirkan kembali berulang ulang kali dari berbagai segi.  Jangan lupa berdoa dan minta pendapat dengan orang tua kita.

Salam hangat dari Aichi, Jepang.

Mencoba Menghitung Berapa Biaya Kuliah Di Jepang

Ohayou Gozaimasu! Tak terasa sudah sampai hari sabtu lagi, jadwal dimana saya biasanya mengurus kembali blog ini. Kali ini saya mencoba untuk sedikit membahas mengenai biaya kuliah di Jepang. Mungkin saja postingan saya tentang biaya kuliah di Jepang ini bisa membantu terutama bagi yang mau kuliah di Jepang dengan biaya sendiri karena bagi yang biaya sendiri perkiraan biaya sangat diperlukan dan harus dipersiapkan jauh hari sebelum datang ke Jepang.

Jika dibandingkan dengan kuliah di Indonesia, biaya kuliah di Jepang tentu saja jauh lebih mahal. Ya iyalah….masak lebih murah, khan gak mungkin. Jika kita mengambil perbandingan yang lain, misalnya saja biaya kuliah di Indonesia dibandingkan dengan negara lain misalnya Australia atau Amerika, hasilnya juga gak akan beda, tentu saja biaya kuliah di Australia dan Amerika jauh lebih mahal. Tapi mahalnya biaya pendidikan di Jepang, Australia, Amerika atau negara maju yang lain tentu saja berbanding lurus dengan ilmu yang bisa diperoleh selama studi. Kalau orang jawa bilangnya ‘ono rego ono rupo’ …. ada harga, ada mutunya. Karena bagaimanapun juga faktor latar belakang institusi pendidikan tempat studi seseorang mempunyai sumbang sih yang tidak sedikit bagi mutu lulusannya selain faktor kemauan untuk belajar dari individu yang bersangkutan.

Kembali ke soal biaya kuliah di Jepang. Oh iya, saya garis bawahi ini adalah biaya kuliah di Jepang, saya tidak membahas biaya kuliah di negara lain karena saya tidak tahu dan tidak punya pengalaman studi di luar Jepang. Supaya lebih detail dan mengena saya mencoba mengupas satu persatu, dibagi berdasarkan jenjang pendidikan dan saya sertai contoh  yang saya ambil dari institusi pendidikan di Jepang.

1. Biaya Sekolah Bahasa Jepang

Pengalaman saya pribadi, sekolah bahasa Jepang atau dalam bahasa Jepang disebut dengan nihongo gakkou, adalah pintu saya masuk ke Jepang. Jadi awal mula dan institusi pendidikan yang pertama kali saya masuki di Jepang adalah sekolah bahasa Jepang. Peran sekolah bahasa Jepang ini sangat penting terutama bagi yang ingin meneruskan kuliah di Jepang. Di sekolah bahasa Jepang kita diajari seluk beluk bahasa Jepang mulai dari kosakata, grammar atau bunpou, kanji sampai peribahasa. Karena diajari langsung oleh orang Jepang dan suasana lingkungan yang mendukung, kemampuan bahasa Jepang seseorang yang belajar di Jepang biasanya terdongkrak dengan cepat. Pengamatan saya pribadi, pelajar yang tidak punya background pendidikan bahasa Jepang di Indonesia, kemudian belajar 2 tahun di sekolah bahasa Jepang di Jepang kemampuannya secara umum akan sama, bahkan ada yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan lulusan S1 bahasa Jepang yang belajar 4 tahun di Indonesia. Biasanya lulusan sekolah bahasa Jepang menang di kanji dan listeting. Karena alasan itu tadi, faktor sensei dan lingkungan yang mendukung proses belajar bahasa Jepang.

Terus mungkin ada pertanyaan berapa biaya untuk sekolah bahasa Jepang di Jepang? Kalau bicara biaya sekolah bahasa Jepang, maka akan kita dapatkan data yang berbeda beda. Saya kira ini wajar dan harap maklum karena masing masing sekolah bahasa menetapkan biaya yang berbeda seperti halnya sekolah atau universitas di Indonesia. Sebagai contoh saja, saya sertakan biaya sekolah bahasa Jepang di Jepang untuk 1 tahun dengan merujuk pada biaya sekolah sebuah sekolah bahasa di daerah Nagoya yaitu Nagoya International School Of Japanese Language.

Jangka Waktu

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

April – September

Oktober – Maret

Total

1 Tahun

20.000 Yen

80.000 Yen

270.000 Yen

270.000 Yen

640.000 Yen

Sebagai perbandingan saya sertakan biaya sekolah bahasa untuk 1 tahun di daerah Shinjuku, Tokyo yang bernama Shinjuku Japanese Language School.

Jangka Waktu

Biaya Lain

Biaya Masuk

Biaya SPP

April – September

Oktober – Maret

Total

1 tahun

40.345 Yen

40.000 Yen

330.000 Yen

330.000 Yen

770.345 Yen

Diatas adalah sedikit perbandingan contoh biaya sekolah bahasa di dua sekolah bahasa yaitu Nagoya International School Of Japanese Language di Nagoya dan Shinjuku Japanese Language Shool di Tokyo. Sekali lagi biaya sekolah bahasa tidak sama karena tergantung dari sekolah bahasa masing masing.

2. Program Sarjana

Program bachelor atau setingkat sarjana di Jepang bisa ditempuh dalam waktu 4 tahun seperti halnya di Indonesia. Soal biaya, untuk universitas swasta sangat tergantung pada jurusan dan  universitasnya. Akan saya coba untuk sedikit memberikan gambaran tentang berapa biaya untuk program sarjana di Jepang. Sebagai contoh saya ambil biaya kuliah di jurusan tehnik mesin tahun pertama di Nihon University atau Nihon Daigaku di daerah Tokyo.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya Praktek

Biaya Gedung

Biaya SPP

April – September

Oktober – Maret

Total

30.000 Yen

260.000

Yen

80.000 Yen

220.000 Yen

450.000

Yen

450.000

Yen

1.490.000

 Yen

Selanjutnya marilah kita lihat berapa biaya kuliah jenjang sarjana di universitas negeri di Jepang. Saya ambil contoh biaya kuliah jenjang sarjana di Hiroshima University atau Hiroshima Daigaku. Biaya kuliah berlaku sama untuk semua jurusan.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

30.000 Yen

282.000

Yen

267.900

Yen

267.900

Yen

846.000

Yen

Jika kita bandingkan akan terlihat perbedaan yang cukup besar diantara 2 universitas tersebut, apalagi jika nilainya dikurs-kan ke dalam rupiah.

3. Research Student

Didalam postingan saya yang lain telah saya jelaskan bahwa research student dalam paradigma universitas di Jepang adalah sebuah program untuk mempersiapkan diri memasuki jenjang pendidikan S2 atau S3. Untuk lebih jelasnya apa itu research student akan saya usahakan untuk membahasnya dalam judul yang lain. Sekarang mari kita lihat dulu berapa kira kira biaya yang diperlukan. Seperti halnya sekolah bahasa Jepang, biaya research student juga berbeda beda tergantung pada jurusan dan universitas yang menyelenggarakan.

Sebagai perbandingan saja, akan saya coba jelaskan biaya research student dari 2 universitas yang berbeda. Yang pertama, adalah biaya research student untuk 1 tahun di sebuah universitas negeri di daerah Aichi yaitu Aichi University of Education atau Aichi Kyoiku Daigaku. Biaya ini saya dapatkan langsung dari website Aichi University of Education untuk tahun ajaran 2012/2013 :

Jangka Waktu

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

1 Tahun

9800 Yen

84.600 Yen

178.200 Yen

178.200 Yen

450.800 Yen

Perbandingannya adalah biaya research student untuk 1 tahun di jurusan manajemen di sebuah universitas swasta di daerah Tokyo yaitu Nihon University atau Nihon Daigaku tahun ajaran 2012/2013.  Data ini saya peroleh langsung dari website jurusan manajemen, Nihon University.

Jangka Waktu

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya Bimbingan

Total

1 Tahun

35.000 Yen

50.000 Yen

120.000 Yen

205.000 Yen

Jujur saja, saya juga kaget dan baru tahu setelah saya bandingkan kok biaya research student di Nihon University jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya research student di universitas negeri di Jepang.

4. Biaya Kuliah Master

Selanjutnya adalah biaya kuliah untuk program master di Jepang. Menurut penelusuran saya, dalam satu universitas swasta biaya kuliah master bisa berbeda tergantung dari jurusannya. Tapi di universitas negeri hal itu sepengetahuan saya tidak ada, artinya biaya kuliah master sama tidak tergantung jurusan. Sebagai contoh saja, dibawah ini adalah biaya master tahun pertama di program bisnis di Nanzan University atau Nanzan Daigaku di daerah Nagoya.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya

Lain

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

30.000 Yen

300.000 Yen

105.000

Yen

287.000

Yen

287.000 Yen

1.009.000

Yen

Untuk perbandingan dibawah ini adalah biaya kuliah master di sebuah universitas negeri di daerah Nagoya yaitu Nagoya Institute of Technology atau Nagoya Kogyou Daigaku. Sekali lagi biaya kuliah master sama untuk semua jurusan.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

30.000 Yen

282.000

Yen

267.900

Yen

267.900

Yen

846.000

Yen

Diatas adalah contoh biaya dari 2 universitas. Setelah kita amati memang ada perbedaan yang cukup banyak antara biaya kuliah diantara 2 universitas tersebut.

5. Program Doktor

Selanjutnya adalah program doktor. Kalau kuliah doktor di Indonesia biayanya selangit, di Jepang juga sama, jadi sama sama selangit hehehe. Mahal ya pasti karena memang jenjangnya beda banget. Sama seperti sebelumnya saya mencoba untuk membandingkan biaya program doktor antara 2 universitas. Contoh yang pertama saya ambil dari biaya program doktor bidang manajemen tahun pertama di sebuah universitas swasta di daerah Tokyo yaitu Kokushikan Daigaku.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya Praktek

Biaya Gedung

Biaya SPP

April – September

Oktober – Maret

Total

30.000 Yen

290.000 Yen

20.000 Yen

135.000 Yen

   325.000      Yen

325.000   Yen

1.125.000

 Yen

Bagaimana dengan biaya program doktor di universitas negeri. Ternyata setelah saya perhatikan, biaya program doktor di unversitas negeri sama dengan biaya program master. Sebagai contoh saja, biaya program doktor di Hiroshima University untuk semua jurusan adalah sebagai berikut.

Biaya Ujian

Biaya Masuk

Biaya SPP

Total

April – September

Oktober – April

30.000    Yen

282.000

Yen

267.900

Yen

267.900

Yen

846.000

Yen

Itulah sekilas gambaran biaya kuliah di Jepang dari program bahasa Jepang, jenjang sarjana, research student, master sampai doktor. Sekali lagi, meskipun ini saya ambil langsung dari website masing masing institusi atau universitas tapi tetap saja merupakan sebuah gambaran saja. Yang perlu diingat, biaya di universitas swasta berbeda tergantung jenjang dan jurusan yang diambil. Sedangkan untuk universitas negeri, biaya kuliah berlaku umum artinya sama pada setiap jurusan.

Semoga saja postingan sederhana ini berguna terutama bagi yang ingin melanjutkan kuliah di Jepang. Oh iya, saya tidak bermaksud menakut nakuti dengan angka angka yang apabila dikurs-kan ke rupiah jumlahnya luar biasa besar. Karena kenyataanya memang seperti itu. Tapi jika anda sudah di Jepang, sekolah dan bekerja disini, tahu biaya hidup dan harga harga di jepang, maka anda akan bisa membayangkan dengan kacamata kehidupan Jepang bukan kacamata kehidupan di Indonesia. Jika sudah begitu, hasil imajinasi akan berbeda jauh. Kalau saya pribadi berpendapat, mahal sih mahal….tapi masih bisa terjangkau dengan tangan kita apabila kita sungguh sungguh untuk itu.

Semoga bermanfaat dan tetap semangat untuk menggapai cita cita kita!

Aichi, 26 Mei 2012

Tips Mencari Part Time Job Di Jepang

Di Jepang jumlah pelajar asing baik biaya negara maupun biaya sendiri dari tahun ke tahun semakin banyak. Saat ini jumlah pelajar asing paling banyak tetap di pegang oleh pelajar China baru diikuti kemudian oleh Korea Selatan. Dalam proses belajar bahasa Jepang, pelajar dari China diuntungkan dengan modal huruf kanji. Kanji China dan Jepang memang tidak sama persis tapi paling tidak pelajar China tidak kaget dengan huruf kanji yang aneh dan jumlahnya ribuan dan mereka juga sudah tahu strategi atau tehnik menghafal kanji.  Pelajar dari Korea Selatan diuntungkan dengan pola kalimat yang sama dengan antara bahasa Korea dengan Bahasa Jepang. Pengamatan saya pelajar Korea Selatan rata rata juga pintar dalam pelajaran kanji bahkan mampu menyaingi pelajar China.

Kembali ke poin pelajar dengan biaya sendiri. Pelajar dengan biaya sendiri dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah shihiryuugakusei. Shihi artinya biaya sendiri, sedangkan ryuugakusei artinya pelajar asing. Dalam kamus pelajar asing dengan biaya sendiri, yang namanya part time job boleh dikatakan adalah ‘nyawa kedua’ karena dengan penghasilan dari part time job tersebut bisa makan, bayar apartemen, bayar sekolah, bayar telepon, internet dan aktivitas yang lain. Jadi kalau gak ada part time berarti gak bisa makan, gak bisa bayar sekolah, gak bisa sewa apartemen dan lain sebagainya. Ya beginilah resiko pelajar dengan biaya sendiri. Tapi resiko ini tidak bisa dihindari, jadi mau gak mau harus kita hadapi dengan lapang dada dan semangat membara. Disaat seperti ini kita harus ingat tujuan ke Jepang mau ngapain, orang tua kita yang bangga karena anaknya bisa sekolah di Jepang, cita cita tinggi yang kita gantungkan dilangit dan masa depan yang cerah jika kita mampu lolos dari fase perjuangan ini. Jangan menghindar karena menghindar sama saja dengan menyerah yang berarti tidak ada pemasukan dan jika sudah begitu tidak ada kata lain selain pulang ke Indonesia.

Karena soal part time atau dalam istilah bahasa Jepang disebut arubaito ini begitu penting, maka kali ini saya mencoba untuk mengangkat topik tentang tips bagaimana mencari part time di Jepang. Harapan saya semoga sedikit banyak bisa menjadi memberikan gambaran bagi yang ingin mengadu nasib sekolah sambil kerja di Jepang. Tapi sekali lagi, poin terpenting terdapat pada diri kita sendiri yaitu semangat pantang menyerah demi meraih cita cita yang kita gantungkan dilangit sebelum datang ke Jepang. Dibawah ini sedikit demi sedikit akan saya ulas tips tips mencari arubaito atau part time di Jepang.

1. Menulis Curiculum Vitae Yang Baik Dan Menarik Dalam Bahasa Jepang

Sama seperti di Indonesia, dalam proses mencari arubaito kita diwajibkan untuk menulis curiculum vitae atau dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah rirekisho. Format rirekisho ini sudah tetap dan dijual di convinience store atau konbini misalnya saja Lawson, Family Mart, Seven Eleven, Sunkus dan lain sebagainya. Di rirekisho kita diharuskan mengisi nama, tanggal lahir, alamat, nomer telepon, foto berwarna, riwayat sekolah, riwayat kerja, lisence yang kita miliki, hobi, keahlian yang kita miliki dan lain sebagainya. Yang perlu digaris bawahi adalah tulis rirekisho ini dengan jelas, benar tanpa ada tipex dan tulis dengan bahasa Jepang. Jika anda masih belum mengerti bahasa Jepang bisa minta bantuan sama senior atau sensei di sekolah. Rirekisho ini adalah gambaran tentang diri anda dan akan dibaca oleh pihak perusahaan jadi tulis semenarik mungkin.

2. Meminta Bantuan Pihak Sekolah atau Kampus

Pengalaman saya pribadi waktu di sekolah bahasa, saya pernah meminta informasi arubaito pada pihak sekolah dan pihak sekolah bersedia membantu. Peran sekolah ini sangat penting terutama bagi yang baru masuk Jepang, yang masih belum tau sana sini, belum banyak teman dan bahasa Jepang masih belum lancar. Bantuan dari pihak sekolah bisa menjadi jalan yang mulus untuk mendapatkan arubaito dengan cepat. Jadi bagi yang baru masuk Jepang jangan takut atau ragu ragu tanya kepada pihak sekolah, karena mungkin saja rejeki anda lewat tangan pihak sekolah. Bagi yang sudah masuk universitas juga tidak ada salahnya meminta bantuan pihak kampus. Kadang kadang ada arubaito bagi mahasiswanya sendiri, misalnya menjaga perpustakaan diwaktu malam hari.

3. Meminta Bantuan Jaringan Orang Indonesia

Tips ketiga ini juga penting dan cukup manjur saat kita butuh arubaito. Pelajar Indonesia di Jepang biasanya membentuk organisasi sebagai wadah berkumpul, bersilaturahmi dan berbagi pengalaman. Misalnya saja Persatuan Pelajar Indonesia, Kelompok Keluarga Muslim atau sekedar klub main futsal. Dari perkumpulan seperti ini kita bisa mendapatkan informasi arubaito. Keuntungan lainnya karena informasi ini berasal dari teman orang Indonesia, maka ibaratnya kita ada yang membawa sehingga kemungkinan diterima juga lebih besar. Pesan saya, ketika datang ke Jepang carilah teman sebanyak banyaknya. Link teman yang banyak akan membantu anda menemukan arubaito dengan cepat karena di Jepang juga berlaku makin banyak teman makin banyak rejeki. Sekali lagi siapa tahu rejeki berupa informasi arubaito bisa anda dapatkan dari kalangan internal orang Indonesia.

4. Mencari Sendiri Lewat Majalah

Bagi yang sudah lumayan mahir dalam membaca hiragana, katakana dan kanji, tips nomor empat ini patut dijadikan acuan. Di Jepang banyak sekali majalah majalah khusus yang berisi tentang lowongan pekerjaan baik itu part time, full time, karyawan kontrak sampai karyawan tetap. Majalah majalah ini biasanya diterbitkan seminggu sekali dan bisa didapatkan dengan gratis di konbini. Disetiap daerah nama majalahnya bisa berbeda beda tapi isinya sama yaitu lowongan pekerjaan. Di majalah nanti akan dijelaskan jenis pekerjaannya apa, gajinya berapa, jam kerja, kontak person perusahaan dan ketentuan ketentuan yang lain. Sebagai contoh saja nama majalah misalnya domo, town work, change, kyujin dan lain sebagainya.

5. Berani Menelepon Sendiri

Tips terakhir yang bisa saya sampaikan adalah keberanian untuk menelepon sendiri ke pihak perusahaan. Keberanian menelepon sendiri ini bisa menjadi nilai plus sehingga bisa diterima. Sikap cuek kita juga diperlukan dalam kondisi seperti ini karena mungkin akan ada pertanyaan pertanyaan yang tidak kita pahami karena kemampuan bahasa Jepang yang terbatas. Tapi sekali lagi, cuek saja toh kita gak kenal orang yang kita telpon, mukanya seperti apa kita juga tidak tahu. Jadi cuek saja, kalau sudah mentok tidak paham bahasanya ya tinggal tutup telponnya saja….selesai, gitu saja kok repot hehehe. Jika dalam komunikasi lewat telepon ini berlangsung lancar, kemungkinan diterima juga besar karena kita dianggap mempunyai kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Jepang yang memadai.

Ulasan diatas adalah tips tips mencari arubaito di Jepang. Sekali lagi semangat dan keaktivan kita tetap menjadi kunci utama dalam proses mencari arubaito.

Semoga kesuksesan selalu dilimpahkan Alloh SWT kepada kita. Amin. Salam Perjuangan!